Menuju Happy Ending

4 1 0
                                    

"Kau, sudah berjanji. Jadi, tolong tepati itu ya demi aku" Mike Marcelo.

"Hi, pacar. Apa kabar?" Alvi menoleh sekilas kepada orang yang mengatakan itu lalu kembali terfokus menatap ke depan.

"Wah, masih pagi udah dicuekin pacar nih," ucapnya lagi seakan ia tak akan berhenti sebelum diperhatikan oleh Alvi.

"Alvi?"

"Hem." Setelah sekian purnama barulah ada sahutan dari mulut Alvi. Yah, setidaknya itu sudah cukup walaupun sebenarnya ia ingin dijawab lebih lagi dari itu.

"Em, ada yang berbeda darimu."

"Apa?"

"Tidak, hanya saja sepertinya hari ini kau mengabaikanku."

"Mana mungkin aku begitu?"

"Ah, apa aku perlu masuk ke rumah sakit..." Mata Alvi langsung memelototinya. Kemudian ia memalingkan wajahnya kembali.

"Jika, kau mengatakan seperti itu lagi. Aku akan benar-benar marah," ujarnya sambil menoleh kearah lain. Seolah-olah ia sedang merajuk.

"Maaf, aku tidak bermaksud begitu." Alvi menghela nafasnya lalu berbalik menatap kearahnya.

"Jangan pernah bahas tentang rumah sakit lagi, oke. Aku tidak sedang mengabaikanmu kok." Ia tersenyum kecil kemudian mengangguk.

"Aku sedikit takut kau hilang lagi," ucapnya sejujur-jujurnya.

"Aku tidak akan hilang lagi, oke. Jadi, tenang saja."

"Ada yang lihat Alvi?"

"Ada apa dengan Alvi?"

"Dia tidak terlihat sepulangnya dari rumah sakit. Jangan beritahu mereka, ya?."

"Apa yang jangan beritahu?" sahut mereka bersamaan.

"Alvi, mana?"

"Ah, itu dia sedang...,"

"Sedang ingin sendirian untuk menjernihkan pikiran," sambungnya.

"Kalian yakin?"

"I...iya." Mereka berdua saling bertatapan cukup lama lalu kemudian mereka mengangguk seolah mengisyaratkan sesuatu sampai sebelum akhirnya mereka berdua pergi kearah yang berbeda.

"Alvi menyukai taman, mungkinkah ia disana?" Tanya Ray pada dirinya sendiri. Sedangkan langkah kakinya sudah berjalan menuju taman kota.

Disisi lain Mike pergi mengendarai motornya kearah danau tempat ia pernah hampir kehilangan Alvi. "Mungkin ia akan ada disana," ungkapnya.

Ray mulai menelusuri taman kota secara perlahan. Namun, hasilnya nihil ia tak dapat menemukan Alvi. Ia berhenti sejenak sambil memutar otaknya memikirkan kemana kemungkinan Alvi akan pergi. "Ah, jangan-jangan kafe pelangi."

Ia segera kembali ke parkiran untuk mengambil motornya. Dan segera menuju ke tempat kedua yaitu, kafe pelangi.

Sementara Ray sudah berjalan ke tempat keduanya. Mike masih mengitari sekeliling danau mencari Alvi. Namun, sama saja tidak membuahkan hasil. Ia kembali ke motornya dengan perasaan kecewa. "Mungkinkah ia takkan pergi ke tempat-tempat yang ia beritahu? Mungkinkah Ray yang akan berhasil menemukan Alvi?" Pikirnya sembari kembali menghidupkan mesin motornya bersiap untuk pergi.

Love Him tooTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang