"Kenapa aku tak mengetahui hal tersebut. Apakah aku memang tak boleh bagiku untuk mengetahui hal tersebut?" Mercy Alviana.
"Em, namaku ada disana karena memang sudah seharusnya ada. Tapi kalau kau melarangku ikut aku takkan ikut. Bagaimana bisa aku meninggalkan seseorang yang menganggapku berharga."
"Bagaimana sudah?" Alvi masih menunduk dalam diam. Walaupun ia sempat mengangguk sebentar untuk merespon pertanyaan Mike tadi.
"Tapi sepertinya ada yang salah," ucapnya lagi begitu tahu Alvi hanya diam saja.
"Seharusnya kau berkata begini tadi 'Aku tak mau kehilangan seseorang yang aku cintai lagi' nah begitu." Ia tersenyum puas setelah mengatakan hal tersebut. Karena sebenarnya hal seperti itulah yang ingin ia dengar.
"Aku tidak mencintaimu." Alvi membuka suaranya meskipun masih tak mau menatap wajah Mike.
"Iya deh. Ya sudah kau pulang dulu teman-temanmu menunggumu dibawah jangan lupa jika sudah sampai kabari aku."
"Kau mau kemana?" Kini Alvi menoleh kearahnya. Diwajahnya terdapat sisa-sisa merona karena malu. Namun, sepertinya sekarang ia sudah tak peduli lagi. Toh, sudah tidak terlalu terlihat lagi.
"Aku mau menemui Pak Bambang dulu. Dan map ini biar aku yang bawa," ucapnya sembari mengacak rambut hitam Alvi. Membuat Alvi tersenyum dalam diam karena perlakuannya.
"Pulanglah. Jangan lupa kabari aku."
Sepanjang perjalanan Alvi terlihat gembira. Sesekali bibirnya mengukir sebuah senyuman. Membuat kedua sahabatnya menjahilinya.
"Jadi, pilih siapa kak Jim atau kak Mike?" tanya mereka membuka percakapan.
"Apasih gak kedua-duanya," ucapnya sembari tersenyum.
"Heleh."
"Beneran. Kak Jim itu punya orang yang disukai kalau kak Mike ya gak mungkinlah," jelasnya tanpa diminta. Membikin kedua sahabatnya itu tambah ingin menjahilinya.
"Jelas pilih kak Mike dong tadi kan dia sudah menyatakannya didepan kelas," ucap Via lalu menyenggol lengan sahabatnya tersebut.
"Oh, iya sudah pasti nih kak Mike nih berarti," timpal Vany begitu mendapat kode dari Via. Dan mereka pun tertawa bersama-sama kecuali Alvi.
"Awas kalian. Jangan lari."
**
Liburan musim panas akhirnya tiba. Selama liburan ia tak punya kesibukan kerjanya hanya berdiam diri dirumah kecuali jika ada yang mengajaknya keluar. Dan juga semenjak kejadian di hari itu ia bertambah dekat dengan Mike. Bahkan ia membuat janji bertemu dengannya hari ini. Ia meneguk segelas es jus jeruk yang tersedia di meja. Lalu duduk di sofa ruang tengah sambil menyetel tv ditemani dengan sewadah keripik pisang disana. Sembari menonton tv ia menyetel sebuah lagu di hp nya. Lagu I like you so much, you know it. Setelah beberapa saat ia menonton hp nya berbunyi dua kali karena merasa terganggu ia pun mengambil hp nya. Tertera nama seseorang disana, seseorang yang selalu berhasil membuatnya tersenyum.
Mike
Jangan lupa nanti sore
Nanti gue jemputAlvi
Iya-iyaGue ingetin dari pagi nih biar lu gak lupa
Emang kelihatan kalau aku bakal lupa ya
Gak sih lu lebih kelihatan bakalan bikin gue nunggu lama makanya gue ingetin
Dasar kau

KAMU SEDANG MEMBACA
Love Him too
RomanceApakah salah jika kita mencintai seseorang yang mencintai kita ? Apakah salah jika tanpa sadar kita mencintai dua orang yang berbeda karena menganggapnya seakan-akan orang yang sama? Apa itu salah? Jika itu salah, lalu aku harus bagaimana? Ini cerit...