14 ✍️

3.5K 309 29
                                        

"Lo langsung pulang?"

"Iya, nih gue udah pesen ojol." Samudra menunjukkan layar ponselnya pada Dio. Dio mengangguk sebagai jawaban lalu kembali fokus pada aplikasi ojek online di ponsel.

"Btw, makasih loh udah mau minjemin seragam lo. Gue pake sampe pulang dulu nggak apa-apa kan? Besok gue balikin setelah gue cuci."

Dio menoleh, menatap Samudra sejenak sebelum menjawab. "Iya santai, kayak sama siapa aja."

Pemuda itu tersenyum, bersyukur karena Tuhan masih memberinya orang-orang baik disekitar. Tak berselang lama, suara Dio kembali terdengar, kali ini anak itu berpamitan untuk pulang lebih dulu.

"Dra, gue duluan ya. Jangan lupa istirahat. Belajar ntar malem lagi." Dio memasukkan ponselnya ke dalam tas sebelum melenggang pergi. Kini Samudra sendiri di lorong sekolah itu, menunggu abang ojek yang belum juga sampai.

Samudra memutuskan untuk memainkan salah satu game di ponsel guna membunuh waktu. Ia terlalu fokus hingga kedua indra dengarnya tak dapat menangkap suara langkah kaki dari belakang yang semakin mendekat. Hingga si pemilik kaki jenjang itu berdiri tepat di depan Samudra dan membuatnya terkejut.

"Apes banget ya lo ketemu gue lagi." Ucap Badai dengan tatapan liciknya. Berlagak seolah bertemu Samudra adalah sebuah kebetulan. Padahal sebenarnya ia sudah menunggu anak itu sejak tiga puluh menit yang lalu. Tentu saja ia tidak sendiri, akan selalu ada Nando dan Neil yang siap mengekorinya kemana saja.

Samudra mengangkat kepalanya. Anak itu berdecak, kesal dan malas karena lagi-lagi harus berurusan dengan Badai dan teman-temannya.

"Lo mau ngapain lagi sih? Heran gue, hobi banget ganggu ketenangan hidup orang."

Sudut bibir sang lawan bicara terangkat sebelah, ia mendecih. "Tenang?"

"Enak banget hidup lo bisa tenang di saat lo harusnya menderita?"

Samudra dapat melihat kelam di kedua iris pemuda itu. Kelam yang seolah menyimpan api begitu besar di dalam. Sama seperti milik kakaknya.

"Mau lo apa sih? Minggir gue mau pulang." Samudra berusaha mendorong bahu Badai supaya pemuda itu bergeser dan ia bisa segera pergi. Namun, lagi-lagi tenaganya kalah kuat. Bukannya badan Badai bergeser, kini justru lengannya yang di cekal kuat oleh Badai. Samudra mengernyit kala cengkeraman itu semakin kuat.

"Lo harus tanggung jawab sama kelakuan lo tadi siang. Gue rasa lo perlu di kasih pelajaran biar nggak kurang ajar sama gue."

"Ikut gue!"

Belum sempat Samudra menjawab apapun, lengan kanannya sudah di tarik paksa, kini lengan kirinya pun sudah di genggam kuat oleh Nando. Ia berusaha melawan, tapi percuma. Kini langkah kakinya menurut kemana Badai dan Nando membawanya.

Mereka sampai di salah satu kamar mandi. Tubuh Samudra di dorong paksa ke dalam kamar mandi itu. Lalu, dengan cepat Neil mengunci pintu dari dalam. Kamar mandi ini jarang di pakai karena berada di tempat yang jarang dilalui siswa. Hanya ada satu bilik toilet dan satu wastafel di dalamnya. Apalagi kondisi sekolah memang sudah tidak seramai tadi siang. Benar-benar waktu dan tempat yang tepat untuk melakukan perundungan.

Samudra meringis ketika tubuhnya di lempar begitu saja di atas lantai kamar mandi. Tatapan pemuda itu begitu kental dengan amarah dan Samudra dapat melihatnya dengan jelas.

"Gue udah bilang kan, urusan lo sama gue belum selesai. Lo harus di hajar biar nggak kurang ajar sama gue."

Samudra menelan ludah mendengar suara lantang Badai, ia menggigit bibir dalamnya, menyalurkan rasa takut. Jika sudah begini, ia yakin dirinya tidak akan pulang dalam keadaan baik-baik saja. Ini bukan pertama kalinya. Tanpa sadar, Samudra beringsut mundur dengan desir menyakitkan dalam dada.

Fixing the Broken ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang