[20] Alvaro

2.6K 141 83
                                        


Sebelum part ini dimulai, saya mau mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang sudah berpartisipasi dalam voting di part sebelumnya. Ada tiga pilihan yang ditawarkan. Dua pilihan buatan saya, dan satu pilihan buatan pembaca.

Hasilnya apa?

Pilihan pembaca menang. Wkwkwk.

Pilihan dari Rusa2621 dipilih lebih banyak dibandingkan pilihan nomor 2. Jadi, congratulations buat Rusa, entah siapa nama aslinya karena saya nge-DM belum dibalas, hehe. Yang berarti, Rusa akan masuk ke dalam cerita ini di part ini, ya. Sama seperti pembaca sebelumnya kayak Billy dan Little Zhan.

Nah, ini agak membuat saya tertantang karena saya belum menyiapkan plot untuk pilihan yang menang ini. Saya hanya punya plot untuk pilihan 1 dan 2. Tapi ternyata pilihan 3 menang, sehingga saya harus menyusun lagi plot baru.

Apa pun yang terjadi di part ini, semua gara-gara plot baru ya. HAHAHA. (Enggak mau disalahin.)

Oke, silakan membaca!


==============


Kristof percaya, pilihannya tak hanya dua. Sama seperti spektrum warna yang membentang dalam jutaan kemungkinan, Kristof tak mau dua pilihan itu menjadi satu-satunya yang tersedia. Namun dia tak punya alternatif lain. Dia tak sanggup mencari ide dalam waktu yang singkat ini.

Yang bisa Kristof lakukan adalah menawarkan, "Atau kita bertaruh?" katanya, sambil melangkah maju dengan berani. Tersenyum getir.

Aidan menoleh dan mengerutkan alisnya. "Sob, elo mundur aja, enggak perlu—"

Kristof memotongnya dengan mengangkat tangan. Tanpa menoleh, Kristof berkata, "Sebelum semua terlambat, biar aku aja yang maju, Bang."

"Enggak—"

Aidan hendak merangsek maju, menghentikan Kristof. Namun Kristof telanjur membangun kubah tak kasat mata di sekeliling Aidan, membuat cowok Naturalistic itu terkurung. Aidan menabrak dinding udara yang dipadatkan, memukul-mukulnya, dan berteriak. Tak ada suara yang keluar.

Aidan mencoba mengendalikan alam yang berada di luar kubah. Hanya saja Kristof mengacaukan konsentrasi Aidan dengan memainkan tekanan udara di dalam kubah. Satu bagian kubah ditonjolkan ke dalam, seperti menonjok adonan roti yang sudah mengembang. Lalu Aidan tiba-tiba terlempar ke sisi lain kubah.

Kristof mempelajari metode ini sebelum audisi kedua kemarin. Dia sendiri tak menyangka masih mengingat caranya. Kristof menamainya teori Pintu Minimarket. Ketika di-push (dorong), tekanan udara di dalam ruangan akan naik, maka benda-benda akan bergerak menjauhi pintu. Ketika di-pull (tarik), tekanan udara dalam ruangan menurun, sehingga benda-benda di dalamnya bergerak mendekati pintu.

(Kecuali kamu sejenis orang Indonesia yang masuk Indomaret dan mengabaikan tulisan TARIK dan DORONG di pintu, mungkin kamu akan kesulitan memahaminya.)

Jadi ketika didorong masuk, Aidan terlempar ke belakang. Ketika bagian kubah ditarik keluar, seperti menarik seiris piza dari lelehan keju yang merenggang panjang, Aidan terlempar mendekati Kristof.

Aidan terkapar tak berdaya di atas tanah, napasnya terengah-engah. Aidan sudah siap melakukan sesuatu dengan kekuatan Naturalistic-nya, tetapi dia urung saat melihat Kristof sudah berdiri di depan kubah. Menatap dirinya tanpa ekspresi.

"Perasaanku emang recehan, cuma aku yang amatir," kata Kristof sambil tersenyum sebelah. Karena Kristof yang mengontrol udara di sekitar dan dalam kubah, Kristof sudah menentukan suara siapa yang bisa keluar, dan suara siapa yang dikedapkan. "Aku, Kristof, udah bisa atur nafsu gairahku."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 30, 2021 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

InteligensiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang