4 ✍️

4.2K 364 25
                                        

Petrikor dari luar yang merayap masuk melalui celah jendela kaca melebur dengan bau kopi yang saat ini menemani Arnesh dan Rafa. Bagi Arnesh, Rafa bukan sekedar sepupu yang lahir dari rahim tantenya. Tapi Rafa adalah sahabat dan saudara tempat Arnesh mengeluhkan segala hal sejak dulu. Meskipun komunikasi mereka sempat berkurang sejak Arnesh pindah ke Korea Selatan, tapi nyatanya Rafa masih menjadi tempat bercerita paling nyaman baginya.

Seperti saat ini, ketika Arnesh di buat bingung dengan banyak hal semenjak kepulangannya ke tanah air. Dia tidak punya tempat bercerita selain pada Rafa. Jadilah Arnesh menculik sepupunya itu ke sebuah cafe sore ini.

"Terus rencana lo sekarang gimana?" Tanya Rafa

"Rencana apaan?" Tapi Arnesh malah balik bertanya dan itu sukses membuat Rafa berdecak sebal.

"Nggak usah sok bego." Jawabnya kesal.

Arnesh terkekeh ringan. Lucu juga mengerjai sepupunya ini.

"Gue udah ada kerjaan, Raf. Lo nggak usah khawatir." Arnesh menjawab dengan serius kali ini.

"Kerja apaan? Cepet amat."

"Ya tetep jadi Marketing Manager di perusahaan yang sama tempat gue kerja di Korsel, kan mereka juga punya kantor di Jakarta. Gue sebenernya udah ngajuin pindah dari beberapa bulan yang lalu, dan baru di acc sebulanan yang lalu lah. Kayaknya takdir berjalan pas banget, Raf. Lucu sekaligus miris juga kalau di pikir-pikir." Jawab laki-laki dua puluh tujuh tahun itu.

Rafa hanya bisa diam mendengar cerita Arnesh. Rasanya dia sudah terlalu banyak mengatakan kalimat penenang untuk sepupunya itu.

Sadar bahwa suasana menjadi sedikit canggung, Arnesh berusaha mengalihkan fokus pembicaraan.

"Udah deh, lo nggak usah khawatir kalau masalah kerjaan gue. Lagian gaji gue lumayan, bisalah kalau mau beli motor tiap bulan, masih ada kembalian." Lanjut Arnesh dengan nada sok sombongnya. Tapi, hal itu justru membuat Rafa berdecak kesal lagi. Rafa pun melayangkan jitakan ke kepala sepupunya itu.

"Auuwh. Apa-apaan sih lo." Arnesh mengaduh. Memandang kesal ke arah Rafa.

"Siapa juga yang khawatirin elo. Pede banget jadi orang."

"Ya terus lo ngapa nanya-nanya. Udah deh lo itu kalo peduli nggak usah sok gengsi segala. Gue tahu lo sayang sama gue."

Dari dulu Arnesh sebenarnya bukanlah orang yang akan tertawa terbahak-bahak karena lelucon receh, tapi laki-laki itu masih bisa bercanda dan tersenyum tulus saat bersama orang yang tepat.

"Nyesel gue nanya." Ucap Rafa sembari mencebik seperti anak kecil. Tapi tak lama, karena saat menatap kembali ke wajah Arnesh, Rafa menyadari raut wajah sepupunya itu telah berubah.

"Raf.." Panggil Arnesh.

"Hmm?"

"Sebenarnya gue ngajak lo kesini juga karena ada yang mau gue tanyain ke elo. Sebenarnya sih, lebih ke minta pendapat." Jawab Arnesh kemudian.

Rafa hanya mengernyit tidak paham. Tapi dia tidak bertanya dan membiarkan Arnesh melanjutkan kalimatnya.

"Gue jahat nggak ya sama Bunda. Kalo gue nggak mau mewujudkan permintaan terakhirnya?"

Suara Arnesh terdengar lirih. Menandakan bahwa laki-laki itu memang sedang dilanda kebingungan. Sebagai anak, tentu saja sebenarnya Arnesh tidak tega jika harus menolak permintaan terakhir Rania. Tapi di sisi lain, dia merasa benar-benar tidak bisa jika harus berdekatan dengan Samudra dalam jangka waktu lama.

"Lo mau gue kasih saran yang bener-bener berasal dari hati gue, atau saran asal-asalan cuman biar lo seneng?" Rafa serius dengan pertanyaannya, karena mungkin saran yang akan dia berikan, tidak akan disetujui oleh Arnesh.

Fixing the Broken ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang