Remember Me

20 2 0
                                    

" Aku tak tau apa yang sebenarnya terjadi, walaupun ini bukan yang pertama kalinya. Tetapi yang kutau kau slalu ada dipikiranku ". (Rayhan Marcelo).

Entah kenapa sejak pulang sekolah tadi pikirannya terasa aneh. Ia terus memikiran Alvi dan walaupun ia sudah mencoba hapus pikiran itu,  namun tetap terus kembali lagi, sepertinya ia tak mau pergi dari sana. Mungkin ini efek dari perkataan Jim tadi yang mengatakan tentang 'orang spesial'. Akhirnya kini ia duduk dikasir sembari mencoret-coret kertas nota di depannya.

"Ray?"

"Yes, Uncle. What's happen?" sahutnya.

" Sepertinya ada yang salah dengan dirimu hari ini. Lihat saja raut wajahmu, dan apa yang sedang kau lakukan sekarang" ucap pamannya sambil memperhatikan kertas nota pembayaran yang telah dipenuhi coretan tersebut.

Ray yang akhirnya menyadari arah mata pamannya langsung merobek kertas nota tersebut. Lalu meremas-remasnya menjadi bentuk bola. Kemudian menyimpannya di dalam saku bajunya. Ia menghela napasnya kasar, dan  memaksakan bibirnya untuk tersenyum sembari bertanya pada dirinya sendiri, "Apakah ia terlihat sebegitu anehnya dimata orang lain?"

Ady yang melihat responsnya itu hanya tersenyum simpul. Ia tahu bahwa ada yang salah dari keponakannya walaupun ia tak memberi tahunya. Sebenarnya apa yang terjadi pada keponakannya itu sampai-sampai ia harus memaksakan diri untuk tersenyum. Mungkinkah itu sesuatu yang bisa diselasaikannya sendiri?. Tetapi sepengetahuannya ini bukan yang pertama kalinya ia terlihat seperti itu. Karena, saat ia baru pertama kali kesini ia juga pernah menunjukkan raut wajah itu.

Ray kembali mengambil kertas yang telah ia remas-remas tadi. Ia memandanginya cukup lama lalu membukanya kembali. Tulisan dikertas itu sudah tidak jelas lagi namun, tetap masih bisa dibaca. 

"Aish, sebenarnya apa yang aku tuliskan. Kenapa juga aku mencoret-coret itu? Apa karna pikiranku... Sudahlah aku sendiri tak tahu."

Ia tetap tak tahu apa yang terjadi hingga malam menjemput langit, dan mentari digantikan oleh bulan. Hanya satu yang ia tahu ia terus memikirkan satu nama saat sedang mencari tahu kata 'orang spesial' seperti yang dikatakan Jim tadi. Bahkan ketika angin malam mulai menyelimuti orang itu masih tetap berada didalam pikirannya. "Sebenarnya apa yang terjadi pada dirinya?" tanyanya lagi dan lagi.

**

Hari ini adalah hari paling ditunggu-tunggu oleh para murid kelas IX, pasalnya karena ini adalah hari terakhir mereka diberikan tugas mematikan sebelum kelulusan tiba. Beberapa dari mereka melangkah di koridor dengan wajah riang.

Namun, keadaan mereka berbanding terbalik dengan adek kelas mereka. Yaps betul, mereka semua sebentar lagi akan bertemu dengan ujian. Tapi tak mengurungkan niat para murid untuk tetap mengobrol dikantin. Kantin hari ini cukup ramai dibandingkan biasanya. Beberapa dari mereka terlihat hanya duduk melepas penat tanpa berminat memesan apapun.

"Alvi, ayo cepatlah," ujarnya sambil menarik lengan baju sahabatnya itu.

"Iya, tunggu sebentar," ucapnya dengan mata masih tertuju ke papan tulis putih didepannya.

"Kalian duluan saja mencari meja, nanti aku menyusul sekalian pesan makanan. Oke?" Kini mereka pun baru mengangguk, dan mulai berjalan pergi meninggalkan alvi. Alvi yang mendengar langkah kaki kedua sahabatnya itu segera bergegas menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi dan langsung menyusul mereka ke kantin.

Love Him tooTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang