"Pusing banget."
Arnesh duduk di pinggir tempat tidur sambil memijat pelipis. Sebenarnya sejak tadi siang ia sudah sadar ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Ditambah lagi dia nekat hujan-hujanan sewaktu pulang tadi. Arnesh pikir mandi air hangat bisa sedikit mengurangi rasa sakit di tubuhnya, tapi ternyata dia salah, kondisinya masih sama saja. Sekarang dia menyesali keputusannya menerjang hujan tadi sore.
Lelaki itu hendak merebahkan tubuh di kasur saat terdengar bunyi bel dari luar. Dalam hati Arnesh ingin mengumpat, siapa yang bertamu malam-malam begini, apalagi di tengah hujan deras. Tapi, akhirnya dia beranjak keluar juga.
Arnesh mengernyit saat melihat siapa yang berdiri di depan itu, seingatnya dia belum pernah melihat wanita ini.
"Saya guru les privatnya Samudra, Pak. Benarkan ini rumahnya Samudra?" Ujar wanita berusia tiga puluh tahunan itu.
Arnesh berdecih mendengar nama itu. Mau tidak mau Arnesh membiarkan wanita itu masuk dan mempersilahkannya duduk di sofa ruang tamu.
"Telfon aja anaknya. Saya mau ke kamar dulu."
Tapi, belum sempat wanita itu menjawab suara dingin Arnesh. Panggilan dari arah samping mengalihkan perhatian keduanya.
"Bu Rahma." Samudra berjalan tergopoh dari arah dapur sambil membawa dua gelas air di kedua tangannya. Wanita yang dipanggil itupun kembali berdiri setelah duduk beberapa detik.
"Saya Samudra, Bu. Maaf ya bu. Les nya malem-malem begini. Ayah saya emang suka ngadi-ngadi kalo bikin jadwal."
"Oh iya, nggak apa-apa. Sudah biasa kok." Ujar wanita itu ramah.
"Kok lo nggak bilang apa-apa sih sama gue?" Tanpa di duga, tiba-tiba Arnesh menyela.
Samudra dapat melihat raut tidak suka dari wajah itu. Mungkin Arnesh merasa dirinya lancang karena seenaknya membawa orang asing masuk ke rumahnya.
"Sorry kak, Ayah juga ngasih taunya mendadak. Gue belum sempat ngasih tau lo."
Arnesh hanya menghela nafas kasar. Lelaki itu berniat kembali ke kamarnya, namun terhenti karena suara Samudra.
"Gue bikinin jahe hangat nih." Ucap anak itu sambil menyodorkan gelas di tangan kanannya.
Namun, sepertinya Arnesh terlalu beku untuk menangkap tulus yang Samudra berikan. Lelaki itu masih bergeming di tempatnya. Arnesh memutar bola matanya jengah, kemudian menghembuskan nafas kasar.
"Buat lo aja." Kemudian lelaki itu bergegas melanjutkan langkahnya menuju kamar.
Seharusnya Samudra sudah siap dengan jawaban itu, tadi dia sudah berencana akan mengejar sampai sang kakak mau menerimanya. Dia tahu Arnesh sedang tidak enak badan. Tadinya Samudra ingin membuat minuman itu hanya untuk dirinya guna mencegah tubuhnya rewel setelah terguyur hujan. Tapi, seketika dia ingat dengan Arnesh yang demam tadi sore.
"Jadi belajar dimana?" Suara Bu Rahma memecah lamunan sekilas Samudra.
"Oh, disini aja bu."
"Oke. Kamu masuk angin?" Tanya wanita itu.
"Enggak sih. Cuman buat nyegah aja." Samudra tertawa ringan, kemudian berjalan menuju meja dan meletakkan dua gelas jahe hangat itu.
"Kakak kamu kayaknya agak sakit ya? Wajahnya pucet."
Seketika kalimat Bu Rahma membuat Samudra tertegun sejenak. Rasa khawatir itu kembali hadir. Tak sadar ekor matanya terarah ke pintu kamar sang kakak. Sedetik kemudian, anak itu menjawab.
"Iya bu. Tapi ya gitu, suka sok jaim orangnya." Jawabnya ringan.
Bu Rahma terkekeh pelan. "Mau di anter dulu aja jahe hangatnya? Nggak apa-apa kok." Ujarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fixing the Broken ✓
Genel KurguKamu adalah Samudra. Yang tenangnya adalah tipuan. Menutupi segala gemuruh lara di dalam sana. Mereka bilang, menatapmu hanya akan membawa kembali perih yang memang tak pernah hilang. Hadirmu tak di inginkan. Namun, hilangmu menjadi luka yang tak...
