[12] Flock Butterfly

604 80 2
                                        


"What the caterpillar calls the end of the world the master calls a butterfly." Richard Bach.

...

Kristof tidak memahami mengapa mereka harus berkumpul di dalam toilet perempuan. Memang, pada akhirnya, Kristof membangun sebuah kubah yang membuat flock-nya menghilang sepenuhnya. Dalam artian, orang-orang tak melihat apa pun berada di sana, padahal ada enam orang sedang berkerumun dalam satu kubah kedap suara dengan radius dua meter saja. Dari dalam bisa melihat kondisi di luar. Namun dari luar, tak bisa melihat apa pun berada di sana. Yoshi bahkan menambahkan sejenis lapisan yang membuat seseorang merasa tak mau melewati area kubah tersebut.

"Restoran aman. Ada yang bikin ulah, tapi dia langsung disqualified," ujar Alaiza sambil melipat tangan di depan dada. "Kayak ada satu flock lengkap gitu, Interpersonal-nya mencoba menghipnosis semua orang di restoran, tapi karena dia belum bertatap mata dengan setiap orang di ruangan, hipnosisnya gagal. Mereka ketahuan."

"Karena ada El Gran juga, sih di sana," tambah Kevin. "Visual-Spatial mereka tiba-tiba ngebikin cermin di sepanjang dinding. Enggak ada yang tahu dia yang bikin, tapi gue kenal sama si Visual-Spatial-nya. Itu orang barengan El Gran tahun kemarin."

"Ya, dan gara-gara cermin itu, warga biasa jadi tahu keberadaan flock lain itu. Mereka langsung dibawa sama elang."

"Bank juga sama," ujar Ikram malas-malasan. "Gue enggak tahu flock mana, El Gran apa bukan. Satu Musical-Rhytmic bikin sebank tidur semua. Terus satu Verbal-Linguistic-nya baca semua dokumen bank. Tapi enggak ada apa-apa di sana."

"Lobi dan function room semua aman," tambah Yoshi. "Saya keliling ruang-ruang umum di bagian utama gedung, tidak ada akses atau sesuatu mencurigakan. Tidak ada petunjuk keberadaan batu sapphire, pun tidak ada penjaga batunya di mana pun."

"Kayaknya ... kayaknya aku tahu jalan masuknya." Leila menarik napas panjang, membiarkan semua orang menoleh ke arahnya untuk mendengarkan. "Bukan di museum, kok. Bukan. Aku udah keliling seluruh museum, tapi enggak nemu apa-apa kecuali satu Naturalistic tolol yang mencoba menghidupkan rangka dinosaurus. Dia ngira dia bisa mengontrol display itu."

"Ada rangka dinosaurus?" ulang Ikram. "Itu museum apaan pake punya rangka dinosaurus segala? Geologi?"

"Well, that's odd," angguk Alaiza setuju.

"Namanya juga tempat audisi. Museumnya enggak jelas, kok. Tapi bukan itu yang mau kubilang," ujar Leila. "Kayaknya aku tahu siapa yang jaga batu sapphire di audisi ini."

"Larisa?" tanya Kevin. "Dia pemenang Visual-Spatial terakhir, kan?"

"Bukan. Aku yakin ini ... Mas Billy. Pemenang Turnamen tahun 2006." Leila menghela napas. "Dilihat dari spirit animal yang sedari tadi merangkul peserta yang dieliminasi, juga dari banyaknya elemen natural yang kulihat di museum. Dia seperti mencoba mengenang kembali pertarungannya dengan seorang Naturalistic di Turnamen. Jadi ... apa pun yang kita hadapi nanti, jangan lupakan elemen natural, oke?"

"Saya harus menyetujui saran Leila," tambah Yoshi. "Peserta akan fokus bahwa ini hanyalah audisi Visual-Spatial. Padahal, penjaga batu bisa saja mengecoh kita dengan kecerdasan lain yang enggak diduga."

"Dan, soal aksesnya ...." Leila menelan ludah. "Aksesnya ada di tempat yang enggak terduga."

"Jadi batunya enggak ada di antara museum, restoran, dan bank ini?" tanya Kevin.

Leila menggeleng. "Ruangan-ruangan publik ini, hanya pengecoh. Aku ... aku sempat lihat satu El Gran nemuin akses rahasia. Dia Intrapersonal. Setelah dia masuk, mendadak tujuh anggota flock-nya ikutan masuk berbondong-bondong. Dari bahasa wajah yang kubaca, sih ... kayaknya mereka sudah 100% yakin itu akses yang tepat."

InteligensiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang