Kita sudah sama-sama dewasa dan berakal. Buang buruknya & ambil baiknya! 21+
Jani masih menangis sekarang. Namun Joanna yang sudah muak karena terus-terusan dipaksa untuk menggantikan Jani menemui laki-laki yang akan dijodohkan dengannya besok malam benar-benar membuat Joanna naik pitam. Apalagi Liana terus saja mendesaknya ketika Jani mengatakan bahwa laki-laki ini adalah anak dari Sandi Iskandar yang sebentar lagi akan dilantik menjadi presiden di negara mereka.
"Aku sudah punya pacar! Bayangkan bagaimana perasaanya jika pacarku tahu aku melakukan hal itu!?"
"Pacar-pacar omong kosong! Ibu tidak mau tahu, besok kamu harus pergi atau kamu cari kos-kosan besok pagi!?"
Joanna semakin kesal, kemudian membanting pintu kamar dan ikut menangis sesenggukan di sana. Berbeda dengan Jani yang mendapat pelukan Liana. Joanna justru menangis sendirian dan mulai meraih ponselnya.
Untuk menghubungi Jeffrey, siapa lagi? Karena saat ini hanya dia yang bisa mengerti Joanna dari kulit, tulang hingga daging.
Ada apa?!
Tanya Jeffrey panik, hingga membuat nada suaranya meninggi setelah mendengar isakan Joanna yang terdengar pilu kali ini.
"A---aku. Jeffrey, aku sedihhh. Nanti pulang kerja jemput aku di apartemen. Bawa aku pergi!"
Sedih kenapa? Jangan membuatku khawatir! Akan kujemput sekarang! Kamu diam saja di sana! Jangan ke mana-mana!
Tangis Joanna semakin kencang, membuat Jeffrey panik dan lupa mengambil kunci motor di meja kerja. Hingga membuatnya harus ikut mobil para bodyguard yang selama ini selalu mengikutinya ke mana-mana.
"Mobil ini kupakai, kalian pakai mobil lain saja."
Titah Jeffrey sebelum menuruni mobil, kemudian setengah berlari dan menemukan Joanna yang sudah turun dari lift dan berlari ke arahnya sembari menangis.
"Ada apa? Ada yang menyakitimu? Siapa? Akan kuurus sekarang!"
Tanya Jeffrey bertubi, karena tidak tega melihat Joanna yang sejak dulu selalu mendapat kesedihan kembali dibuat terluka seperti ini.
6. 40 PM
Joanna sudah menceritakan hampir semuanya. Tentang acara makan siang selepas acara wisuda Mega hingga tentang Liana yang memaksa dirinya untuk menggantikan Jani ketika menemui laki-laki yang akan dijodohkan dengannya besok malam. Namun tidak dengan status laki-laki ini yang merupakan anak dari Sandi Iskandar, sebab tidak ingin Jeffrey merasa rendah diri setelahnya.
"Tidak apa-apa, temui saja. Hanya untuk formalitas saja, kan? Aku percaya padamu dan aku senang karena kamu mau menceritakan ini padaku."
Jeffrey sedang memeluk Joanna, mengusap rambutnya pelan seperti seorang ayah yang sedang menenangkan anaknya ketika merajuk karena rebutan permen dengan temannya.
Joanna mengangguk singkat, saat ini dia juga sedang memejamkan mata karena tiba-tiba saja mengantuk sekarang. Mungkin karena rasa nyaman yang didapat dari Jeffrey sekarang.
"Mengantuk? Makan malam dulu, ya? Mau makan apa?"
Joanna menggeleng pelan dan semakin mengeratkan pelukan. Membuat Jeffrey mulai tersenyum senang dan ikut melakukan hal yang sama.
"Wanna kiss?"
Bisik Jeffrey seduktif, membuat bulu kuduk Joanna mulai merinding. Namun berhasil membuatnya langsung membuka mata dan mendongkakkan kepala, guna menyambut pertemuan bibir mereka untuk yang ke sekian kalinya.
Suara decakan mulai terdengar dari dalam mobil. Apalagi saat ini Joanna sudah dipangku Jeffrey hingga gaun selutut yang dikenakan mulai tersingkap dan memperlihatkan underwear-nya saat ini.
Joanna mulai mengambil kendali, hingga membuat Jeffrey kuwalahan dan mulai menutup underwear hitam yang dipakai Joanna saat ini memakai telapak tangannya sendiri. Takut khilaf dilepas, ucapnya dalam hati. Padahal, sebenarnya Jeffrey sangat senang kali ini. Karena lagi-lagi bisa melihat sisi liar Joanna yang telah ditahan-tahan selama ini.
Sesekali Joanna mendesah tertahan ketika jari-jari Jeffrey menyentuh underwear-nya. Tidak itu saja, duduknya juga mulai tidak tenang hingga membuat sesuatu di bawah tubuhnya semakin menegang.
"You like it?"
Joanna mengangguk singkat, kali ini dia sudah melepas ciuman dan menundukkan kepala, menempelkan dahi pada dada bidang Jeffrey yang sudah berdebar.
Jeffrey tersenyum singkat, kemudian memulai aksi untuk semakin menekan jari-jarinya di sana. Tidak kencang, hanya usapan saja. Namun hal itu berhasil membuat Joanna mengerang tertahan dan mencengkram kursi kemudi kencang-kencang. Karena saat ini dia sedang duduk di pangkuan Jeffrey dan saling berhadapan.
"Want more?"
Tanya Jeffrey dengan suara serak, membuat Joanna semakin hilang akal dan mulai mengangguk cepat.
"Yesh! Please!"
Joanna sedikit tersentak ketika merasakan benda asing masuk ke dalam tubuhnya. Kedua matanya terpejam, kepalanya ditundukkan karena malu jika Jeffrey melihat wajahnya yang sedang keenakan sekarang.
Perlahan namun pasti, Jeffrey mulai memainkan his middle finger over there. Sangat hati-hati, karena ini adalah kali pertama Joanna melakukan hal kotor seperti ini.
Beberapa menit berlalu, Joanna akhirnya mengejang dan merasakan pelepasan yang pertama dalam hidupnya di hari itu. Membuat Jeffrey senang bukan kepalang karena berhasil membuat Joanna mencapai pelepasan hanya karena sentuhan his middle finger at the moment.
"Like it?"
Joanna mengangguk kaku, seluruh otot-otot di tubuhnya terasa lepas. Nafasnya tersendat, bibir bawahnya hampir berdarah karena digigit terlalu kencang guna menghalau desahan.
Mereka kembali bertukar saliva untuk yang kesekian kalinya. Tentu saja setelah Jeffrey membersihkan tangan dan area bawah mereka menggunkan tisu yang sudah disediakan. Sebelum akhirnya mereka berpisah setelah makan malam bersama di warung tenda.
Terganggu sama scene ini? Kalo iya, next hotter scene aku pindahin ke platform lain :)
Next chapter klo chapter 1, 4 & 7 udah sama-sama dapet 30 comments. See you!
Tbc...
![JUSTICE IN LAW [ END ]](https://img.wattpad.com/cover/284366892-64-k4225.jpg)