Pelarian

98 3 0
                                        

Namaku Mayqhira Azwah Mihra. Usiaku baru menginjak 16 tahun saat itu, terlahir sebagai anak tunggal dari pasangan Ahta Mihra dan Mina Mihra. Kedua orang tuaku adalah pemilik sebuah usaha pakaian kecil yang tidak terlalu terkenal. Kendati demikian, bagi kami, kesederhanaan itu sudah lebih dari cukup untuk merajut hari-hari yang penuh kehangatan.

Kami tinggal di sebuah sudut kota yang dikelilingi oleh perumahan para buruh dan pekerja pabrik. Meskipun sederhana, kawasan itu tidak pernah sepi dari energi positif. Selalu ada gelak tawa dan sapaan ramah dari para tetangga yang begitu pengertian, membuat lorong-lorong rumah terasa seperti pelukan hangat.

Namun, roda nasib berputar begitu kejam.

Dua tahun setelah Perusahaan MH usaha rintisan keluargaku mulai merangkak naik menuju kesuksesan yang lebih besar, sebuah tragedi merenggut segalanya. Kedua orang tuaku tewas dalam kecelakaan lalu lintas maut di tengah perjalanan pulang ke Jakarta, selepas menyelesaikan urusan bisnis di Korea Selatan. Dalam sekejap, duniaku runtuh tanpa sisa.

Kehilangan orang tua bukanlah akhir penderitaanku. Aku kemudian dititipkan kepada bibi kerabat dari pihak ayah yang ternyata bermuka dua. Alih-alih merawatku sebagai keluarga, ia justru memperlakukanku layaknya pesuruh tak berharga. Selama tiga tahun penuh, duniaku disempitkan hanya menjadi dua hal: sekolah dan bekerja tanpa henti.

Kini, di usiapu yang menginjak 19 tahun, tubuhku penuh dengan memar sisa siksaan bibi dan sepupuku. Setiap hari, telingaku harus bernanah mendengar makian bahwa aku adalah "anak pembawa sial" yang menjadi penyebab kematian orang tuaku.

Puncak dari mimpi buruk itu tiba hari ini. Setelah tiga tahun menahan siksaan yang tak berkesudahan, bibi tega menjualku kepada seseorang yang bahkan tidak kukenal wajahnya.

"Apa... Bibi benar-benar akan menjualku?" tanyaku dengan suara bergetar, tertahan di tenggorokan, sementara mataku terpaku menatap lantai rumah yang kusam.

Bibi mendengus sinis, melotot tajam ke arahku. "Tentu saja! Buat apa aku harus repot-repot memelihara anak pembawa sial sepertimu lebih lama lagi? Kamu cuma beban!"

Tanpa memberi kesempatan untukku bernapas, bibi melemparkan sebuah dress putih sederhana ke hadapanku.

"Pakai itu! Jangan sampai kamu berani memalukan aku di depan orang yang ingin membelimu. Sudah untung ada yang sudi melirik sampah sepertimu!" maki bibi dengan suara menggelegar penuh kebencian.

Dengan tangan gemetar dan hati yang remuk redam, aku mengenakan dress tersebut dalam kepasrahan yang pekat. Tak butuh waktu lama, bibi menarik lenganku kasar, menyeretku keluar kamar menuju ruang tamu tempat sang pembeli telah menanti.

Transaksi itu berlangsung dingin. Setelah sejumlah uang berpindah tangan dan guratan tanda tangan dibubuhkan di atas kertas perjanjian, aku digiring ke luar rumah. Di pekarangan, sebuah mobil mewah berwarna hitam legam sudah terparkir megah. Dua orang pria berbadan tegap berjas hitam berdiri siaga di samping pintu, membukakannya untukku dan seorang pria paruh baya yang tampak mendampingi.

Sebelum tubuhku sepenuhnya masuk ke dalam mobil, aku menoleh sekali lagi ke belakang. Pandanganku menyapu rumah tempat masa kecilku tersimpan namun kini rumah itu tampak semakin menjauh, buram, lalu lenyap ditelan jarak.

Di dalam mobil yang ber-AC dingin, aku duduk kaku di kursi belakang. Diam-diam, aku melirik sekilas ke arah pria paruh baya yang duduk di sampingku. Ia menoleh, lalu menyunggingkan senyuman tipis yang menenangkan. Melihat kelembutan itu, secercah keberanian merayap di dadaku. Aku ingin tahu, jurang maut mana lagi yang sedang menantiku di depan sana.

"Maaf, Tuan..." cicitku lirih, menundukkan kepala dalam-dalam untuk menyembunyikan sisa air mata. Napasku terasa berat menahan letih fisik dan mental yang mendera selama perjalanan menuju tempat antah-berantah ini. "Apakah... apakah Anda majikan baru saya?"

Pria paruh baya itu tersenyum lebih lebar, menatapku dengan sorot mata yang dipenuhi gelombang rasa iba.

"Bukan, Nona. Tenanglah, Anda tidak perlu takut," jawabnya lembut, menenangkan ketakutan yang bergolak di dadaku. "Para tuan kami adalah pria-pria yang sangat baik. Mereka bukan majikan Nona... melainkan, calon suami Nona."

Kata-kata itu menghantam kesadaranku bagai petir di siang bolong. Calon suami? Dan apa maksudnya dengan kata 'para tuan'?

Dari balik kaca jendela mobil, sinar matahari pagi mulai merekah, menyinari jalanan kota yang perlahan mulai ramai. Namun, kehangatan fajar itu sama sekali tidak mampu mengusir rasa dingin yang mendadak membekukan darahku. Otakku yang telanjur mati rasa mencoba mencerna informasi tersebut, menghasilkan rasa bingung yang semakin pekat.

Mobil mewah ini terus melaju membelah pagi, membawa segenap tanya yang belum terjawab ke dalam takdir baru. Sebuah takdir yang entah akan menjadi fajar penyelamat hidupku, atau justru awal dari kehancuran yang lebih dalam.

My husband  Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang