CHAPTER XVI

45 9 31
                                        

Dinginnya malam menyapu indra peraba, gelapnya langit kian terasa indah ketika ribuan bintang melintang menghias bumi dengan kerlap kerlip nan menawan. Jika di siang hari sang surya meninggi dengan terik, di malam hari adalah jadwalnya sang bulan menghiasi cakrawala. Meninggi setinggi-tingginya, dengan cahayanya yang kian berkilau membuat malam ini semakin terasa nikmat.

"Seandainya saja kota ini memberiku banyak bunga di masa lalu, mungkin kota inilah kota favorit pertamaku."

Alunan nada bicara seseorang memecah keheningan malam di salah satu taman ternama Yang berada di kota Seoul. Dengan keunikannya yang di sertai dinding yang tinggi Berwarna cream di daerah ketinggian, membuatnya semakin nyaman untuk menikmati di malam hari. Bahkan dari sini terlihat hamparan cahaya yang berasal dari perkotaan Seoul menerangi dinginnya malam, seperti lautan bintang.

"Apa bunga lily tidak cukup membuatmu menyukai kota ini?" Ujar sang pria dengan tatapan lurus ke depan, menatap ribuan gedung yang berkelip indah di depan sana.

"Bunga lily ku kalah dengan tajamnya duri mawar." Jawab sang gadis disertai senyuman lirih di ujung bibirnya yang menawan. "Seandainya saja waktu bisa di putar, aku akan pergi sejauh mungkin sewaktu belia, meninggalkan duri itu dan tak mengikuti perkataan lily indahku."

Sang pria berbadan tegap itu hanya terdiam, nada bicara sang gadis begitu lembut tapi begitu menyakitkan di relung atma. Apa katanya tadi? Seandainya waktu bisa di putar? Pria itu tahu, begitu banyak dan begitu besar penyesalan yang terbentuk di dalam kalbu sang gadis cantik penyuka bunga lily itu.

"Aku tahu begitu menyakitkan di masa lalu, bagaimana duri itu menancap dalam dirimu dan membuat mu muak akan cerita hidup ini. Seandainya saja kau pergi di kala itu, mengikuti kata hatimu kebanding kata lily putihmu, mungkin aku takkan pernah bertemu denganmu. Bahkan Jimin sekalipun, kau takkan pernah bertemu dengan pria manis itu." Grey bersuara, tatapannya masih menatap di depan tanpa menoleh pada gadis yang berdiri di sampingnya.

Jiwoo tersenyum, seolah membenarkan perkataan yang Grey lanturkan barusan. Mata indahnya mulai berpaling dari panorama di depan sana, menatap indahnya ciptaan Tuhan di sampingnya. Rahang yang tegas, dengan hidung mancung dan alis yang tebal. Disertai bibir yang menggemaskan seperti buah cherry, wajah adam ini sungguh nikmat untuk di pandangi.

"Terkadang aku tak mengerti pada semesta Grey, bukankah terlalu kejam memberiku cerita hidup seperti ini?" Ucap sang gadis. Rambut-rambutnya sedikit bergerak karena ulah nakal angin malam.

Sang pria yang di jadikan lawan bicara oleh gadis itu mulai mengalihkan atensinya pada sang model yang namanya tengah melambung tinggi. Namanya begitu harum, tapi tidak dengan kisah hidupnya. Sangat miris! "Apa kau tahu jika semesta memberi takdir sesuai kemampuan orang tersebut? Mungin kau muak dan merasa lelah, tapi semesta tahu jika kau wanita yang kuat."

Tatapan keduanya bertemu, tak ada kata yang muncul di antara keduanya. Hanya tatapan hangat yang saling menyelami satu sama lain. Seolah sedang memahami dan mencoba mengerti atma yang tengah terluka melalui tatapan nan lekat itu.

"Apa wajar jika aku iri padamu? Grey De Leon, pria berdarah Filipina dan Inggris. Asia dan Eropa, dua benua besar mengalir Kental dalam darahmu. Ibu, seorang gadis dari Filipina yang menjadi dokter bedah di Manila, dan sang ayah, seorang pria asal Inggris yang bekerja sebagai pengusaha besar yang mampu menguasai Filipina, Thailand, Indonesia, bahkan Eropa sekalipun." Ucap Jiwoo, dengan senyuman manis seolah memberi jeda pada lidahnya untuk berucap kembali. "Terlahir dari keluarga kaya raya, diberi fasilitas terbaik di kelasnya dan di anugrahi wajah serta otak yang tampan. Bukankah hidupmu terlalu sempurna Grey?"

"Jangan hanya memandang kesempurnaan yang di berikan kedua orang tua ku. Tapi lihatlah diriku, tak bisa berdiri tanpa mereka. Sedangkan dirimu? Seorang wanita cantik dengan perkasa berdiri sendiri dan memulai karir hingga mengalihkan dunia dengan bakatmu yang cemerlang! Kurang hebat apalagi Janne?" Sahut Grey.

Hot Woman🔞 [On Going]Stories to obsess over. Discover now