Samudra Hannan Alfarizi

7.7K 429 17
                                        

Jika ada hal yang dapat membuat hidup seseorang seperti tidak berarti, hingga serasa ingin menghilang walau hanya sementara. Bagi Samudra, hal itu adalah rasa bersalah dan penyesalan. Sampai tiga tahun yang lalu, Samudra masih menjadi hal berharga bagi orang itu. Sebelum Samudra melakukan kesalahan besar, satu yang membuat dia belum mendapatkan maaf hingga saat ini.

Rasa bersalah mengakar dengan kuat dalam hati anak itu. Seringkali membuatnya berfikir bodoh sampai tak sempat memikirkan diri sendiri. Seperti saat Ayah dan Bunda menuntut untuk selalu bisa memenuhi ekspektasi keduanya. Tak peduli Samudra harus merangkak hingga kehilangan nafas, dia harus mewujudkan semuanya. Dulu, beban itu seperti dapat dibagi dengan sang kakak. Namun sekarang, akibat kecerobohannya di masa lalu, kakaknya pergi dan tidak tahu kapan akan kembali, tanpa sempat memberikan maaf untuk dirinya.

Perginya Arnesh membuat Samudra seperti kehilangan salah satu pilar paling kuat dalam hidup. Sejak Arnesh meninggalkan rumah itu, perlahan-lahan Samudra seakan mulai kehilangan hak atas hidupnya. Seakan hidupnya hanya sekedar untuk bangun di pagi hari, jalani aktivitas dan tidur dimalam hari. Semua sudah di atur dan di putuskan oleh Ayah dan Bunda. Apalagi semenjak dia mendadak menjadi anak tunggal dalam keluarga, Ayah dan Bunda seperti tak pernah membiarkannya bernafas dengan benar. Selalu dituntut menjadi yang terbaik dan mendapat hukuman jika tak bisa memenuhinya. Seperti saat ini, Samudra kadang berfikir, Ayah macam apa yang tega mengurung anaknya hampir dua hari di dalam kamarnya tanpa makanan hanya karena gagal menjadi juara angkatan. Memangnya Ayah pikir Samudra ini tak butuh makan untuk tetap hidup. Jangan tanya kemana ponselnya. Sudah pasti di sita Ayah sejak kemarin.

Cowok itu masih sibuk bergerak tidak jelas di atas kasur. Berbagai posisi yang dia coba tidak ada yang berhasil membuat nyaman. Kedua tangannya masih sibuk mencengkeram perut yang sakit sejak tadi pagi. Mungkin efek tidak terisi makanan sejak kemarin menjadi penyebab maag nya kambuh seperti ini. Sudah berkali-kali juga anak itu berlari ke kamar mandi karena ingin muntah, dan tentu saja tidak ada apapun yang keluar dari mulutnya selain air liur. Untung saja Samudra masih punya simpanan air mineral. Kalau tidak mungkin dia sudah pingsan karena dehidrasi. Ayahnya benar-benar tidak punya hati, pikirnya. Kadang Samudra juga berpikir sebenarnya dia ini benar-benar anak Ayahnya atau bukan. Lagipula Bundanya juga kemana? Apa tidak ada niat untuk mengeluarkan anaknya yang tampan ini?

"Sakit banget." Rintihnya.

"Kenapa sih perut nggak bisa banget di ajak kompromi dikit." Samudra beralih posisi menjadi miring ke kanan. Membelakangi posisi pintu.

"Bunda kemana sih? Nggak kangen apa sama gue?" Anak itu bermonolog sambil meringis menahan sakit.

"Lagian Ayah tega banget, nggak tahu apa kalau gue sampe begadang buat dapet peringkat tiga seangkatan itu?"

"Ya emang nggak tahu sih." Lanjutnya dalam hati. Diikuti dengan sudut bibirnya yang terangkat sedikit, tersenyum miris.

"Coba ada elo kak."

Suara pintu yang terbuka mengejutkan Samudra. Cowok itu berusaha menetralkan ekpresi dan nafasnya dengan cepat. Dia tahu itu Ayah. Dan dia tidak mau Ayah melihatnya kesakitan seperti ini.

Suara langkah kaki Ayah semakin dekat. Samudra tidak berniat untuk mengganti posisi. Berharap dia tidak harus bertatapan dengan Ayah secara langsung. Samudra tidak yakin wajahnya cukup segar untuk terlihat baik-baik saja.

"Malam ini kamu boleh keluar." Ayah berdiri disamping ranjang. Lelaki itu masih memakai seragam polisi nya. Mungkin baru saja pulang.

"Iya, Yah. Makasih." Jawab Samudra lirih. Terdengar suara helaan nafas dari belakangnya. Samudra menduga Ayahnya kecewa lagi, dan kali ini Samudra benar-benar bodoh untuk dapat menebak apa alasannya.

Fixing the Broken ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang