17 ✍️

3.8K 282 23
                                        

Samudra berjalan santai memasuki gerbang sekolah. Paginya kali ini cukup normal seperti biasa. Meski ia tadi pagi ia tak sempat bertemu Arnesh karena sepertinya lelaki itu sudah pergi sejak pagi. Samudra berharap hari ini akan berlalu dengan baik. Demam dan pusing yang ia alami kemarin sudah membaik. Ia sudah mengerjakan semua PR nya, sudah belajar materi pelajaran hari ini dan ia tidak lupa membawa seragam olahraganya.

Semuanya berjalan sebagaimana mestinya hingga ia mulai mendengar bisik-bisik dari beberapa siswa. Awalnya ia tak menyadari ada yang aneh, tapi lama-lama ia merasa beberapa siswa memandangnya dengan tatapan yang tidak ia pahami. Tadinya Samudra mengabaikan, namun semakin jauh ia melangkah ke dalam sekolah, semakin banyak pula siswa yang ada dan bisik-bisik itu pun semakin jelas. Tatapan tidak menyenangkan dari mereka juga mulai membuatnya tidak nyaman. Pada akhirnya, Samudra penasaran dengan apa yang terjadi. Semua tatapan aneh itu memang ditujukan padanya atau itu hanya perasaannya saja?

Samudra masih berjalan santai meski hatinya kini bertanya-tanya. Ia tinggal melewati lorong ini dan masuk kelas. Namun, bisikan yang cukup keras itu terdengar jelas di telinganya, hingga tanpa sadar langkahnya terhenti.

"Tapi kalo emang bener dia pernah bunuh orang, kenapa nggak di penjara? Serem banget."

Samudra mengernyit. Ia melihat ke arah gerombolan siswi yang sedang asik dengan obrolannya itu. Hingga salah satu diantara mereka tidak sengaja bersitatap dengan Samudra dan langsung membuang pandang. Sudah seperti tertangkap basah. Lalu, gadis itu mengajak teman-temannya segera pergi dari tempat itu. Kini Samudra semakin merasa memang ada yang tidak benar, ada hal yang terjadi dan ini menyangkut dirinya.

"Wah, berani juga lo dateng sekolah hari ini."

Suara dari arah belakang mengalihkan perhatian Samudra. Cowok itu berbalik dan mendapati wajah-wajah familiar berjalan ke arahnya.

Nando berhenti tepat di depan Samudra. Ia menatap Samudra dengan tatapan tajam namun merendahkan. Kali ini ia hanya bersama Neil, entah si Badai itu berada dimana.

"Masih nggak nyangka sih ternyata di sekolah kita ada kriminal. Kok bisa-bisanya santai banget kayak nggak punya dosa."

Samudra segera paham jika Nando yang mengatakan. Tapi ia masih tidak mengerti mengapa para siswa lain juga seakan menuduhnya.

"Maksud lo apaan?"

Nando mendecih. Masih setia memasang ekspresi merendahkan sang lawan bicara. Seakan Samudra benar-benar tidak punya harga diri.

"Lo liat sendiri aja di mading. Badai udah pernah ngasih peringatan buat nggak ngadu ke siapapun tentang semua hal yang kita lakuin ke lo. Tapi salah lo sendiri ngadu. Sekarang terima akibatnya. Badai nggak pernah main-main sama omongannya."

Kini jantung Samudra berdetak lebih cepat dari seharusnya. Rasa panas mulai menjalar dalam dada. Takut dan khawatir menjadi satu. Ia berusaha membuang pikiran buruk dalam kepalanya. Tapi semua terlalu nyata, ia sungguh takut apa yang ia khawatirkan benar-benar terjadi.

Dengan cepat Samudra berlari menuju mading. Kerumunan di depan sana memaksanya berhenti. Ketakutannya semakin nyata. Apalagi saat semua mata itu kini tertuju padanya. Samudra benar-benar tidak dapat membaca apa yang tersirat dalam semua tatapan mata itu. Hingga sebuah poster besar di mading tertangkap jelas oleh sepasang netranya. Meskipun ia sudah dapat melihat dengan jelas isi poster itu, entah mengapa kaki Samudra tetap membawanya mendekat, seolah ingin semakin meyakinkan diri dengan apa yang dilihatnya.

Tepat di depan papan pengumuman itu, Samudra merasa kakinya lemas luar biasa. Dadanya sesak dengan tiba-tiba. Poster dengan tulisan 'PEMBUNUH' yang tetuju padanya berhasil membuat anak itu seperti kehilangan akal. Samudra bergeming, namun tidak dengan isi kepalanya. Pelan ia menggeleng, tidak habis pikir dengan semua yang terjadi. Badai benar-benar melakukannya.

Fixing the Broken ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang