Luka yang terbaca

67 3 0
                                        


Aku hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan singkat yang dilontarkan oleh pria berwajah datar tadi. Setelahnya, aku kembali menundukkan kepala dalam-dalam. Aku masih dilingkupi rasa takut yang luar biasa. Di dalam kepalaku, ada trauma yang berbisik bahwa jika aku berani membuka suara untuk menjawab, aku akan langsung dihadiahi bentakan kasar seperti yang biasa kudapatkan dari bibi selama tiga tahun ini.

"Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku dan hanya menganggukkan kepala saja? Apakah kamu begitu takut pada kami?" tanya pria lainnya yang duduk tidak jauh dari sana.

Aku kembali mengangguk pelan, membenarkan pertanyaannya tanpa berani mendongak.

"Hah... Apakah aku memang semenakutkan itu sampai-sampai kamu tidak ingin melihat wajahku yang tampan sedunia ini?" ucap pria pertama tadi dengan nada penuh percaya diri. Namun, jujur saja di dalam hati, dia memang memiliki paras yang sangat tampan.

"Hyung, jangan perlihatkan tingkah burukmu di depan tuan putriku," sela seorang pria lain dengan suara bariton yang khas.

"Wow! Apa yang baru saja kamu katakan, V? Dia adalah tuan putriku! Enak saja kamu mengklaimnya, dasar adik kurang ajar," sahut pria tampan tadi, tidak terima.

"Bisakah kalian berdua diam? Apa kalian tidak melihat kalau dia sudah ketakutan sejak tadi, dan kalian malah sibuk bertengkar? Setidaknya, perkenalkan diri kalian terlebih dahulu," lerai pria berwajah datar yang memotong pembicaraan sebelumnya. Guratan di wajahnya kini tampak sedikit kesal melihat kelakuan saudara-saudaranya.

Pria yang mengklaim dirinya tertua itu langsung tersenyum canggung. "Ah, maaf ya, kami sampai lupa memperkenalkan diri. Perkenalkan, namaku Kim Seokjin. Pria paling tampan di antara semua orang yang ada di rumah ini bahkan di seluruh dunia. Karena aku yang paling tua di sini, kamu bisa memanggilku Jin Oppa," ucap Seokjin dengan binar mata yang ramah.

"Min Yoongi. Aku tertua kedua setelah dia," sahut pria berwajah datar tadi sambil menunjuk Seokjin dengan ekspresi malas.

"Wah, Yoongi-ah! Kamu benar-benar tidak sopan ya!" protes Seokjin seketika.

Namun, Yoongi sama sekali tidak memedulikan protes tersebut. Ia hanya menanggapinya dengan muka datar, mengabaikan teriakan Seokjin yang sempat menggema di dalam ruangan luas itu.

"Hiraukan saja mereka, Chagi. Lihat saja ke arahku. Namaku Jung Hoseok, kamu bisa memanggilku Hobi Oppa, oke?" ucap seorang pria lain sembari mengulas senyuman lebar yang sangat hangat, diiringi tawa renyah yang menenangkan.

Deg!

Jantungku berdetak dengan sangat keras untuk sesaat. Perlakuan pria bernama Hoseok itu terasa sangat manis, hingga mampu menggetarkan sudut hatiku yang selama ini beku.

"Aku Kim Namjoon. Kamu bisa memanggilku dengan sebutan apa pun yang membuatmu nyaman," ucap pria berlesung pipit tadi, perlahan mengulurkan tangan kanannya ke arahku.

Aku sempat tertegun menatap uluran tangan yang kokoh itu. Dengan gerakan ragu dan super hati-hati, aku memberanikan diri meraih jemarinya.

"Mey..." cicitku pelan. Suaraku sangat kecil, namun untungnya masih terdengar jelas di ruangan yang mendadak hening itu. Setelah menyebutkan nama, aku langsung menarik kembali tanganku dengan cepat.

Saat aku menarik tangan dengan tergesa-gesa, Namjoon menyipitkan mata dan mendapati memar kebiruan di pergelangan tanganku. Ia dan yang lainnya dengan lembut mengungkapkan kekhawatiran atas cederaku, sementara Yoongi menyebutkan sisa nama anggota lainnya yaitu Jimin, Taehyung, dan Jungkook.

Sebelum aku sempat menolak, Yoongi sudah bangkit dari duduknya. Dengan gerakan yang sangat lembut, ia menuntun langkahku yang masih lemas menyusuri koridor mansion yang sangat luas dengan dinding bercorak klasik dan lampu gantung kristal, menuju sebuah kamar untuk mengobati luka-lukaku.

My husband  Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang