Teman Baru Bernama Pipi

22 2 0
                                        

Sudah enam hari sejak May dirawat di rumah sakit.

Kamar rawat yang awalnya terasa asing kini mulai terasa sedikit nyaman baginya.

Meski begitu...

May masih menghitung hari.

"Hari ini..."

"Besok May pulang!"

Serunya sambil mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi.

Perawat yang sedang mengganti infus hanya tertawa kecil.

"Iya, asal hasil pemeriksaan terakhir besok bagus."

May mengangguk semangat.

"Pasti bagus!"

"May mau pulang."

"May kangen kamar."

"May juga kangen taman."

"Dan..."

Perawat itu tersenyum.

"...mi instan?"

May langsung menutup mulutnya sendiri.

"Ups..."

"Ternyata semua orang tahu."

---

Selama beberapa hari terakhir, jadwal May selalu padat.

Pemeriksaan.

Terapi.

Konsultasi.

Latihan berjalan.

Sesi psikologi.

Awalnya May selalu menangis sebelum masuk ruang terapi.

Namun perlahan...

Ia mulai terbiasa.

Bukan karena sudah tidak takut.

Melainkan karena ada seseorang yang selalu menemaninya.

Namanya Vivian.

"Tapi semua orang manggil Pipi."

Begitulah gadis itu memperkenalkan dirinya saat pertama kali bertemu May di taman rumah sakit tiga hari yang lalu, seusai sesi psikologi.

Saat itu...

May sedang duduk sendirian di bangku taman sambil memeluk boneka kecil pemberian Hoseok.

Di sebelahnya, seorang gadis dengan rambut sebahu tiba-tiba menjatuhkan diri ke bangku.

"Halo."

May menoleh pelan.

"Halo."

"Aku Vivian."

"Panggil aja Pipi."

May tersenyum kecil.

"May."

"Aku tahu."

May langsung membulatkan mata.

"Loh?"

"Kamu terkenal."

"Perawat sering cerita."

"Katanya ada pasien yang nangis karena nggak boleh makan mi instan."

Wajah May langsung memerah.

"Itu..."

"Itu fitnah."

Pipi tertawa sampai memegangi perutnya.

Sejak hari itu...

Mereka hampir selalu menghabiskan waktu bersama setiap ada waktu luang.

---

My husband  Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang