CHAPTER XV

71 16 71
                                        

Dengan celana jeans hitam pekat, baju kaos putih berlengan pendek bertulisan STAFF di bagian depan dengan posisi baju yang di masukkan ke dalam, membuat ketampanan seorang pria bernama Grey De Leon ini tak pernah lenyap di makan usia. Semakin hari ketampanannya semakin bersinar, layaknya mentari yang semakin meninggi memancarkan sinarnya keseluruh sudut-sudut dunia.

"Kau datang?" Sapaan lembut di pagi hati Jiwoo lanturkan pada pria bernama lengkap Grey De Leon. Senyumannya terpancar begitu indah, rasa lega dalam benak kian memuncak membuat rasa senang dan aman menyelimuti jiwa sang penyapa.

Grey tak menjawab, ia hanya mengangguk pelan kemudian tersenyum tipis. Tatapan keduanya saling bertemu, seolah saling mengungkap jika rasa bahagia hadir di antara keduanya.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Grey, masih di posisi yang sama, di depan pintu kamar hotel milik sang dewi, bahkan kaki pria itu belum memasuki kawasan bilik mewah itu dengan tangan kanan yang menenteng sebuah koper berwarna hitam berukuran 18 inci, sedangkan tangan kiri di masukkan kedalam saku celana bagian depan di sebelah kiri pula.

"Aku baik-baik saja." Jawab Jiwoo lembut.

"Apa Jungkook menghampirimu disini semalam?"

"Tidak. Ia bekerja."

Grey menarik nafasnya dengan panjang, menghibur udara untuk mengisi dadanya yang sesak lantaran hadirnya rasa marah di dalam hati. Jangan tanya kenapa, karena jujur ia kecewa pada wanita di hadapannya saat ini. Setelah panggilan mereka berakhir di telepon semalam, wanita itu mengirimi pria ini sebuah pesan singkat di salah satu aplikasi chatting, dimana gadis cantik itu memberitahu pada Grey untuk tidak terlalu khawatir pada kondisinya, karena wanita itu yakin jika Jungkook akan menemaninya malam ini di hotel. Tapi benar dugaan Grey, wanita cantik bernama panggung Janne ini bukanlah prioritas utama bagi idol tampan itu. Pekerjaan tetap berada di posisi pertama dalam hidup pria bertato itu, lagipula siapa Jiwoo baginya dan apa alasannya untuk "harus" menemani wanita itu sedangkan ia saja tidak tahu masa lalu sang wanita.

"Kau sudah makan?" Grey bersuara, mengalihkan emosinya yang hampir saja tersulut api.

"Aku menunggumu untuk makan bersama." Jawab Jiwoo. "Masuklah dulu, bersihkan badanmu dan istirahatlah terlebih dahulu sebelum kita pergi makan bersama."

Jiwoo bergeser ke arah belakang, tangannya masih menahan daun pintu dengan lebar mempersilahkan sang tuan untuk memasuki ruangan pribadi yang di sewa di salah satu gedung mewah di Seoul.

"Sepertinya kondisimu jauh dari kata baik-baik saja, matamu menghitam seperti mata panda. Apa kau bergadang semalaman?" Grey berucap dengan langkahnya terus menapak lantai kamar hotel dengan gagah, tanpa menoleh pada sang lawan bicara.

Sang dewi bergumam, mengiyakan perkataan pria tampan itu.

Tubuh tegap Grey De Leon berhenti melangkah, kakinya terdiam dengan sempurna. Lehernya memutar 180 derajat ke sebelah kiri, mencoba menatap sang gadis yang sudah berada di belakangnya. "Tak masalah, sekarang sudah ada aku disini." Ujarnya sembari tersenyum.

Hanya senyuman yang muncul di bibir sang dewi. Seperti putri yang tersesat di dalam hutan belantara pada malam hari, tanpa cahaya dan minimnya harapan untuk bisa selamat dan keluar dari kegelapan itu, tapi semua itu di tepis oleh semesta. Grey De Leon di hadirkan oleh semesta dan di torehkan takdir untuk membantu gadis itu keluar dari kegelapan malam, membantu sang putri untuk melihat istana yang indah di luar sana.

Rasa bahagia tak pernah usai semenjak retinanya menangkap sosok adam tampan itu berada tepat di hadapannya kini. Jika boleh ingin sekali tangannya menggapai raga pria itu dan mendekapnya erat di dalam pelukan, apa daya ia taklah selancang itu untuk memeluk pria bernama Grey itu. Ini Grey, pria yang sedikit ia segani dan hormati. Berbanding terbalik dengan Jimin ataupun Jungkook, kedua pria itu berbeda lagi ceritanya.

Hot Woman🔞 [On Going]Stories to obsess over. Discover now