Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

13/20

773 147 148
                                        


Joanna sedang menangis sesenggukan. Dia menangis di ujung balkon yang sangat sepi sekarang. Penerangan di tempatnya beridiri juga tidak ada. Hingga membuat dirinya semakin puas berlama-lama dan menangisi keadaan. Menangisi dirinya yang terlahir kotor di mata orang-orang.

Mana ada yang benar-benar tulus padamu, Jo! Kamu hanya anak haram! Tidak memiliki Ayah! Kamu memang tidak pantas bahagia!

Batin Joanna sembari menangis sesenggukan. Namun tidak membuat riasannya berantakan karena dia hanya memakai riasan tipis dan tidak terlalu tebal.

"Jangan di sini, dingin."

Joanna menoleh ke belakang. Pada Mega yang entah datang dari mana dan sudah memakaikan jasnya pada punggung Joanna.

"Kita ke dalam---"

"Mega, sudah berapa kali kubilang! Jauhi aku! Aku tidak akan pernah menyukaimu! Aku tidak akan pernah mau denganmu! Pergi! Aku tidak butuh belas kasihanmu lagi!"

Joanna langsung melepas jas Mega dari punggungnya, kemduain dilempar pada pemiliknya.

"Joanna, kenapa kamu menjadi seperti ini? Apa salahku sampai-sampai membuatmu seperti ini?"

"Apa salahmu? Salahmu hanya satu, karena kamu menyukai anak haram sepertiku! Mega! Cukup hentikan ini! Sudah sejak dulu Papamu melarangmu dekat-dekat denganku, kan? Tapi kamu masih saja bebal dan terus saja mengejarku! Sampai-sampai mendekati Ibuku dan membantunya hingga bisa menjadi anggota dewan melalui Papamu!"

Mega tampak menegang sekarang. Dia tidak menyangka kalau Joanna sudah tahu sejak lama bahwa dia memang pernah dilarang ayahnya untuk dekat-dekat Joanna. Apalagi kalau bukan karena statusnya yang menjadi anak di luar nikah karena kesalahan orang tuanya.

"Joanna, sejak kapan kamu---"

"LAMA! LAMA SEKALI! TAPI AKU BERUSAHA MENUTUPI SEMUA INI! PAPAMU BENAR, AKU MEMANG TIDAK BERGUNA! ANAK HARAM DAN TIDAK ADA YANG MENGINGINKAN! JADI, JAUHI AKU MULAI DARI SEKARANG!"

Kedua mata Mega sudah berkaca sekarang. Apalagi kalau bukan karena melihat Joanna yang dicinta sejak lama terluka begitu banyak tanpa sepengetahuan dirinya.

"Joanna, kalau kamu mau---aku akan meninggalkan semuanya. Tidak peduli jika dunia menentang---"

"Dan menjadikanku semakin hina di mata orang-orang? Terima kasih, Mega! Lebih baik cari permepuan lain! Perempuan baik-baik dan tidak kotor seperti aku lagi!"

Joanna langsung menyeka air mata, kemudian menabrak bahu Mega ketika berjalan ke depan. Namun, pandangannya tertuju pada Jeffrey yang entah sejak kapan sudah berada di belakang Mega dengan raut pucat.

"PENIPU!"

Pekik Joanna setelah melewati Jeffrey, kemudian bergegas lari menuju kamar mandi. Meninggalkan Jeffrey yang sudah mengejar dan berteriak memintanya berhenti.

"Joanna, aku tadi mencarimu di mana-mana. Kamu lihat tadi? Itu Jeffrey pacarmu, kan?"

Joanna tidak bergeming. Saat ini dia sedang berdiri di samaping Jani yang sedang mencuci tangan dan menghadap cermin.

"Joanna, kamu menangis?"

"Jangan sentuh aku! Jauhi aku! Aku tidak mau lagi berteman denganmu!"

Pekik Joanna ketika Jani ingin menyentuh pipinya yang sudah terdapat jejak air mata.

"Kamu kenapa? Salahku apa?"

Tanya Jani panik, apalagi setelah menatap Joanna yang sudah beruarai air mata lagi.

"Tidak perlu sok baik lagi! Aku sudah muak kali ini! Ini semua karenamu! Kalau saja kau tidak membocorkan pada salah satu temanmu bahwa aku tidak memiliki Ayah---aku pasti tidak akan kembali mendapat bully-an! Aku pasti akan hidup tenang karena tidak ada yang tahu kalau aku anak haram!"

JUSTICE IN LAW [ END ] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang