Prologue

10.7K 295 17
                                    

"It's the circle of life, and it moves us all, through despair and hope, through faith and love, 'till we find our place on the path unwinding."- Rafiki (The Lion King)

.
.

.

Hujan rintik mengguyur sebuah areal pemakaman. Bau rumput basah terasa menenangkan. Tercampur dalam melodi air yang indah. Langit hitam seolah menjadi payung besar, menaungi kesedihan mendalam yang tercipta ke dalam sebuah tangisan lirih. Kehilangan terbesar pada sebuah bangsa.

Deretan limousine hitam terpakir rapi bagai semut yang berbaris. Para pengawal berseragam hitam berdiri formal penuh protokoler. Ribuan masyarakat berpayung berdiri diam dalam hening. Ikut bersedih akan kehilangan. Puluhan kamera di sekitar areal makam bersiap dalam posisinya. Siaran langsung akan segera dimulai. Keheningan semakin dalam, menunggu bagian paling krusial.

Dan, sebuah mobil ambulans dengan pengawalan ketat memasuki daerah pemakaman. Dua mobil mewah berwarna hitam mengikuti dari belakang. Massa mulai mengibarkan bendera kecil yang mereka pegang.

Beberapa dari mereka menangis terharu. Ambulans berhenti didepan gerbang. Dua orang petugas bergegas keluar dan membuka pintu belakangnya. Mereka mengeluarkan sebuah peti dengan selimut bendera korea selatan diatasnya. Tangisan massa mulai terdengar keras.

Kamera tv dengan tertib mengambil angle bagus untuk disiarkan. Mereka dengan sigap merekam semua moment. Seorang petugas berjalan menuju sebuah mobil dan membuka pintunya. Pria tinggi dengan setelan serba hitam keluar dengan anggun dan berkelas.

Seluruh kamera dan pasang mata kini terfokus padanya. Gadis berpostur tinggi dengan mata yang memerah dan aura mendung yang begitu kentara. Langkahnya pasti dan tanpa ragu. Selusin pengawal mengikutinya dengan patuh. Seluruh bangsa menahan nafas.

Hari ini, Raja Park Yohan dimakamkan. Meninggalkan duka mendalam bagi rakyat dan Putra mahkota harapannya, Park Chaeyoung.

Kim Jennie memarkirkan sepeda miliknya di depan sebuah kafe. Dengan sigap, Ia membuka kardus susu murni yang dibawanya dan membawanya masuk kedalam kafe. Suasana kota hening sepanjang hari. Pemakaman sang raja diadakan hari ini. Fokus seluruh masyarakat ada pada chanel televisi. Tapi, Jennie tak peduli. Ia tetap harus bekerja. Kematian sang raja bukan berarti hari libur untuknya.

"Paket susu!" teriaknya seperti biasa sambil membuka pintu kafe. Sebuah desisan menyambutnya dari dalam kafe. Beberapa pasang mata menatapnya tajam bagai predator. Pemilik kafe, seorang wanita cantik, tersenyum lemah menatapnya. Jennie membalasnya dengan dengusan.

"Mereka menatapku seolah aku pengganggu!" bisiknya tajam sambil menghampiri Yora-nama si pemilik kafe-dibalik meja kasir. Ia menurunkan kardus yang dibawanya.

"Kau baru saja kehilangan Raja, Jen. Perhatikan sikapmu." balas Yora pelan.

Jennie berdecih dan melirik televisi ditengah kafe. Siaran langsung dari pemakaman Raja Park yang sedang menampilkan sosok Putra Mahkota tengah melakukan penghormatan terakhir.

"Demi Tuhan, dia begitu sempurna. Putra Mahkota Park Chaeyoung!" pekik Yora pelan.

Jennie mengangkat bahu tak peduli.

"Aku pergi dulu." ucapnya dan keluar dengan langkah cepat. Ia kembali mengayuh sepedanya. Menembus jalanan licin karena hujan. Demi menyambung hidup dengan susu murni yang diantarnya.

Dialah Kim Jennie, wanita berumur 23 tahun, yatim piatu, dan seorang pengantar susu.

Beberapa orang percaya akan takdir. Katanya, ada sebuah benang merah yang terjalin pada setiap jari manusia. Membawa mereka pada takdir yang sudah tersurat oleh Yang Maha Kuasa.

Lalu, Bagaimanakah benang merah mementukan takdir mereka?

.

.

.

.

.

To be continue

Jangan lupa vote dan komennya ya kalo kalian suka cerita ini :)

Red String (Chaennie 🔞) [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang