31 Oktober
03.20 AM
Lenguhan lirih terdengar dari bibir yang pucat. Hanma yang terusik oleh lenguhan itu membuka matanya dan mencari asal suara itu yang ternyata berasal dari gadisnya. Ia terkejut mendapati tubuh gadisnya bergemetar dengan suhu tubuhnya panas. Ia menepuk-nepuk pelan pipi yang semakin merah.
"Hei, sayang."
Meski berat, (Name) membuka matanya. Ia tau orang yang tengah menatapnya khawatir itu Hanma walau dengan pandangan matanya yang memburam. Ia mengulas senyuman tipis. "Hanma-san..." ia meringis mendengar suaranya yang tercekat dan sakit sekali tenggorokannya.
Hanma segera bangkit. Ia melangkah lebar menuju dapur untuk mengambil kotak P3K yang sebelumnya pernah dilihatnya. Tanpa banyak bicara lagi, ia mengambil kotak itu dan membawanya kembali ke kamar. Hatinya melongos melihat (Name) meringkuk dengan tubuh bergemetar.
Dengan lembut, ia membangunkan (Name) sejenak. Ia mencari plester penurun panas dan menempelkannya hati-hati di kening (Name) yang berkeringat. Tak lupa ia juga memakaikan masker padanya.
"Sudah tau tidak enak badan malah makan es krim. Jadi sakit kan! Merepotkan."
(Name) diam saja mendengarkan Hanma yang tengah menceramahinya. Ya, siapa juga yang tidak tertarik dengan es krim gratisan apalagi dibelikan oleh Bos?
Hanma mengatup bibirnya. Ia menghembuskan napas sebelum menanggalkan pakaiannya hingga memperlihatkan perutnya yang berotot kekar. Sekali tarikan, tubuh (Name) yang panas di dekapnya. Agak tidak nyaman sebenarnya tapi (Name) pasti lebih tidak nyaman. Gadisnya malah berusaha untuk melepaskan pelukannya karena tau apa yang akan ia lakukan.
"J-jangan... nanti hah... kau tertular juga..." (Name) susah payah mendorong tubuh Hanma dengan sisa kekuatannya tapi tubuh jangkung Hanma tidak bergerak seinchi pun.
"Sst... diam saja. Turuti ucapanku."
Tangan mungil yang tadi terus mendorong dadanya mulai melemah dan berhenti. Hanma tersenyum tipis melihat (Name) bersandar sepenuhnya padanya dengan napasnya yang terengah-engah. Ia mempererat pelukannya. Ia juga menarik selimut untuk membungkus tubuh (Name) yang pasti dirasakannya sangat dingin itu seperti kepompong.
-----------------------
07.00 AM
Hanma melepaskan pelukannya. Ia benar-benar terjaga untuk (Name) yang dalam tidurnya pun terus mengeluh sakit dan tidak nyaman. Suhu tubuh (Name) memang tidak sepanas sebelumnya. Tanpa suara dan dengan gerakan sepelan mungkin, ia bangkit untuk kembali ke dapur. Inginnya membuatkan (Name) bubur tapi sepertinya itu ide buruk jikalau dirinya memasak.
Maka setelah kembali memakai pakaiannya, ia hendak keluar untuk membeli makanan juga obat. Sejenak, ia menengok keadaan (Name) yang berbaring. Tangannya terulur untuk menyentuh sisi wajahnya.
"Aku pergi sebentar membeli obat dan bubur," bisiknya lembut
Kecupan di dahinya yang panas Hanma daratkan sebelum pergi dari apartemen. Ia harus cepat membeli dua barang itu sebelum terjadi sesuatu pada (Name).
Apoteker yang memberikannya obat menatapnya bingung dikarenakan dirinya yang tiba-tiba melamun memikirkan kondisi (Name) di apartemen. Otaknya langsung memberikan bayangan yang tidak-tidak pada (Name) padahal dia hanya demam biasa.
Astaga, ia tertawa miris dalam hati. Segitu takutkah dirinya kehilangan (Name)? Kehilangan gadisnya?
"Tuan, obatnya."
Hanma tersentak kecil sebelum mengambil obat (Name) dan melesat kembali ke apartemen. Sesampainya di apartemen, ia menaruh bubur di mangkuk, menyiapkan segelas air juga obat (Name) dalam satu nampan lalu membawanya ke kamar.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE GRIM REAPER [Hanma Shuji]
FanfictionKisah Hanma Shuji, lelaki yang mendapat julukan Grim Reaper (Dewa Kematian) yang bertemu dengan gadis yang menarik perhatiannya. ⚠️WARNING!!!⚠️ [Akan sedikit berbeda dari manga atau animenya] [Tokyo Revengers © Ken Wakui]
![THE GRIM REAPER [Hanma Shuji]](https://img.wattpad.com/cover/278471604-64-k151545.jpg)