Tak pernah ada kata tenang saat mendengar kabar bahwa orang tersayang berada di ambang kematian. Rania menginjak pedal gas nya sedalam mungkin menerjang malam dan hujan setelah mendegar anak bungsunya dilarikan di rumah sakit. Melesat membelah jalanan tak peduli bunyi-bunyi klakson yang terus mengiringi laju mobilnya. Sedih, kecewa, marah, dan semua emosi yang tak bisa di jelaskan menancap kuat dalam batinnya. Samudra yang telah di kurung di dalam kamarnya sejak dua hari lalu oleh suaminya, kemudian tadi pembantu rumah tangganya memberitahu bahwa suaminya itu kembali berulah bermain tangan dengan Samudra. Hingga Samudra kehilangan kesadaran dan berakhir di UGD.
Rania tak pernah suka dengan sikap suaminya yang terlalu kasar dengan anak bungsunya itu. Walaupun dia sendiri juga seringkali memarahi Samudra ketika anak itu gagal memenuhi ekspektasi sempurnanya, tapi dia tidak pernah mendaratkan tangan ke tubuh Samudra kecuali untuk mengelus kepala anak itu atau memeluknya. Kini Rania hanya bisa berandai dan berharap agar dia bisa mengulang waktu. Andai tadi pagi dia tidak meninggalkan Samudra sendirian, andai tadi pagi dia lebih keras berusaha mencari kunci kamar Samudra yang disembunyikan oleh Panji, andai tadi pagi dia lebih memprioritaskan Samudra di atas pekerjaannya. Sebagai seorang profesor di salah satu Perguruan Tinggi di Jakarta, Rania punya banyak jadwal mengajar, penelitian dan hal-hal lain yang tidak bisa dia tinggalkan begitu saja. Tapi, apa arti semua jabatan dan kehormatan yang dia dapat jika dirinya gagal menjadi orang tua, gagal menjaga anak satu-satunya yang masih hidup bersama dengannya.
Oleh karena itu, kini bersama dengan hujan dan gemuruh yang seakan ikut menertawakan penyesalannya, Rania bertekad secepat mungkin melihat keadaan putra bungsunya. Dia ingin mendekap Samudra dalam peluk, mengelus kepala anak itu dan mengatakan betapa Rania menyayanginya. Berharap dengan itu dia dapat sedikit mengurangi rasa bersalah karena tak bisa menjaga Samudra seperti seharusnya. Namun, dia lupa bahwa manusia dengan segala kehebatannya hanya bisa berencana dan berusaha. Dia lupa bahwa syarat utama agar dirinya dapat bertemu dengan Samudra adalah dia sendiri harus sampai di rumah sakit dengan selamat.
Rania berusaha sekuat tenaga menginjak pedal rem saat sadar bahwa mobil yang semula berada disebelah kirinya itu tiba-tiba menyalip dan berbelok ke kanan tanpa menyalakan lampu sen. Mobil nya berhasil melambat, mobil hitam itupun berhasil berbelok dengan mulus. Tapi, belum sempat Rania menghela nafas lega, kepalanya justru membentur setir mobil dengan keras kurang dari sedetik setelah suara hantaman di bagian belakang mobilnya terdengar karena di tabrak oleh sebuah truk. Mobil Rania terdorong ke depan beberapa meter, terseret di tembok pembatas jalan hingga akhirnya berhenti setelah menubruk mobil di depannya dan menyebabkan kecelakaan beruntun. Hal itu menyebabkan tubuh Rania banyak mengalami benturan. Hanya sekian detik Rania sempat mendengar gemuruh yang tak dapat dia mengerti berasal dari mana, sebelum tenggelam dalam gelap.
***
Terkadang Samudra tak mengerti tentang tujuan hidupnya sendiri. Apa dia tidak berhak memilih apa yang ingin dia lakukan dan apa yang tidak? Apakah cowok 16 tahun seperti dirinya memang harus sempurna seperti apa yang Ayah tekankan? Beberapa kali Samudra ingin mengilang, tidak, tidak selamanya, hanya beberapa waktu untuk meluruskan kembali otaknya yang rasanya sudah tak beraturan, dan untuk menyembuhkan hatinya yang sudah dipenuhi luka tak kasat mata.
Untuk itu, Samudra sempat menyesali telah membuka kedua matanya pagi ini. Bersamaan dengan cahaya matahari yang mulai merangkak masuk ke dalam ruangan itu, Samudra dengan pelan menyibak pejam yang dia pertahankan sejak semalam. Rasanya ingin dia pingsan lagi, sungguh. Apalagi mengetahui bahwa hanya Om Surya yang berada disampingnya, tak ada Ayah, tak ada Bunda, dan Samudra masih terlalu malas untuk menanyakan keberadaan kedua orang tuanya itu. Karena biasanya, jawabannya tak akan jauh-jauh dari mereka masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
"Kata dokter kondisi kamu udah stabil, cuman perlu banyak istirahat aja soalnya kemarin tubuh kamu hampir dua hari penuh nggak ke isi apa-apa." Surya menjelaskan kembali apa yang dikatakan dokter tadi. Tapi hanya gumaman yang Samudra keluarkan sebagai jawaban.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fixing the Broken ✓
Ficção GeralKamu adalah Samudra. Yang tenangnya adalah tipuan. Menutupi segala gemuruh lara di dalam sana. Mereka bilang, menatapmu hanya akan membawa kembali perih yang memang tak pernah hilang. Hadirmu tak di inginkan. Namun, hilangmu menjadi luka yang tak...
