"Kau pikir tidak mengetahui suatu hal seperti ini, menyenangkan? Tentu saja tidak sama sekali." (Mercy Alviana)
Matahari mulai muncul dari sisi timur. Bus-bus mulai penuh oleh penumpang. Jalanan mulai ramai berisi orang-orang yang berangkat. Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Ia duduk termenung menunggu seseorang di sebuah halte bus yang tak jauh dari rumahnya. Terlihat banyak orang berlalu lalang yang sesekali menanyainya. Namun, selalu ia jawab dengan senyuman sambil mengatakan ia menunggu seseorang. Dan herannya orang tersebut masih belum datang padahal jika terus begini bisa saja mereka terlambat masuk sekolah. Dan tentu ia tak ingin itu terjadi, karena ia sudah termasuk sering terlambat dan kalau ditambah kali ini juga sudah berapa kali ia tercatat terlambat.
"Alvi!" panggilnya dengan senyum sumringah seakan tak ada dosa.
"Lama sekali, sih. Ngajak berangkat bareng tapi gak datang-datang," omelnya kesal pada orang yang tengah duduk santai diatas motor biru miliknya tersebut.
"Maaf. Lagipula bukannya lu udah terbiasa telat, ya?"
"Bukan terbiasa hanya terkadang," ucapnya membenahi ucapan lawan bicaranya itu. Sedangkan tangannya sibuk memasang helm.
"Iya-iya. Tenang aja gue bisa ngebut, kok."
"Eh? Jangan balapan saat berangkat ke sekolah, Rossi."
"Nama gue bukan Rossi," ucapnya dengan nada bicara sedikit kesal.
"Hahaha, aku bercanda. Lagipula ini bukan balap liar jadi jangan terlalu ngebut, ya."
"Bentar ngapa jadi balap liar, deh."
"Ya, maaf. Habisnya..."
"Habisnya kenapa?"
"Kamu gak bakal marah kan tapi," ucapnya terdengar nada gelisah disana. Mungkin melihat nada suara Mike yang sedikit naik membuatnya takut.
"Aku tidak mungkin marah padamu. Aku menyukaimu." Kini nada suaranya terdengar tidak seperti tadi lagi. Nada suaranya sudah kembali seperti biasa.
"Em, aku tau kamu pernah ikut balap liar. Ta-tapi itu udah lama kok, a-akj tidak sengaja melihatnya. Dan aku cuma tidak ingin kamu terlalu ngebut hanya karena khawatir kita akan telat." Alvi menundukkan kepalanya, takut. Namun, tangannya tetap memegang erat jaket Mike. Mike yang melihat itu dari balik spion pun tersenyum tipis lantas memegang tangan kecil milik Alvi dan berkata, "iya, santai saja".
**
"Kan kita jadi telat," rajuknya begitu melihat gerbang sudah tertutup rapat.
"Padahal aku lagi tidak ingin dihukum," sambungnya sambil menghela nafasnya kasar.
"Siapa juga yang mau dihukum? Kita lewat belakang aja," ajaknya sembari bersiap melajukan motornya kembali.
"Eh, lu mau kemana? Dibelakang kan tidak ada gerbang."
"Mike, ish tunggu." Akhirnya ia pun berlari kecil mengejar Mike dengan wajah kesal karena hampir ditinggal.
"Ayo cepat."
"Loh nak Mike tumben telatnya bareng cewek, mana cantik lagi," sapa Bu Desi, ibu kantin sekolah. Ia sudah biasa melihat Mike telat dan masuk melalui kantin sekolah.
"Eh, ibu numpang lewat ya. Pacar saya juga numpang lewat boleh, kan?" Tanyanya sambil menggandeng tangan Alvi.
"Iya, boleh lewat aja. Semoga langgeng ya nak," ucap Bu kantin sembari mengelap meja-meja disana.

KAMU SEDANG MEMBACA
Love Him too
RomanceApakah salah jika kita mencintai seseorang yang mencintai kita ? Apakah salah jika tanpa sadar kita mencintai dua orang yang berbeda karena menganggapnya seakan-akan orang yang sama? Apa itu salah? Jika itu salah, lalu aku harus bagaimana? Ini cerit...