2 ✍️

4.6K 398 43
                                        

Mobil hitam itu mendadak berkurang kecepatannya ketika si pengemudi menyadari lampu lalu lintas akan segera berganti menjadi merah. Hingga dalam hitungan detik, mobil itu berhenti tepat di belakang garis putih. Lelaki itu menghela nafas. Mengapa dari dulu hingga sekarang, kota ini seperti menolak untuk bersahabat dengannya. Dia harus segera sampai di rumah, sudah empat hari dia terlambat.

Lelaki itu menyibak rambut depannya ke belakang. Kedua matanya ia arahkan ke angkasa yang terlihat begitu kelam. Gerimis kecil yang sejak tadi berjatuhan pun seakan mendukung sendu hati Arnesh malam ini. Jika tidak terpaksa, dia tidak akan pernah lagi kembali ke kota ini. Jika bukan untuk menghadiri pemakaman Bunda, dia akan tetap menggunakan sejuta alasan agar dia tetap bisa berada di tempat nyamannya di Korea Selatan. Karena baginya, kembali ke Jakarta berarti membuka luka lama yang telah membusuk di dalam hati. Kembali ke Jakarta, berarti dia harus bertemu dengan orang yang ia harap tak pernah lagi ia temui selama hidup.

Lampu berganti warna menjadi hijau, mobil hitam dan gagah itu kembali melesat lincah membelah jalanan kota. Bertahun-tahun berada di Negara asing tak membuat Arnesh melupakan seluk beluk kota dimana dia dibesarkan. Hingga pintu gerbang tinggi dan kokoh itu menyambutnya.

Pintu rumah itu tidak tertutup, atau lebih tepatnya, masih terbuka, dan Arnesh menduga pasti karena acara tahlilan baru saja selesai. Ada setitik ragu yang membuat lelaki itu masih berdiam diri di depan pintu. Rasa sesak yang mati-matian ia kubur selama bertahun-tahun kembali muncul ke permukaan. Dia pergi dalam keadaan duka, sekarang dia kembali juga dalam keadaan duka. Duka yang mirip tapi sedikit berbeda. Tapi sama-sama menghilangkan orang-orang tersayangnya.

Ada satu hal lagi yang menahan kaki Arnesh untuk melangkah, dan inilah alasan terbesarnya, bagaimana jika dia bertemu anak itu? Bagaimana caranya dia nanti mengontrol emosinya? Bagaimana jika dia kembali mengamuk seperti beberapa tahun lalu?

Arnesh beberapa kali menghela nafas dalam dan menghembuskannya, bermaksud meredakan sedikit gemuruh dalam dadanya. Lalu, kedua tungkai itu melangkah, memasuki pintu rumah yang sejak tadi menyambutnya. Arnesh hanya berharap, semoga bukan wajah anak itu yang akan pertama ia tangkap ketika memasuki rumah. Namun, seakan takdir memang tak pernah mendengar apa inginnya. Jantungnya kembali berdetak lebih cepat ketika kedua matanya bersitatap dengan sepasang mata itu. Tak ada kata yang terucap. Langkah Arnesh mendadak berhenti, begitupun anak itu. Padahal dia terlihat sedang membawa mangkok besar yang masih ada isinya. Hal yang mungkin Arnesh tidak tahu, bukan hanya dia yang kembali merasakan sesak, bukan hanya dia yang kini sedang kesakitan, bukan hanya dia yang tiba-tiba menjadi bisu tak bisa berkata-kata, bukan hanya dia yang sedang mati-matian menahan air mata. Anak itupun sama.

"Arnesh.."

Panggilan Om Surya menyadarkan keduanya dari kebekuan sementara. Laki-laki paruh baya yang tidak lain adalah kakak dari Panji, Ayahnya Arnesh dan Samudra. Surya berlari tergopoh-gopoh dari arah belakang karena tak sabar ingin memeluk keponakannya yang sudah tiga tahun tak bertemu. Surya memeluk Arnesh erat, tapi lelaki jangkung itu belum memberikan respon yang berarti. Pikirannya masih terlampau kosong saat ini. Hingga sepersekian detik berikutnya, barulah pikirannya tersadar dan bibirnya mulai mengembangkan senyum meskipun terpaksa. Kedua tangannya juga mulai bergerak membalas pelukan kakak dari Ayahnya itu.

"Om Surya apa kabar? Maaf aku telat om. Ada beberapa hal yang harus diurus dulu soalnya disana."

Surya melepaskan pelukannya, tapi kedua tangannya masih memegang pundak Arnesh sambil menatap keponakannya yang sangat dia rindukan itu.

"Nggak papa, yang penting kamu pulang dengan selamat. Itu udah lebih dari cukup. Om baik, tante baik, Ayah sama Samudra sebelum ini sebenarnya juga baik. Tapi ya sekarang pastinya mereka lagi nggak baik-baik aja, Ar. Kita juga sama, kehilangan, tapi Ayah kamu, Samudra sama kamu pasti merasakan hal yang lebih dari pada kami semua."

Fixing the Broken ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang