8 ✍️

3.6K 301 21
                                        

Sejak awal Samudra sudah tahu bahwa perjalanannya dalam mengambil kembali hati sang kakak tak akan mudah. Berkali-kali dia meyakinkan diri bahwa tidak apa-apa harus menebalkan muka hanya demi berinteraksi dengan Arnesh. Ini baru permulaan. Perjuangannya baru saja meninggalkan garis start dan masih terlalu jauh dengan garis finish

Maka dari itu, Samudra bertekad akan melakukan apapun. Tidak peduli dia harus melakukan hal penting atau hal receh seperti menunggu kakaknya pulang untuk di ajak makan malam bersama seperti ini. Jarum pendek jam menunjuk tepat di angka delapan, berarti sudah satu jam lebih anak itu menunggu di meja ruang makan sambil berharap cemas.

Samudra menatap beberapa lauk dan sayur yang tersedia di atas meja hasil kerja kerasnya memasak selama hampir dua jam. Makanan itu seakan ikut menjadi dingin karena menemani Samudra menanti Arnesh pulang. Sudah tak terhitung berapa kali Samudra melihat jam tangannya, kemudian secara spontan menatap  ke arah pintu masuk dapur dengan harapan sosok sang kakak akan muncul dari sana sesuai kebiasannya yang baru Samudra sadari kemarin. Arnesh selalu langsung menuju dapur untuk mengambil air minum setelah pulang kerja.

Anak itu mulai putus asa. Jujur saja dia sudah menahan lapar sejak tadi. Samudra menelungkupkan kepalanya di atas meja dengan menjadikan lengan kanannya sebagai alas. Samudra mulai memejam, namun suara pintu terbuka dari arah depan membuatnya terkejut hingga terbangun dengan cepat.

Ketika suara langkah itu semakin dekat, saat itu juga jantungnya serasa berdegup lebih cepat. Tepat seperti dugaannya, Arnesh langsung menuju dapur untuk mengambil air. Maka kesempatan ini tentu saja tidak akan pernah Samudra sia-siakan.

"Kak." Panggilnya cepat ketika Arnesh sudah berdiri di depan dispenser.

Arnesh hanya melirik sekilas. Sebelum memilih untuk mengabaikan. Lelaki itu hendak beranjak setelah menuntaskan hasratnya melepas dahaga sebelum suara Samudra kembali menginterupsi.

"Makan malem yuk, lo belum makan kan? Ini semua gue masak sendiri loh. Khusus buat makan kita berdua." Samudra berbicara sembari bergerak mendekat dengan cepat.

Melihat Arnesh yang menunjukkan gerak-gerik akan segera melanjutkan langkah. Samudra tidak mau kalah.

"Kak, please. Kita udah tiga hari tinggal bareng tapi masa belum pernah makan bareng?"

"Lagian, gue tu tiap hari masakin lo sarapan sama makan malem tapi nggak pernah lo makan. Please lah, kali ini di makan ya. Gue masak ini dengan susah payah nih." Lanjutnya.

Arnesh mendesah jengah sebelum hendak kembali melangkahkan kaki. Namun, lagi-lagi dia kalah cepat dengan Samudra yang tiba-tiba saja sudah mencekal pergelangan tangan kanannya. Tidak menunggu waktu lama hingga Arnesh menghempaskan genggaman Samudra begitu saja.

"Apaan sih. Gue capek. Jangan bikin gara-gara deh lo." Hardiknya.

Samudra sempat mengerjap sebentar akibat terkejut setelah Arnesh membentaknya. Dengan cepat dia berusaha menetralkan degup jantung serta ekspresi wajahnya.

"Elo deh yang apa-apaan. Udah jelas dari tadi tuh gue ngajak makan. Itung-itung biar usaha gue masak nggak sia-sia gitu lo. Makan yuk."

"Lo nggak denger gue bilang capek?"

"Ya makanya orang capek tuh makan dulu, baru istirahat."

"Gue nggak sudi makan masakan lo."

Samudra kira, sudah beberapa hari bersama dengan Arnesh cukup untuk membuatnya terbiasa dengan segala kalimat kasar sang kakak. Namun, membiasakan sakit hati memang tidak pernah sesederhana itu. Seperti saat ini, mendengar kalimat penolakan tajam dari Arnesh nyatanya masih bisa menggoreskan luka di hatinya. Untung saja Samudra sudah mahir mengatur ekspresi wajahnya sehingga orang yang melihatnya tidak akan tahu bahwa dirinya tengah terluka.

Fixing the Broken ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang