Kehangatan yang Membingungkan

40 2 0
                                        

Aku melangkah pelan menuju ruang TV dengan perasaan canggung yang masih menggelayut. Di sana, Jungkook Oppa sedang duduk santai di sofa. Matanya fokus ke layar televisi besar yang menampilkan siaran kartun spons kuning tontonan yang seketika menghantam dadaku dengan rasa rindu. Dulu, aku sering menonton kartun ini bersama kedua orang tuaku, sebelum semuanya direnggut dariku.
"Hey, Oppa... apa aku boleh duduk di sini?" sapaku pelan sambil berdiri ragu di samping sofa.

Jungkook menoleh. Senyum kelincinya langsung mengembang.

"Tentu saja, Mey! Sekarang ini rumahmu, jadi lakukan apa pun yang kamu mau. Tidak perlu izin dari siapa pun."

Ia meraih tanganku dan menarikku lembut hingga duduk di sampingnya.

Aku menurut tanpa membantah. Akhirnya, aku kembali menikmati kartun yang sudah bertahun-tahun tak sempat kutonton. Bukan karena tidak ingin, tetapi karena hidup di rumah Bibi tidak pernah memberiku waktu luang, bahkan hanya untuk sekadar duduk bersantai.

"Tadi apa yang kamu lakukan di dapur, Mey? Kenapa lama sekali?" tanya Jungkook tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi.

"Ah... tadi Mey ingin membantu Tae dan Jimin Oppa mencuci piring, tapi tidak dibolehkan."

Jungkook langsung menoleh dengan wajah heran sebelum akhirnya terkekeh.

"Pantas saja mereka melarangmu. Hari ini memang jadwal mereka mencuci piring."

Tangannya mengusap rambutku dengan gemas, lalu perlahan menuntun kepalaku agar bersandar di bahunya.

"Sudah, lanjut nonton saja."

Namun, dadaku tetap terasa gelisah.

"Tapi Oppa... Mey belum melakukan pekerjaan apa pun hari ini."

"Memangnya apa yang mau kamu lakukan?"

"Apa saja. Mey akan berusaha mengerjakan semuanya."

Jungkook tersenyum tipis.

"Tidak perlu. Yang harus kamu lakukan sekarang cuma istirahat, makan yang banyak, selalu sehat, dan... bahagia."

Kata-kata itu terdengar begitu tulus. Namun, hatiku yang sudah terlalu lama hidup dalam tekanan tidak mampu langsung mempercayainya.

"Tapi Oppa... Mey sudah terbiasa bekerja keras seperti itu."

"Itu dulu. Sekarang tidak lagi."

Suara berat Namjoon Oppa membuatku mendongak.

Ia berjalan mendekat sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

"Di rumah ini ada pekerja yang mengurus semuanya. Kami tidak ingin melihatmu kelelahan mengerjakan pekerjaan rumah."

"Tapi—"

"Oppa tidak menerima penolakan."

Nada suaranya tegas, tetapi anehnya justru membuatku merasa aman.

Belum sempat aku menjawab, Yoongi Oppa tiba-tiba muncul dari belakang sofa.

"Jangan murung terus. Sini, Oppa ajarkan caranya bersantai."

Sebelum sempat bereaksi, tubuhku sudah diangkat begitu saja lalu didudukkan di atas pangkuannya. Ia menyandarkan tubuh di sofa bed, memeluk pinggangku, kemudian mulai mengusap kepalaku sambil memejamkan mata seperti biasa.

"Heii! Curang sekali, Hyung!" protes Namjoon.

Ia melangkah mendekat lalu tiba-tiba mencium pipiku.

Aku langsung menutup kedua pipiku dengan panik.

"O-Oppa... kenapa tidak bilang dulu kalau mau menciumku? Tadi Jimin dan Tae Oppa juga begitu. Tidak boleh mencium orang sembarangan, nanti bisa masuk penjara."

My husband  Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang