CHAPTER VIII

121 32 147
                                        

Sebuah dinding kaca besar menjadi penghalang bagi seorang perempuan untuk memandang seorang pria di ujung sana, terlihat familiar tapi tak kunjung bisa di tebak lantaran efek kabur yang di munculkan oleh dinding kaca tersebut. Setangkai bunga lily putih menjadi penghias dalam genggaman, setangkai bunga misterius yang tak tahu darimana asal datangnya. Keindahan kelopak bunga menjadi poin penting disini, di genggam erat lantaran tak ingin bunga itu melayang seperti fikiran sang wanita yang menari-nari atas rasa penasaran pada sosok di balik dinding kaca besar ini.

Ingin ia ketuk dengan kuat dinding indah di hadapannya guna melihat sosok di ujung sana yang sedari tadi berdiri tapi tak kunjung bergerak. Sumpah demi apapun rasa penasaran telah memenuhi jiwa dan tlah membara lantaran ingin tahu akan kegiatan pria itu dan siapa gerangan pria tersebut.

"Apa yang kau lakukan disitu?" Suara seorang pria mengalun di tengah rasa penasaran yang tlah memuncak pada sang gadis akan sosok di ujung sana.

Tubuhnya bergerak, menolehkan pandangannya pada pria yang berdiam diri tepat di belakang raganya.

"Siapa itu Jim?" Tanya sang gadis pada manager tampan yang dari tadi menatapnya aneh.

"Buat apa kau penasaran? Itu tak penting." Ujar pria itu acuh, tetapi masih menatap aneh pada sang wanita.

"Bagaimana tidak penting, ia berada di dalam ruanganmu! Daritadi hanya diam seperti patung, tak kunjung keluar araupun bersuara." Jawab sang putri.

Pria yang di panggil Jimin oleh sang lawan bicara tergelak seketika, merasa lucu akan tingkah laku wanita itu.

"Kenapa tertawa?" Terlihat Jiwoo kesal, ingin rasanya ia menghantam keras kepala pria itu agar berhenti tertawa.

"Apa kau bodoh Ji?" Jimin bersuara.

"Apa maksudmu?" Tanya Jiwoo keheranan. Sumpah, ia tak mengerti dengan manager-nya itu.

"Kau bodoh? Itu patung Ji!" Pekik Jimin dengan sedikit keras.

Jiwoo mengangga, menatap tajam pada wajah tampan Jimin di hadapannya, merasa heran akan apa yang barusan pria itu ucapkan.

"Maksudmu?" Tanya wanita itu kembali.

"Dasar bodoh! Itu patung, baru ku beli dan barusan datang beberapa menit yang lalu ketika kau tengah pemotretan." Jawab Jimin. Tangan kekarnya tak tahan untuk tak menyentuh kepala wanita cantik itu, dengan geram ia memukul pelan raga sang wanita yang paling atas.

"Yak!" Pekik Jiwoo.

"Kenapa berteriak?!" Pekik Jimin juga, tak ingin kalah dari Jiwoo.

"Kau ini bodoh Jim, bodoh!" Seru Jiwoo geram.

Jimin tertawa, merasa geli akan perkataan dan tingkah laku gadis itu. Sungguh, Jiwoo itu adalah manusia palinh bodoh sejagat raya, seksi seperti dewi Aphrodite tapi bodoh seperti kodok.

"Dia yang bodoh tak bisa membedakan patung dengan manusia, tapi marahnya denganku." Monolog Jimin, berbicara dengan nada pelan agar tak di dengar model seksi itu.

Langkah kakinya segera meniti lantai berkilau yang terlihat sangat indah, dengan patulan keramik berwarna cream membuat lebih cerah dan sedap untuk di pandang.

"Bunga dari siapa itu Ji?" Tanya Jimin di sela-sela langkah besarnya, mencoba mencairkan suasana.

"Tak perlu tahu!" Ujar wanita itu dengan keras.

Jimin hanya menarik nafasnya dengan kasar, sungguh ia merasa tak pantas untuk di marahi karena ia tak memiliki kesalahan disini. Tapi siapa yang ingin mengalah jika Jimin mempertahankan egonya pada wanita si ratu egois? Cantik memang, tapi keras seperti batu. Sedikit sulit untuk di jinakkan jika menggunakan api, hanya butuh tetesan air agar bisa membentuknya menjadi sesuatu yang indah.

Hot Woman🔞 [On Going]Stories to obsess over. Discover now