Kamu adalah Samudra. Yang tenangnya adalah tipuan. Menutupi segala gemuruh lara di dalam sana.
Mereka bilang, menatapmu hanya akan membawa kembali perih yang memang tak pernah hilang.
Hadirmu tak di inginkan. Namun, hilangmu menjadi luka yang tak...
"Ar, jangan nangis di sini. Kasihan Samudra kalau air mata kamu jatuh di sini." Usapan pelan terasa di pundak kiri Arnesh. Panji menarik tubuh lemah putra sulungnya ke dalam dekapan untuk kesekian kalinya.
"Tinggal kita berdua di sini. Masih belum mau pulang, hm?" Panji bertanya dengan suara yang ia buat setenang mungkin. Meski dadanya sendiri terasa sesak bukan main. Telapak tangannya masih setia mengusap punggung sang putra.
"Aku nggak tega ninggalin dia sendiri, Yah. Selama ini Mudra selalu pengen deket sama aku. Aku pengen nemenin Mudra terus." Arnesh menjawab dengan suara seraknya. Ia menumpukan dagunya di pundak sang Ayah.
***
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Part Lengkap aku bawa ke Karyakarsa. Selamat membaca disana ya..
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.