7 ✍️

3.8K 325 10
                                        

Hilangnya hujan ternyata membawa kekosongan yang lebih besar dalam hati lelaki itu. Dingin yang tertinggal seakan turut mengais kenangan yang masih melekat kuat dalam ingatan. Setiap kali bayang wajah Samudra terlintas disana, seketika itu juga emosi Arnesh seperti dibangkitkan.

Arnesh terkekeh miris. Mengingat kenangan manis bersama sang istri, tawa pertama yang timbul ketika mengetahui bahwa sang belahan jiwa tengah berbadan dua. Lalu, kebahagiaan itu terhempas keras hingga hancur tak berbentuk. Tragedi yang membawanya ke dalam jurang kesakitan hingga ia tak tahu lagi bagaimana caranya bahagia.

Arnesh benci ketika dirinya tidak dapat mengontrol apa yang terlintas dalam pikirannya. Namun, dirinya tak kuasa, kenangan menyakitkan itu senantiasa hadir tanpa di undang. Lalu, selalu berakhir dengan kata 'seandainya'. Seandainya saat itu Raline lebih mementingkan keselamatannya sendiri, mungkin sekarang Raline masih bersamanya, dia akan mendengar panggilan 'Ayah' dari anak pertamanya, mengajarkannya menaiki sepeda, bermain bola dan hal-hal indah lain yang dia tahu tidak akan pernah terwujud.

Arnesh menyaksikan bagaimana hujan yang mengguyur sejak tadi siang berganti menjadi gerimis kecil sembari menyesap batang putih bernikotin itu di dalam kamarnya. Tidak dia pungkiri, ada rasa sesal saat dia sadar bahwa sekarang Samudra berada di satu atap dengannya. Ada kalimat tanya yang belum dia temukan jawabnya. Bagaimana mungkin dia dengan suka rela membawa serta luka itu bersamanya?

Tanpa Arnesh sadari, langit telah berubah warna, menenggelamkan pendar senja yang samar itu menjadi gelap. Lelaki itu beranjak, berniat ingin mengambil air wudu dan melaksanakan kewajibannya beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Namun, getar dari ponsel di atas meja menghambat langkahnya. Melihat nama Rafa yang tertera di layar membuatnya tanpa ragu segera menerima panggilan itu.

"Halo, Ar. Lo udah di rumah?"

"Udah."

"Lo ajak Samudra kan?"

Arnesh mengernyit, terdiam sejenak. Dia belum mengatakan kepada siapapun kecuali Ayah jika Samudra ikut bersamanya. Entah kenapa dirinya tidak ingin menjawab pertanyaan Rafa dengan serius.

"Kenapa lo telfon?" Tanya nya mengalihkan pembicaraan.

Di seberang telepon pun Rafa juga seakan tengah memberi jeda. Sebelum beberapa detik kemudian suaranya kembali terdengar.

"Gue berharap lo ajak Mudra sih, Ar."

"Kalo lo cuman mau ngomongin anak itu, gue tutup."

Sekali lagi, Rafa harus mengalah pada Arnesh. Kalau urusan mengancam seperti ini Rafa akui Arnesh memang ahlinya.

"Iya-iya sorry. Gue ke sana ya?"

"Ngapain?"

"Ya nggak ngapa-ngapa in sih. Pengen gangguin lo aja. Hehe."

Arnesh mencebik. Tidak habis pikir dengan kelakuan sepupunya ini. Sudah berumur tapi kelakuannya masih saja seperti remaja jika bersamanya. Jelas sekali lelaki itu sedang mencoba memperbaiki suasana.

"Nggak usah, ngerepotin gue. Udah malem."

"Ya elah, jahat banget sih? Bodo ah, yang penting gue ke situ."

"Di bilang enggak usah. Gue belum beres-beres." Bohongnya.

"Tapi gue udah di depan pintu." Lalu, terdengar kekehan di seberang telepon yang membuat Arnesh menghela nafas jengah. Namun, tidak bisa di pungkiri bahwa suara menyebalkan milik Rafa berhasil membuat sesak dalam dadanya sedikit berkurang.

"Ya kalo gitu kenapa pake nanya, bego. Nggak guna!"

"Ya udah sih, pokoknya gue masuk, kunci rumah lo kan masih gue bawa satu."

Fixing the Broken ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang