Sudah jam sembilan malam tapi Samudra masih berkutat dengan laptop di meja belajarnya. Kata Dika, saat Samudra tidak masuk kemarin, mereka di beri tugas kelompok membuat materi presentasi dan akan di presentasikan besok. Karena Samudra tidak bisa ikut menyusun materi, jadilah ia di tugas kan membuat PPT. Untung hari ini ia tidak ada jadwal les malam, jadi ia bisa lembur mengerjakan tugas.
"Dikit lagi selesai." Monolognya. "Lagian Dika ngasih tau mendadak banget, gue udah masuk dari kemarin, baru di kasih tau hari ini." Gerutunya.
Sedang asik fokus pada slide-slide di aplikasi itu, tiba-tiba satu notifikasinya muncul di layar yang menunjukkan baterai laptopnya akan habis sebentar lagi.
"Lah... aduh, cukup nggak ya nih baterainya?" Ucapnya khawatir. Ia bergegas mencari charger laptop yang seingatnya masih berada di dalam tas sekolah. Tapi sial sekali, charger itu tidak ada disana.
"Loh, kok nggak ada?" Anak itu masih berusaha merogoh tas sekolahnya. Namun hasilnya nihil, charger nya tak ada disana.
Sambil mendengus kesal, Samudra berusaha mengingat dimana ia terakhir kali melihat alat pengisi daya itu. "Dimana sih? Perasaan tadi di tas deh." Ia pijat pelan pelipisnya yang mendadak pusing.
Ia bermonolog berusaha mengingat runtutan apa saja yang ia lakukan hari ini. "Gue inget banget tadi pagi bawa laptop sama charger-nya, terus di sekolah di pake materi jam ke tujuh, terus laptop gue di pinjem Dika buat main game bentar." Di akhir kalimatnya, kedua mata anak itu membola, ia ingat sesuatu.
"Masa iya masih ke bawa Dika ya?"
Tak banyak berpikir lagi, ia langsung menghubungi sahabatnya itu. Beruntung Dika langsung mengangkat telepon di percobaan pertama.
"Halo." Dika menyapa dari seberang.
"Halo. Eh, Dik. Charger gue masih ada sama lo?" Tanya Samudra tanpa basa-basi.
"Masa sih?" Tanya Dika, masalahnya ia juga tidak yakin.
Setelah beberapa saat, akhirnya suara Dika terdengar lagi.
"Eh, iya , Dra, ini charger lo masih ada di tas gue." Jawabnya terdengar panik,
Samudra spontan menepok jidat. "Mampus, gimana nih. PPT nya belum selesai."
"Bentar-bentar gue cari solusi." Ujar Dika.
Selang beberapa detik, suara anak itu terdengar lagi. "Dra, lo pinjem laptop kakak lo aja, lah." Dika memberi saran.
Kedua bola mata Samudra sedikit melebar. "Iya juga, sih." Pikirnya. Meskipun agak ragu, mau tak mau ia harus mencoba solusi itu.
"Iya deh, gue coba minta ijin dulu."
"Yaelah, pasti boleh lah. Adeknya lagi butuh masak nggak boleh."
"Ck. Iya-iya." Dengusnya.
"Ya lo nggak tau masalahnya." Ujar Samudra dalam hati.
Entah bagaimana jawaban kakaknya nanti, yang ia tahu, ia tak punya banyak waktu. Jadi, dengan cepat ia buka aplikasi Whatsapp di laptopnya, membuka percakapannya dengan sang kakak dan mengirim dokumen itu ke sana. Jadi nanti ia tinggal mengunduh dokumennya menggunakan laptop milik Arnesh.
Setelah selesai dengan urusannya, Samudra segera keluar kamar menuju kamar Arnesh. Ia buka pintu itu, kakaknya terlihat sedang santai sambil membaca buku di atas tempat tidur.
Sadar pintu kamarnya terbuka tanpa di ketuk terlebih dulu, apalagi terlihat Samudra berdiri di samping daun pintu itu tentu mengundang perhatian Arnesh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fixing the Broken ✓
Ficção GeralKamu adalah Samudra. Yang tenangnya adalah tipuan. Menutupi segala gemuruh lara di dalam sana. Mereka bilang, menatapmu hanya akan membawa kembali perih yang memang tak pernah hilang. Hadirmu tak di inginkan. Namun, hilangmu menjadi luka yang tak...
