50 comments for next chapter.
Joanna ingin memaksa turun sekarang. Namun Jeffrey terus saja menahannya. Sebab dia merasa bahwa hal ini adalah tanggung jawabanya karena Joanna datang bersama dirinya.
"Pindah ke sini!"
Jeffrey berusaha menarik tubuh Joanna. Agar berpindah tempat duduk di samping kursi kemudi tempat dirinya duduk sebelumnya.
Joanna menggeleng pelan, lalu menghapus air mata dan berusaha membuka pintu sekarang juga.
"Aku yang akan bertanggungjawab."
Ceklek...
Setelah pintu terbuka, para kerumunan langsung mencaci Joanna. Membuat Jeffrey langsung ikut keluar dan ingin membelah kerumunan guna melindungi Joanna dari amukan massa.
"S-saya akan tanggung jawab. Maaf, saya minta maaf. Ini salah saya."
"JELAS KAU HARUS TANGGUNG JAWAB! AYO KE KANTOR POLISI SEKARANG!"
Salah satu laki-laki bertubuh gempal di sana langsung menarik bagian depan kerah kemeja Joanna. Berniat menyeretnya menuju kantor polisi terdekat.
Joanna semakin ketakutan, dia hanya bisa memegangi tangan yang mencengkram bagian depan kerahnya agar lehernya tidak semakin tercekik sekarang.
Jeffrey yang baru saja berhasil membelah massa langsung melepas cengkraman pada leher Joanna dengan paksa. Dia tidak terima ketika melihat Joanna yang tampak kesakitan diperlakukan demikian.
"Dia perempuan! Dia kesakitan!"
Laki-laki tadi langsung menatap Jeffrey murka dan berniat memukulnya, namun dengan sigap Jeffrey menangkisnya.
"Berani kau menyakiti perempuan ini sedikit saja, akan kubuat kau yang masuk penjara!"
Jeffrey langsung melepas jaketnya, dipakaikan pada kepala Joanna agar orang-orang tidak bisa mengambil foto apalagi video Joanna. Karena dia sudah jaga-jaga dan memakai masker hitam sekarang.
Joanna melirik ke belakang, pada korban yang baru saja memasuki salah satu mobil di sana yang sepertinya mau berbaik hati mengatar ke rumah sakit terdekat.
Setengah jam kemudian, Liana dan Jani datang. Mereka datang dengan raut pucat pasi sekarang. Apalagi kalau bukan karena khawatir dengan keadaan Joanna.
"Saya wali dari Joanna Kathrine! Di mana anak saya?"
Liana langsung menatap jari telunjuk salah satu polisi yang berjaga. Di sana, dia bisa melihat Joanna sedang duduk meringkuk di salah satu sel tahanan dan menundukkan kepala.
Liana dan Jani langsung menangis tentu saja, kemudian mendekati Joanna dan menanyakan bagaimana keadaannya.
Joanna juga sama, dia masih beruarai air mata dan mengatakan maaf atas kesalahannya.
Jeffrey, dia sedang di rumah sakit sekarang. Karena setelah memberi keterangan, dia langsung menuju rumah sakit guna membujuk keluarga korban agar mau menyelesaikan kasus ini secara kekeluargaan supaya Joanna dapat segera dibebaskan.
Karena jujur saja, Jeffrey tidak tega pada Joanna. Dia bahkan sempat menangis ketika melihat Joanna yang dengan suka rela dimasukkan ke dalam sel tahanan dengan tangis dan air mata yang sudah beruarai membasahi wajah.
"Saya mohon maaf. Saya janji akan memberikan apapun yang anda inginkan. Asal anda mau mencabut tuntutan dan---"
"100 juta!"
Ucap si laki-laki bertubuh besar yang ternyata adalah suami si korban yang sempat mencekik Joanna sebelumnya.
"Akan saya berikan!"
Laki-laki tadi hanya tersenyum meremehkan, kemudian menatap Jeffrey dari ujung kaki hingga kepala, karena berbagai barang yang dikenakan tidak terlalu berkualitas di matanya. Sehinga dia hanya menganggap Jeffrey hanya membual saja.
"Aku tidak mau dicicil! Harus kontan!"
Jeffrey mengangguk mantap, kemudian mengeluarkan ponsel dari saku celana.
"Mana nomor rekening anda? Akan saya transfer sekarang juga!"
Laki-laki tadi langsung mengeluarkan ponselnya, kemudian memberikan QR Code untuk mempermudah transaksi mereka.
Benar saja, sedetik kemudian saldo rekening laki-laki tadi langsung bertambah 100 juta. Padahal, istrinya hanya mendapat luka ringan, dua jahitan di kepala dan tidak memiliki cidera dalam yang membahayakan.
Kembali ke kantor polisi, Liana dan Jani sedang sama-sama menghubungi kenalan masing-masing. Guna mencari pengacara yang bisa membebaskan Joanna malam ini. Namun sayang, tidak ada satupun yang bisa datang malam ini karena mereka merasa bahwa kasus ini hanya kasus remeh yang akan bisa diselesaikan tanpa adanya pengacara saat ini.
Tidak lama kemudian Jeffrey dan laki-laki tadi datang. Apalagi kalau bukan untuk mencabut tuntutan agar Joanna bisa segera pulang.
Plak...
Liana menampar Jeffrey. Tepat di depan orang-orang di sana saat ini.
"GARA-GARA KAMU ANAKKU MASUK PENJARA! JAUHI ANAKKU SEKARANG JUGA!"
Jani langsung menarik Liana. Agar dia tidak lagi membuat keributan dan membuat Joanna semakin malu sekarang.
Joanna baru saja keluar dari sel tahanan, dia ingin mendekati Jeffrey sekarang. Namun Liana langsung menariknya. Membawanya pulang bersama Jani yang bertugas menyetir sekarang.
Jeffrey diam saja, lalu mengucapkan terima kasih pada orang-orang di sana. Lalu bergegas pulang karena ingin menemui orang tuanya yang sedang khawatir sekarang. Karena sejak tadi, sebenarnya mereka sudah menahan diri untuk datang dan membantu membereskan semuanya.
Di perjalanan pulang, Joanna masih menangis sesenggukan. Lalu dipeluk Liana di kursi belakang. Membuat Jani menatapnya iba dari depan. Karena masuk sel tahanan benar-benar hal mengerikan yang bahkan tidak pernah sekalipun dia bayangkan.
"Sudah, jangan menangis lagi. Ada Ibu di sini."
Joanna masih dipeluk Liana. Tangisnya tidak kunjung mereda karena mengingat Jeffrey yang tadi sempat ditampar ibunya dan tentang mobil yang Jeffrey pinjam sempat diderek dan terkena baret akibat diamuk massa.
Joanna tahu Jeffrey tidak memiliki banyak uang. Jangankan membenarkan mobil temannya yang sepertinya akan menghabiskan puluhan juta, membeli mobil sendiri saja belum bisa. Itu sebabnya Joanna berniat mengirimkan sejumlah uang di rekening Jeffrey sekarang juga.
"Bu, ponselku di mana?"
"Tidak ada ponsel! Tidak ada laptop! Semuanya Ibu sita sampai kamu benar-benar berpisah dengan laki-laki itu! Surat pengunduran dirimu juga sudah diterima, mulai besok pagi kamu tidak perlu bekerja apalagi keluar apartemen kecuali Ibu izinkan!"
Kedua mata Joanna membola. Dia bahkan tidak pernah membuat surat pengunduran diri sebelumnya. Putus dengan Jeffrey katanya? Ponsel dan laptop disita? Yang benar saja! 10 hari lagi anniversary yang pertama mereka. Joanna tidak mungkin bisa berdiam diri di dalam apartemen dan menahan rindu pada kekasihnya.
Tbc...
![JUSTICE IN LAW [ END ]](https://img.wattpad.com/cover/284366892-64-k4225.jpg)