" Kamu tau cinta pertama itu berharga dan memiliki tempat khusus bagi beberapa orang. And do you know, when you said 'Can I call you mine' how precious your to me." (Mercy Alviana)
" Can I Call You Mine," ucapnya seraya bertekuk lutut dihadapan alvi. Tak lupa serta menyodorkan bunga mawar putih yang ia bawa.
Alvi yang tak tau menjawab apa karna terlalu syok hanya terdiam mematung. Ia menatap mata cowok dihadapannya itu lekat-lekat berusaha mencari jawaban disana. Namun bisa ditebak hasilnya nihil. Ia yang masih kebingungan akhirnya hanya bisa mengikuti kata hatinya. "Baik, ambil bunga itu lalu lari menjauh dari sini, pergi dari tengah-tengah kerumunan ini." Akhirnya hatinya memberikan arahan.
Ia menutup matanya lalu menarik nafas panjang. Ia mengambil bunga mawar putih yang disodorkan tadi. Lalu dengan langkah cepat ia berlari menembus kerumunan entah kearah mana sambil menggumamkan suatu kalimat " Sorry".
Dan tepat saat alvi mengambil bunga tersebut seseorang berpaling dari situ dan segera pergi juga dari sana. Orang itu tak lain dan tak bukan adalah orang terdekatnya yang tak sanggup lagi melihat kelanjutan kejadian dihari itu.
**
Drrtt...drrtt...
Via segera mengecek ponselnya yang berbunyi berturut-turut tersebut. Ia segera melihat siapa gerangan yang begitu tak bisa sabaran hingga harus mengiriminya chat berkali-kali dan ketika melihat nama yang tertera ia pun berhenti mengumpat dan berpikir sejenak.
" Ada apa dengan mereka berdua?. Apa-apaan coba maksudnya ini".
Alvi
Na, aku pulang duluan ya.
Kamu tidak perlu mencariku, aku tidak apa-apa.Viola
Na, maaf aku pulang duluan ya ada urusan mendadak yang mendesak.Via yang kesal mendapati kedua sahabatnya itu meninggalkan dirinya dan bahkan tak lupa mengiriminya dua pesan yang sama kembali mengumpat. " Ah dasar, apa mereka hobi meninggalkanku atau hobi membuatku khawatir".
Me
Vi, aku tau kamu pasti belum pulang kan. Kamu hanya bersembunyi kan.Beritahu aku! Kamu dimana?
Alvi
Maaf na membuatmu khawatir, aku ada dikelas.Me
Kamu yakin akan pulang sekarang, ola?**
Ia masih mengatur nafasnya yang sejak tadi berirama satu-satu. Bunga mawar putih tadi masih ia genggam erat-erat ditangannya. Akhirnya ia bisa keluar dari kerumunan dan keadaan yang benar-benar membingungkan tadi. Dan sekarang ia hanya perlu menunggu pesta ini selesai lalu ia akan pulang ketika keadaan mulai sepi.
Ia duduk terdiam disalah satu kursi dikelas yang tadi ia masuki. Sambil menunggu ia memainkan kakinya agar tidak terlalu bosan. Sampai akhirnya terdengar langkah kaki yang kian mendekat kearahnya. Alvi yang berpikir kalau itu anna segera bangun dari kursinya dan berdiri didepan meja dekat pintu agar tubuhnya terlihat oleh sahabatnya itu. Sembari menunggu ia menundukkan kepalanya melihat sandal yang ia kenakan hari itu. Karna ia datang ke acara dengan undangan khusus akhirnya ia mengunakan sandal terbaiknya.
" Hufft." Suara helaan nafasnya terdengar begitu berat. Mungkin seharusnya ia tidak ikut saja tadi agar tak mendapatkan kejadian seperti ini. Langkah kaki itu kian mendekat dan sepertinya sekarang sudah berada didepannya mengingat sepertinya ada sebuah sepatu didepannya. Ia yang berpikir itu anna segera mendonggakkan kepalanya lalu memanggil nama orang yang sedari tadi ditunggunya itu.

KAMU SEDANG MEMBACA
Love Him too
RomanceApakah salah jika kita mencintai seseorang yang mencintai kita ? Apakah salah jika tanpa sadar kita mencintai dua orang yang berbeda karena menganggapnya seakan-akan orang yang sama? Apa itu salah? Jika itu salah, lalu aku harus bagaimana? Ini cerit...