"Seakan pernah merasakannya tetapi sepertinya tak pernah melaluinya." Mercy Alviana
Mentari perlahan bergerak kearah barat. Bersamaan melegangnya jalanan sekolah. Aku berjalan seorang diri menuju halte bus terdekat. Sambil menatapi langkah kakiku sendiri aku juga melihat bayanganku sesekali. Keadaan tersebut terus berulang sambil aku menggumamkan sebuah nada tanpa lirik. Hingga sesaat aku hampir tiba di tujuanku tanpa disadari ada seseorang yang mencoba menarik lenganku.
"Eh?"
"Kenapa lu lewat jalan sini, sih!"
"Ha? Ini kan memang jalan menuju halte bus!. Kau kenapa menarikku? Kau tawuran lagi?"
"Gue gak tawuran, udah ikut aja."
Pertanyaan kini memenuhi kepalaku. Padahal halte bus sudah berada di depan matanya lalu kenapa ia harus ikut berlari dengan cowok di sebelahnya ini?.
"Hei, berhenti dulu sebentar."
"Apa lagi sih! Lu capek?" Tanyaku sebelum akhirnya ia melepaskan tangannya.
"Bukan, sebenarnya lu lari dari apa sih!"
"Tuh, liat belakang lu ada anjing."
"He? Anjing?"
Ia mengusap wajahnya yang peluh dengan keringat. Sedang matanya menatap kearah belakang terus menerus. Dan tepat pada detik ke sepuluh terdengar suara anjing yang mendekat.
"Guk guk guk."
"Sialan, anjingnya udah dekat. Udah ayo cepat lari." Mau tak mau karena panik. Aku pun mengikuti cowok tersebut lari hingga sampai pada persimpangan. Tetapi lagi-lagi aku memintanya untuk berhenti sebentar karena seperti merasa pernah melalui persimpangan jalan tersebut. "Sebentar..."
"Kenapa lagi Alvi?"
"Kita pernah lewat sini kayaknya. Ini bukannya jalan buntu kalau kita lewat sini."
"Tahu darimana lu ini jalan buntu? Kita gak pernah lewat sini seingat gue."
"Tapi..."
"Guk guk guk."
"Lari dulu. Keburu anjingnya kesini," ucapnya sambil kembali menarikku untuk lari dengannya.
"Sial, beneran jalan buntu."
"Kan, kubilang juga apa! Terus gimana ini kita."
"Iya-iya, maaf. Karena sudah kejadian kita panjat dinding aja."
"Kamu kira aku Spiderman?"
"Memangnya cuma Spiderman yang bisa manjat dinding?. Gue bukan Spiderman tapi gue bisa."
"Kan kita beda. Kamu cowok aku cewek."
"Udah ah, buru keburu anjingnya datang. Gue bantuin manjat."
"Tapi..., Aku pakai rok. Nanti..."
"Guk guk guk."
"Ah, Mike cepetan naik," jeritku begitu mendengar suara anjing yang mendekat. Ia pun segera memanjat dinding yang sebenarnya tingginya tak seberapa. Lalu membantuku dari atas agar aku dapat memanjat dinding juga.

KAMU SEDANG MEMBACA
Love Him too
RomanceApakah salah jika kita mencintai seseorang yang mencintai kita ? Apakah salah jika tanpa sadar kita mencintai dua orang yang berbeda karena menganggapnya seakan-akan orang yang sama? Apa itu salah? Jika itu salah, lalu aku harus bagaimana? Ini cerit...