13 ✍️

3.5K 262 8
                                        

Jika ia ditanya, dalam waktu satu hari, kapan Arnesh merasa paling kesepian? Maka lelaki itu akan menjawab, ketika ia bangun tidur dipagi hari. Dulu, saat Raline masih berada di sisinya, sosok itulah yang akan ia lihat pertama kali ketika pejamnya terbuka. Dulu, wanita itu yang akan membangunkannya dengan sentuhan halus di pipi. Lalu, awal hari yang begitu menyenangkan akan membawa kesempurnaan di hari itu.

Kini setelah tiga tahun kepergiannya, kebiasan sang istri tersebut masih melekat kuat dalam ingatan, mengikutinya setiap hari. Tak jarang lelaki itu sengaja menahan pejam sekalipun kesadarannya telah kembali penuh. Diam-diam ingin merasakan kembali kehadiran sosok terkasih. Setelah detik berlalu, ketika ia telah siap menerima kembali kenyataan bahwa sosok itu telah tiada, barulah ia membuka kedua matanya.

Pelan, Arnesh mengedarkan arah pandangnya ke jam kecil di atas nakas. Pukul tiga pagi. Meski pusing masih sedikit di rasa, tapi setidaknya tubuhnya sudah tidak berdenyut sakit di sana-sini seperti semalam. Badannya belum bisa dikatakan baik, tapi ia rasa, ia sudah bisa merawat dirinya sendiri setelah ini.

Suara nafas seseorang yang masuk ke indra dengarnya membuat Arnesh tersadar akan sesuatu. Ia tatap sang adik yang masih tertidur pulas di sisi tempat tidur. Ditatapnya wajah itu, pejamnya sempurna. Beberapa menit yang lalu, Raline menguasai alam pikirannya. Kini, ketika kedua netranya menangkap sosok Samudra di hadapan, seolah membuat memori yang muncul semakin kuat. Tidak lagi hanya kehangatan sang istri, namun juga siapa penyebab sosok itu tiada.

Ingatan itu kembali, rasa sakit akan kehilangan seolah kembali menimbulkan percikan-percikan api dalam dada. Kedua tangannya kini terkepal. Tanpa sadar, kening lelaki itu berkerut. Arnesh memejamkan matanya yang mulai memanas. Berusaha meredupkan kembali api amarahnya sekaligus menahan agar tidak terisak.

Namun, tak berselang lama, suara dering ponsel seolah menjadi pelebur sesak yang menyiksa. Memaksa Arnesh kembali membuka mata. Lalu, di lihatnya Samudra yang mulai bergerak pelan. Tak mau mengalami situasi yang aneh, Arnesh memutuskan memejamkan mata lagi, pura-pura tidur. 

Samudra mengambil ponsel dari saku hoodie nya, lalu mematikan alarm yang ia pasang pukul tiga pagi. Anak itu sedikit merintih karena tubuhnya pegal-pegal. Tidur dengan posisi duduk tidak pernah benar-benar nyaman. Ia memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri hingga terdengar suara persendian yang melegakan.
Ditatapnya sang kakak yang masih tidur. Samudra meletakkan punggung tangannya ke dahi Arnesh.

"Udah lumayan turun panasnya." Ucapnya masih dengan suara serak.

Samudra berdiri, karena dirasa tubuhnya masih kaku, anak itu kembali melakukan peregangan.

"Udah kayak remaja jompo aja gue."

"Gara-gara lo nih, Kak. Untung gue sayang."

Samudra tersenyum tipis. Tapi, hanya sebentar, karena setelahnya kedua sudut bibir itu kembali turun. "Jangan lama-lama dong marahnya. Lo nyeremin kalo galak gitu."

"Gini-gini gue tetep adek lo. Kita tetep brojol dari rahim yang sama."

Samudra mendesah, membuang nafas kasar. "Ya udah gue ke kamar dulu ya. Mau sholat biar jadi anak sholeh. Sekalian berdo'a supaya gue bisa cepet nempel lo lagi."

Tepat setelah bunyi pintu ditutup terdengar, Arnesh menyibak pejamnya lagi. Dengan pelan, ia mengubah posisi menjadi duduk. Diliriknya kantong kresek berisi obat dan gelas air yang isinya tinggal setengah di atas nakas. Omongan tidak jelas Samudra tadi membawanya pada kejadian tadi malam. Ia ingat betul ketika dirinya jatuh di dapur, lalu sang adik membawanya ke kamar dan merawatnya hingga ia memejamkan mata. Ia juga ingat kalimat yang Samudra ucapkan ketika anak itu mengira dirinya sudah tertidur.

"Kapan lo mau maafin gue, kak?"

Arnesh membuang nafas kasar. "Nggak tau." Jawabnya entah pada siapa.

Fixing the Broken ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang