16 ✍️

3.8K 294 20
                                        

Samudra pernah menyukai pagi karena menurutnya pagi adalah awal yang baik untuk semua hal terjadi dalam satu hari. Pagi adalah saat untuk membuka kembali lembar putih kosong untuk kita menulis kisah baru setelah malam menutup halaman sebelumnya. Namun hari ini, rasanya ia belum siap untuk bertemu lagi dengan dunia, bahkan untuk sekedar membuka mata dan bangun dari tempat tidur, ia harus menghabiskan waktu yang tidak sebentar. Setelah bersembunyi seharian kemarin nyatanya masih belum berhasil membuat Samudra siap menghadapi segala beban yang ia bawa di pundak rapuhnya.

Tubuhnya belum baik, Samudra sepenuhnya sadar akan hal itu. Kepalanya masih pusing dan ia masih merasakan sakit akibat pukulan Badai tempo hari. Tapi hari ini ia punya tanggung jawab besar untuk mengikuti olimpiade mewakili sekolahnya. Jika saja ia tidak membawa harapan banyak pihak, mungkin ia akan memilih menyerah. Masa bodo dengan semua waktu dan tenaga yang telah dia buang untuk mempersiapkan olimpiade ini. Samudra masih lelah, jiwa dan raganya belum sembuh, meski dia pun juga tidak tahu kapan ia akan benar-benar pulih. Tapi apa boleh buat, Samudra sadar ia tidak boleh egois. Ada banyak pihak yang menaruh harapan besar padanya, sekolahnya sudah pasti, serta Ayah dan Bunda. Meski raga Bunda tidak lagi ada di sisinya, tapi Samudra tetap tidak mau mengecewakan.

Samudra meletakkan gelas kosongnya di atas meja setelah selesai minum untuk membasahi kerongkongannya yang kering. Wajah anak itu pucat, siapapun dengan penglihatan normal pasti menyadarinya. Ia buka ponselnya untuk melihat kembali pesan Ayah tadi pagi yang memberinya semangat untuk mengerjakan soal-soal olimpiade hari ini. Detik itu ia menghela napas panjang, karena alih-alih memberinya semangat, kalimat Ayah justru membuatnya merasa semakin tertekan.

Hingga akhirnya fokus Samudra teralih saat ia menyadari ada langkah yang mendekat. Samudra menoleh dan mendapati Arnesh sudah berada di samping meja makan.

"Lo udah mau sekolah?" Arnesh bertanya, tapi Samudra tetap diam. Anak itu masih terkejut dengan kedatangan Arnesh dan ia juga masih bertanya-tanya apakah Arnesh benar-benar sedang membuka percakapan.

"Lo ngajak ngomong gue?" Tanya Samudra dengan wajah bodohnya.

Sejenak raut wajah Arnesh terlihat kesal. "Kebetulan ada setan di belakang lo."

Kalau saja itu bukan kalimat canda pertama yang diucapkan Arnesh setelah bertahun-tahun, mungkin saat ini Samudra sudah tertawa tebahak-bahak. Tapi karena otaknya sendiri masih mencerna semua rasa antara bingung, senang dan perasaan lain yang bercampur aduk, ia hanya mampu tertawa kecil dan menahan semua rasa humornya.

"Aduh kak, lo tuh ya, biasanya aja kayak balok es berjalan. Ini sekalinya ngomong ngelawak, kan gue jadi ge-er."

Namun, Arnesh tetaplah Arnesh yang dingin dan beku. Lelaki itu hanya menghela nafas jengah dan berdecih kecil.

"Nggak usah ngeselin. Tuh makan, nggak sengaja bikin kebanyakan dari pada mubadzir." Ucapnya sambil menggerakkan dagunya mengarah ke meja.

Pandangan Samudra spontan teralih ke arah yang ditunjuk sang kakak dan kedua matanya membola kala melihat semangkok bubur disana. Kenapa tadi dia tidak melihatnya? Tidak-tidak, ada hal lain yang membuat Samudra lebih terkejut. Arnesh memasak sarapan untuknya! Yah, meski tadi Arnesh bilang karena masak kebanyakan, sih. Tapi tetap saja hal kecil itu sudah berhasil membuat Samudra terharu dan senang bukan main. Ah, rasanya Samudra mau terbang.

"Lo beneran masak buat gue nih ceritanya. Nggak usah gengsi kali kak. Mana ada orang sibuk kayak lo masak bubur pagi-pagi gini kalau nggak sengaja buat gue. Iya kan, ngaku aja deh!"

Tapi sepertinya Arnesh lupa kalau adiknya ini tengilnya minta ampun. Arnesh hanya geleng-geleng kepala saja. Lagipula, jangan sampai ketahuan kalau yang di bilang Samudra memang benar. Arnesh tidak suka bubur, dia hanya makan bubur saat sedang sakit karena terpaksa. Jadi memang tidak mungkin ia akan merelakan waktu paginya hanya untuk memasak bubur sebagai sarapan.

Fixing the Broken ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang