"Baji-san?"
Pemilik nama yang dipanggil (Name) terkejut sedangkan (Name) mengerjapkan matanya sambil menutup payung transparan miliknya. Ia melirik ke atas jembatan penyebrangan dimana ada sosok Takemichi dan juga wakil divisi satu yang pernah dibuat babak belur Baji, Chifuyu yang sepertinya mengajak bertemu di jembatan penyebrangan.
Dibalik maskernya, (Name) diam-diam tersenyum.
Berkat badan mungilnya, sosoknya dapat bersembunyi di balik tubuh Baji sehingga Takemichi yang masih menatap punggung Baji tidak melihatnya hingga Takemichi dan Chifuyu pun pergi menjauh.
(Name) kembali menatap Baji yang diam dengan tatapan kosong.
"Baji-san, suka takoyaki tidak?"
Baji mengangkat kepalanya dan melihat (Name) yang tengah tersenyum. "Apa?"
"Mau takoyaki? Aku traktir lho!"
Baji sampai tidak menyadari jika (Name) sudah menariknya menuju kedai takoyaki pinggir jalan yang cukup ramai. Ia hanya bisa cengo dan pasrah saja dengan kelakuan (Name) yang sulit ditebak. Aroma sedap dari takoyaki yang tengah dimasak pria tua tampak sangat menggoda. Ia melirik (Name) yang berbinar-binar melihat makanan dari gurita itu.
"Ji-chan! Takoyaki-nya dua porsi ya!"
Pria tua itu mengangguk dengan senyumannya yang ramah. Tangan-tangan keriputnya masih lihai membalikan adonan bulat takoyaki. Sambil melihat pria tua itu memasak, (Name) memperhatikan menu yang ada selain takoyaki dan nampak sumringah mendapati adanya makanan lain.
"Ji-chan, aku juga mau taiyaki."
Baji tersentak mendengar nama taiyaki. Entah kenapa mengingatkannya dengan Mikey yang sering sekali memakan itu.
"Kau juga mau, Baji-san?"
Baji menggeleng. "Tidak usah."
"Baiklah. Taiyakinya satu porsi saja."
Pria tua itu mengangguk. Ia mempersiapkan dulu pesanan takoyaki sebelum membuat taiyaki. Dua porsi takoyaki sudah siap dan diberikan kepada (Name) yang berseru senang juga Baji yang sendari tadi hanya diam saja. Tak butuh waktu lama, satu porsi taiyaki pun telah siap.
(Name) sigap memberikan beberapa lembar uang ke pria tua itu dan dibalas dengan senyuman ramah. "Arigato ji-chan!"
Baji dan (Name) berlalu dari kedai itu. Baji menggelengkan kepalanya melihat kedua tangan (Name) penuh dengan makanan. (Name) nampak kesulitan untuk membuka maskernya. Ia berinisiatif berdiri di depan (Name), membuat gadis itu berhenti dan menatapnya bingung. Tangan bebasnya terulur untuk membukakan masker (Name).
"Kau rakus sekali. Lihat jadi susah 'kan!" gerutunya
"Soalnya aku lapar, Baji-san hehehe..." (Name) mengeluarkan cengirannya yang membuahkan helaan napas dari Baji.
Baji mengedarkan pandangannya dan melihat kursi panjang. Ia memberi kode untuk (Name) mengikutinya. Mereka berdua pun duduk di sana dan (Name) segera menghabiskan makanannya.
(Name) menatap binar bola takoyakinya yang terdapat potongan bawang goreng diatasnya lalu meniup-niupnya agar tak terlalu panas sebelum memasukan ke mulutnya dan merasakan sensasi enak yang luar biasa. Ia mengepalkan tangannya. "Umai... Baji-san cobalah..."
Baji tersenyum kecil melihat tingkah (Name) dan ikut memakan takoyaki. Rasanya tidak buruk.
Takoyakinya telah tandas. Kini, (Name) beralih ke taiyaki. Ia bergumam senang saat melihat roti berisi kacang merah yang berbentuk ikan. Ia bahkan bermain-main dengan makanan itu, menggerakannya seolah makanan itu memang berbentuk ikan asli. Bibirnya ikut maju seolah meniru bagaimana seekor ikan mengambil napas lalu terkekeh-kekeh kecil.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE GRIM REAPER [Hanma Shuji]
ФанфикшнKisah Hanma Shuji, lelaki yang mendapat julukan Grim Reaper (Dewa Kematian) yang bertemu dengan gadis yang menarik perhatiannya. ⚠️WARNING!!!⚠️ [Akan sedikit berbeda dari manga atau animenya] [Tokyo Revengers © Ken Wakui]
![THE GRIM REAPER [Hanma Shuji]](https://img.wattpad.com/cover/278471604-64-k151545.jpg)