CHAPTER XX

62 3 20
                                        

Menjadi bagian dalam cerita hidup sang dewi adalah hal yang berat. Terkadang pahit, terkadang manis pula seperti Jimin.  Grey De Leon, pria tampan itu yang sudah memberikan hidupnya bertahun-tahun untuk bergabung di cerita pahit sang dewi, menjadi bagian penting dalam hidup wanita itu. Rasa sayang yang kian menjadi-jadi tak bisa di pungkiri lagi. Tak ingin kehilangan dan tak ingin menjalani hidup tanpa pria itu mungkin pernyataan yang sering kali ku sebutkan untuk menggambarkan perasaan sang gadis berparas cantik itu pada pria berdarah Eropa dan Asia tersebut.

"Beneran harus pulang hari ini?" Sedikit rasa sedih hadir dalam lubuk paling dalam ketika mendengar kabar jika pria tampan itu harus segera kembali ke LA secepat mungkin.

Grey mengangguk, mencoba untuk menyembuhkan rasa sedih sang dewi dengan senyum manisnya yang kerap ia pancarkan. "Jangan sedih, telepon ku akan selalu ada untukmu. Kabari aku jika terjadi sesuatu padamu."

Jiwoo mengangguk. Tangan kanannya mencoba menepis air mata yang sejak tadi keluar tak karuan.

"Pasien ku bukan hanya kau Ji, jadi aku masih punya tanggungjawab di LA. Lagipula disini ada Jimin, takkan ada yang bisa menyentuhmu jika Jimin bersamamu." Ucap pria itu sembari memasukkan barang-barangnya ke dalam koper yang berukuran sedang.

"Ku harap begitu." Sahut sang dewi. "Sampai kapan kau akan menerima pasien lain selain diriku? Apa uangku tak cukup untukmu?"

"Tentu saja! Anak yatim piatu sepertiku mana bisa menerima sedikit uang darimu saja."

Dengan nada yang pelan, wanita itu melangkahkan kaki menuju sosok pria tampan itu. Kedus kakinya ia lekuk guna menjajarkan tinggi mereka agar lebih nyaman ngobrolnya. "Grey, kau tahu tidak?"

"Tahu apa?" Tanya Grey penasaran ketika melihat sosok wanita cantik nan seksi itu sudah berada di sisinya.

Jiwoo mencondongkan badannya, mendekat ke arah sang adam. "Aku memiliki seorang psikiater, dia itu tampan dan kaya. Meski ia kaya raya, tapi sangat perhitungan!"

Grey tertawa keras ketika mendengar nada bicara dan mimik wajah sang dewi ketika bercerita menyindir dirinya. Ingin rasanya ia mengigit pipi wanita cantik itu lantaran rasa kesal dan juga geram yang menyatu ketika kembali mengingat ekspresinya bercerita tadi.

"Dimana Jimin?" Tanya Grey di sela-sela tawanya.

"Kenapa tanya Jimin? Kau mau bercinta denganku?" Ungkap wanita itu dengan santai.

Grey memukul wanita tersebut dengan pelan, kemudian berkata, "Jangan kau goda aku Ji! Aku ini ahlinya dalam bercinta, skill Jimin yang sering kau puji itu akan kalah jika milikku sudah memasuki liangmu." Balas Grey pula dengan santai.

"Buktikan! Jangan hanya berbicara."

"Perlu aku membuka bajuku disini? Ingin melihat tubuhku?" Suara Grey mengalun sembari tangannya berusaha melepas kancing kemeja biru muda yang ia kenakan.

"Grey De Leon, aku hanya bercanda!" Pekik wanita itu dengan keras, tangannya berusaha menggagalkan aksi nekat pria tersebut.

"Why? Bukankah ingin aku menunjukkan skill ku dalam bercinta? Don't worry Janne, ukuran punyaku tak kalah dengan milik Jimin."

"Dasar bodoh!" Maki Jiwoo, wanita itu kemudian pergi meninggalkan Grey seorang diri.

Tanpa wanita itu sadari Grey merasa lega karena perempuan itu masih sadar jika perlakuan panas itu tak bisa mereka lakukan. Why? Karena Grey adalah psikiater sang gadis, seseorang yang wanita itu percaya akan kehadirannya tanpa menyentuh sesenti pun tubuh indahnya.

 Why? Karena Grey adalah psikiater sang gadis, seseorang yang wanita itu percaya akan kehadirannya tanpa menyentuh sesenti pun tubuh indahnya

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Hot Woman🔞 [On Going]Stories to obsess over. Discover now