11

8 2 0
                                        

Jalan yang terbilang sangat sepi, juga sepoi-sepoi angin sore dan indahnya langit senja, menemani Ara dan Zio yang sedang berusaha mendorong motor Zio yang mogok.

Awalnya menyesal karena harus mendorong motor Zio, namun sekarang sepertinya Ara sangat menikmati 'jalan-jalan sorenya dengan Zio'.

"Eh Ra, Lo .." belum selesai Zio berucap, Zio berbalik menatap Ara. Zio mengulurkan tangannya ke atas kepala Ara, yang membuat Ara gelagapan dan membeku tentunya. Apa yang akan Zio lakukan?.

"Daun" kata Zio sambil menyerahkan daun dari atas kepala Ara kepada Ara.

"Oh, makasih" ujar Ara masih tak bisa mengontrol detak jantungnya. Apa yang Ara pikirkan?, Ara kira Zio mengulurkan tangannya tiba-tiba karena akan membelai kepala Ara, namun ternyata Ara salah, pede banget ya ampun. Mereka melanjutkan perjalanannya mendorong motor Zio.

"Emm..Lo mau ngomong apaan tadi?" Tanya Ara, penasaran dengan apa yang sebelumnya akan Zio bicarakan, namun keburu terganggu oleh daun diatas kepalanya.

"Gak jadi" jawab Zio enteng.

"Aish, bikin penasaran aja"ucap Ara sambil mengembungkan kedua pipinya sehingga membuat Zio tersenyum melihat Ara yang sekarang terlihat sangat lucu.

"Lucu banget gak kuad" ucap Zio sangat pelan sambil mengembangkan sedikit senyumnya, namun mampu terdengar oleh Ara karena Ara memang tepat di sebelahnya sekarang. Ara yang mendengar hal itu dibuat salting karenanya, Ara menahan dirinya untuk tidak tersenyum dan pura pura tidak mendengar ucapan Zio barusan.

"Kok tiba-tiba ada tomat busuk sih?" Tanya Zio membuat Ara sedikit kebingungan, pasalnya tak ada satupun tomat maupun pohon tomat di dekatnya saat itu. Ara menyadari bahwa yang di maksud dengan 'tomat busuk' yang disebut oleh Zio adalah pipinya yang pasti sudah bersemu merah sejak tadi.

"Mana?" Ara bertanya dengan polosnya pura-pura tak mengerti, yang membuat Zio kembali tersenyum.

"Tuuhhhhh" sadar dengan gerakan kepala Zio yang menatap ke arah kaca spion, Ara juga ikut menatap kaca spion itu dan terkejut karena melihat wajahnya sendiri disana.

"Astagfirullah, muka gue kok kayak tomat busuk gini sih," Benar saja, pipi Ara benar benar merah sekarang. Ara sebenarnya sadar mengapa wajahnya seperti itu, tapi pura-pura saja terkejut agar Ara tak terlihat sangat salah tingkah karena Zio. Zio geleng-geleng kepala dan tak bisa menahan tawanya. Gemas dengan tingkah Ara.

"Anggota karate kelakuannya kayak gini? Imut banget sih Tobus" ujar Zio sambil terus tertawa.

"Tobus? Apaan tuh?" Ara kembali bingung dengan ucapan Zio. Zio memang sulit dimengerti kadang dia sangat hangat, suka bercanda,bikin salting juga perhatian, tapi juga bisa berubah dingin dalam sekejap, seperti tadi siang.

"Lo tobus, tomat busuk hahaha" ucap Zio masih menertawakan Ara, Ara tak terima dan mencubit pipi Zio.

"Anjir sakit!" sahut Zio yang langsung menghentikan tawanya dan mengusap pipinya.

"Bukan salah gue,wlee!" ucap Ara menirukan gaya ucapan Zio. Mereka bercanda, dan tertawa disepanjang jalan. Perjalanan ini terasa sangat cepat, sekarang mereka sudah sangat jauh dari halte sekolah.

"Lo cape Ra? Naik aja biar gue yang dorong " ujar Zio

"Emang boleh?" Tanya Ara, tak enak hati jika harus duduk diatas motor sedangkan Zio mendorongnya.

"Boleh Tobus" jawab Zio yang dibalas senyuman malu-malu dari Ara.
________

Setelah mendorong motor cukup jauh, akhirnya mereka sampai di bengkel terdekat yang untungnya masih buka.

RAZIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang