Setelah mendapatkan kabar berpulangnya sang opa, kini Malica beserta keluarganya tengah melakukan perjalanan menuju Bali. Setelah kurang lebih 2 jam melakukan perjalanan, kini mereka telah tiba di kediaman sang opa yang sudah ramai akan orang.
"Kenapa opa pergi, ajik?" Tanya Malica dengan tangisan, memeluk Dion, yang merupakan kakak dari Mahalini. Dion tak menjawab, matanya juga berair.
"Malica, ke kamar dulu sama mami!" Titah Mahalini memanggil anaknya, Malica pun melepaskan pelukannya dengan Dion.
Setelah mengganti baju mereka dengan baju warna putih, kini mereka kembali melangkahkan kaki ke ruang tamu.
"Gek, sabar ya!" Ucap Ugek, kakak ipar dari Mahalini, menenangkan. Nuca mengelus pelan pundak sang istri yang kini tengah meratapi jenazah papanya.
"Kenapa gi-gi-gini, kak?" Tanya Mahalini dengan isakan tangisnya. Nuca yang mengerti pun mendekapnya erat dari samping. Malica yang juga tengah menangis pun, kini hanya bisa bersender di pundak Jody, pamannya. Tak terkecuali Rizky, yang memang juga dekat dengan mendiang sang opa, kini tak kuasa membendung tangisnya, tetapi ia berusaha menahan untuk tak terlihat sedih.
"Jod, udah bisa di aben ya?" Tanya seorang pemuka agama menghampiri Jody, Jody pun menoleh.
Setelah kurang lebih 2 jam melakukan prosesi pelepasan mendiang sang opa, kini keluarga Malica pun memutuskan untuk menetap di Bali untuk beberapa waktu.
"Udah ya, sayang." Ucap Nuca mengelus pelan rambut hitam istrinya yang masih terisak menatap potret papanya. Mahalini tak menjawab, ia hanya makin terisak. Malica pun segera menghampiri mamanya, memeluk erat sang mama.
"Mami, jangan nangis!" Malica berucap dalam dekapan, juga dengan tangis.
"Ma-ma-mi ga bisa, kak.." Balas Mahalini lirih, menatap anaknya dengan tatapan kosong. Malica semakin meringis kala melihat tatapan kosong yang sang mama tunjukkan.
"Mi!" Rizky yang sedari tadi hanya diam memperhatikan pun kini menghampiri mamanya yang tengah terisak, memberi pelukan untuk menenangkan.
"Adek, tumben peluk mami!" Mahalini berkata sedikit tertawa dalam tangisan itu.
"Ya udah, kita istirahat dulu ya." Titah Nuca yang dibalas anggukan oleh istri dan kedua anaknya. Mahalini yang masih lemas pun dituntun berjalan oleh Nuca dan juga Malica, sedangkan Rizky membawakan perlengkapan sang mama menuju kamar. Setelah itu pun, mereka tidur untuk mengistirahatkan diri setelah seharian mengurusi prosesi pemakaman Opa Gede.
*****
Setelah beberapa hari di Bali, dan tampaknya kini mereka mulai bisa mengikhlaskan kepergian Opa Gede, kini Mahalini mengajak suami dan kedua anaknya untuk pergi ke Pantai Sanur, pantai yang menyimpan banyak kenangan indah bagi Mahalini dan Nuca dahulu.
"Naik apa, mi?" Tanya Malica sembari memakai sepatu ber merek Jordan kesukaannya.
"Mobil aja, kak." Mahalini menjawab singkat, sembari memerhatikan anaknya yang tengah memakai sepatu itu, lalu mengernyitkan dahinya heran.
"Kamu mau ke pantai ngapain pake sepatu?" Mahalini bertanya dengan raut bingung.
"Iya juga sih, mi." Balas Malica memperlihatkan gigi putihnya, menyengir.
"Emang mau main di pasir gitu, mi?" Malica kembali bertanya pada mamanya.
"Iya lah kak! Seru tau! Papa sama mami dulu sering main ke pantai ini!" Mahalini membalas sembari menatap suaminya yang tengah duduk bersama Rizky.

KAMU SEDANG MEMBACA
MALICA (On Going)
Teen FictionDia, Malica. Seperti namanya, yang berarti 'ratu'. Dengan kehidupan sempurna yang dimilikinya, membuat ia bisa dengan mudah menggapai apa yang ia inginkan. Sampai suatu hari, ia bertemu dengan Mahesa, laki-laki dingin berhati batu, yang membuat ia...