Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Congratss!"
"Marcelll, selamattt! Lu mau apa biar gue bayarin,"
Berbagai ucapan dan kalimat baik lainnya menguar di dalam kelas 12 MIPA 6, merayakan kemenangan tim basket Marcel yang berhasil masuk fantastic four atau 4 besar.
"Makasihh, makasihh. Doain biar bisa masuk final ya,"
"AMINNN," teriakan paling kencang tentu saja dari Wina dan aku, agar bisa menonton Hansel lagi.
"Kalo masuk final, sekelas makan-makan dibayarin Marcel," kata Kevin mengompori.
"Yeeey!" teriak para anak laki-laki yang kegirangan.
"Mainnya masih lusa kan? Mending gue les," ucap Aaron santai.
"Kurang ajar lu jadi temen,"
"Ayolah nonton bareng. Eh tapi, bukannya ngedoain, tapi kalo misalkan nih ya misalkannn—duh gimana ngomongnya ya," Wina menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ragu-ragu untuk melanjutkan perkataannya.
"Tau gua tau," kata Marcel.
"Apaan sih?" tanya Rina. Jangan lupa, di setiap percakapan sekumpulan orang, pasti selalu ada orang yang semacam ini.
"Besok lawan SMA 20 tau kan? Kemarin mereka abis menang lawan SMA Homme, padahal biasanya Homme selalu masuk final terus. Takutnya besok itu pertandingan terakhir sekolah kita, tapi ya jangan sampe lah," jelas Marcel, raut wajahnya berubah menyiratkan rasa pesimis.
"Lagian ini sejarah sekolah kita masuk fantastic four. Nonton yuk sekelas gitu bareng," ajakku.
Ah, iya ya, bagaimana jika besok lusa adalah pertandingan terakhir sekolah kami? Yang artinya, sudah tidak bisa menonton Hansel lagi? Tapi benar kata Rina, setidaknya sekolah kami sudah masuk fantasticfour, karena ini pertama kalinya dalam sejarah SMA Bakti Bangsa. Baiklah, nanti malam aku akan berdoa untuk mereka para pemain.
"Males suporterannya gue," ujar Gavi yang sedari tadi asik bermain gitar.
"Lah emang dari kemarin kita suporteran? Engga lah," balasku.
"Liat sikon besok deh," kata Gavi akhirnya.
🏀 🏀 🏀 🏀 🏀
Aku melihat ke arah jam dinding, 10 menit lagi bel istirahat berbunyi. Aku mengeluh dalam hati, kenapa 10 menit terasa begitu lama. Aku sudah bosan menggambar perspektif kursi yang tidak selesai-selesai.