Setelah percakapan singkat yang mengejutkan itu, keheningan kembali menyelimuti kabin mobil. Tidak ada lagi obrolan. Aku pun tidak berani melontarkan pertanyaan tentang ke mana roda kendaraan ini akan membawa hidupku pergi.
Sekitar dua puluh menit membelah jalanan, mobil mewah ini akhirnya melambat dan berhenti. Ketika pintu dibukakan, mataku melebar mendapati bangunan megah di hadapanku. Ternyata, aku telah sampai di bandara. Seketika itu juga, berbagai spekulasi buruk langsung menghujani isi kepalaku. Apakah aku akan dikirim ke luar negeri? Apakah organ tubuhku akan diambil dan dijual ke pasar gelap? Semua pikiran mengerikan itu terus berputar tanpa henti, memicu rasa hancur yang amat sangat. Namun, apa yang bisa dilakukan oleh gadis sebatang kara sepertiku? Tentu saja tidak ada. Pada akhirnya, aku hanya bisa melangkah lesu, mengikuti pria tua di sampingku tanpa melakukan perlawanan sedikit pun.
Langkah pria paruh baya itu terhenti tepat di depan sebuah tangga pesawat jet. Aku yakin itu adalah pesawat pribadi, sebab tidak ada penumpang lain yang naik selain diriku dan dia. Di ambang pintu pesawat, dua orang wanita berseragam rapi menyambut kami. Ya, mereka adalah pramugari. Mereka melemparkan senyum ramah sembari sedikit membungkukkan badan. Mungkin itu adalah salam formal, atau sekadar sopan santun belaka. Aku tidak terlalu paham, karena ini adalah pengalaman pertama dalam hidupku menginjakkan kaki di dalam jet pribadi yang eksklusif seperti ini.
Saat melangkah masuk, mataku langsung disuguhi oleh ruangan yang luar biasa luas dan indah. Jujur saja, tempat ini sama sekali tidak terlihat seperti interior pesawat pada umumnya. Suasananya menyerupai ruang tamu klasik yang mewah dan elegan. Dari ujung depan hingga ke belakang, semua tatanan barang tampak begitu rapi. Di sudut ruangan, terdapat sebuah pintu pembatas dengan papan nama kecil bertuliskan bedroom. Aku benar-benar terkesan dengan fasilitas di dalam pesawat ini semuanya tersedia, mulai dari rak buku yang penuh, sofa empuk, meja kerja, hingga sebuah meja di tengah ruangan yang menyajikan permainan catur dan kartu remi yang tersusun rapi.
Melihatku yang terus terpaku di dekat pintu masuk seperti patung, pria paruh baya itu tersenyum lembut. Ia mengisyaratkan agar aku duduk di sofa bersamanya, lalu mulai memperkenalkan diri.
"Nona, nama saya Rico. Anda bisa memanggil saya Rico. Saya adalah kepala pelayan di kediaman para tuan muda," ucapnya dengan raut wajah yang sangat ramah.
"Maafkan saya, Paman... jika saya memanggil nama saja, rasanya sangat tidak sopan. Apakah saya boleh memanggil Anda dengan sebutan Paman Rico?" tanyaku lirih. Aku sempat meliriknya sekilas sebelum kembali menundukkan kepala dalam-dalam.
"Tentu saja, Nona. Anda boleh memanggil saya dengan sebutan apa pun yang membuat Anda nyaman," jawabnya menenangkan.
"Em... Paman, maaf. Apakah Paman bisa memanggilku Mey saja? Rasanya panggilan 'Nona' terlalu tinggi dan sama sekali tidak cocok untuk orang sepertiku," ucapku penuh keraguan. Aku berusaha memberanikan diri menatap sepasang matanya.
Paman Rico tampak sedikit terkejut. Guratan di wajahnya mengeras sesaat sebelum ia menggeleng pelan, menolak permintaanku. "Maaf, tidak bisa, Nona. Bagaimanapun juga, Anda adalah calon nyonya kami, dan ini merupakan perintah langsung dari para tuan muda," ucapnya, menatapku dengan sorot mata yang dipenuhi rasa iba.
*Kasihan sekali Nona muda ini. Di usia yang masih sangat belia, ia harus kehilangan orang tuanya dan diperlakukan secara kejam oleh kerabatnya sendiri,* batin Paman Rico sembari terus memandangi gadis yang sebentar lagi akan menjadi pusat semesta dari ketujuh tuannya.
Waktu terus bergulir tanpa terasa. Atas bujukan dan sedikit paksaan lembut dari Paman Rico, aku akhirnya bersedia dipindahkan ke kamar tidur di dalam kabin pesawat untuk beristirahat. Kelelahan fisik dan mental yang mendera selama tiga tahun terakhir membuat mataku terpejam dengan cepat di atas ranjang yang empuk.
KAMU SEDANG MEMBACA
My husband
RomanceCerita tidak jelas dibuat ketika niat dan dibuat asal"lan 😌😌 Up tidak teratur bisa per hari , minggu , bulan ,bahkan tahun karna aku MALAS PAKE BANGET. di jual kepada 7 pria tampan,mapan ,dan baik bukanlah hal yang aku bayangkan setelah diriku d...
