Samudra tidak tahu berapa lama tepatnya dia tidur. Semalaman anak itu harus berjuang dengan rasa tidak nyaman di tubuhnya terutama bagian perut. Berguling-guling di kasur mencari posisi yang nyaman meskipun selalu gagal. Bahkan dia tidak sempat menghitung berapa kali dia harus berlari ke kamar mandi karena mual. Jadi, saat bunyi alarm membangunkannya subuh ini, rasanya Samudra tidak rela untuk membuka kedua netranya.
Tapi apa boleh buat, selama ini Samudra selalu berdo'a supaya mendapat kebahagiaan setelah dia mati nanti. Lagipula, dia juga tidak mau nanti dirinya berakhir jadi tukang parkir liar minimarket jika tidak sekolah di masa mudanya. Jadi, walaupun dengan kondisi tubuh yang belum bisa di bilang baik, anak itu memaksakan diri untuk bangun dan mengambil air wudhu sebelum melaksanakan kewajiban ibadahnya.
Jujur saja sampai saat ini, Samudra masih bingung dengan kejadian semalam. Ada angin apa yang membuat Arnesh tiba-tiba membelikannya makanan. Terlebih lelaki itu mau makan berdua dengannya tanpa banyak berdebat. Rasanya Samudra ingin berharap, tapi di sisi lain, anak itu juga takut kecewa karena menaruh harapan terlalu dini.
Pada akhirnya, setelah bergelut dengan pikirannya sendiri selama beberapa menit. Samudra memutuskan untuk berusaha lagi. Entah perlakuan kakaknya semalam itu dapat diartikan sebagai apa. Namun, yang Samudra tahu, dia hanya harus terus mencoba dan berjuang. Maka dari itu, dengan tekat bulat Samudra akhirnya memutuskan membuat sarapan lagi pagi ini. Siapa tahu dia dapat mengulangi keberuntungannya semalam.
Dengan langkah pasti anak itu bergerak menuju dapur. Sudah terbayang dalam otaknya ingin membuat menu apa. Tapi sepertinya kali ini Samudra harus rela karena takdir belum mengizinkannya menumpuk harapan. Terbukti dengan langkahnya yang harus terhenti setelah melihat Oma sudah sibuk menyiapkan berbagai makanan di meja makan.
Samudra tentu masih ingat obrolan terakhirnya dengan wanita itu. Terlalu sulit untuk menghilangkan bekas luka yang tak terlihat oleh mata. Anak itu menelan ludah, gusar jelas tergambar di wajahnya. Samudra masih diam, hingga suara wanita yang sangat ia hormati itu terdengar. Suara itu halus, namun berbanding terbalik dengan kalimat yang keluar darinya yang mampu merobek hati Samudra sedemikian rupa.
"Kok kamu di sini?" Sepertinya Oma benar-benar lupa cara berbicara baik-baik dengan Samudra. Terbukti dari tatapan wanita itu yang menukik tajam saat kedua netranya menangkap hadir Samudra.
"Oma kira kamu nggak jadi ikut Arnesh. Kamu ngapain di sini?" Belum sempat Samudra menjawab, wanita itu sudah kembali bersuara.
"Udah Oma bilang kan, kamu nggak perlu ikut Arnesh. Kamu pasti bakal nyusahin aja kalau di sini. Tau sendiri kan kakak mu juga nggak suka deket-deket kamu?"
Dada Samudra sesak secara tiba-tiba. Rahang anak itu mengeras. Tanpa sadar kedua tangannya sudah mengepal kuat sejak Oma mengucapkan kata pertama. Meskipun Oma tidak pernah menunjukkan secara terang-terangan, Samudra sadar sedari dulu Oma memang tidak pernah sayang padanya sama seperti bagaimana wanita itu menyayangi Arnesh. Namun, kini sepertinya sosok renta itu tidak mau lagi repot-repot menyembunyikan perasaannya demi menjaga perasaan Samudra.
Tidak mau sunyi menguasai lebih lama lagi, Samudra memaksakan diri untuk memberikan respon, meskipun anak itu memilih mengalihkan pembicaraan.
"Oma dateng jam berapa? Kok aku gak dengar?" Samudra melangkah dengan pasti menuju meja makan.
Samudra dapat mendengar decakan ringan dari sana. Wanita itu memilih melanjutkan pekerjaannya tanpa memberikan reaksi lebih.
"Aku bantu ya Oma." Samudra berniat mengambil termos yang dia duga berisi sup itu. Tapi dengan cepat Oma menepisnya.
"Nggak usah!"
Samudra sempat tersentak. Sebelum akhirnya berucap kembali menawarkan bantuan.
"Kalau gitu aku siapin nasinya deh."
KAMU SEDANG MEMBACA
Fixing the Broken ✓
Ficción GeneralKamu adalah Samudra. Yang tenangnya adalah tipuan. Menutupi segala gemuruh lara di dalam sana. Mereka bilang, menatapmu hanya akan membawa kembali perih yang memang tak pernah hilang. Hadirmu tak di inginkan. Namun, hilangmu menjadi luka yang tak...
