Kehangatan

56 2 0
                                        


Yoongi menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu kayu berukuran besar dengan ukiran yang elegan. Ia membuka pintu tersebut perlahan, menampilkan kamar bernuansa putih bersih yang berpadu serasi dengan sentuhan warna merah dan krem yang elegan—desainnya persis seperti kamar yang selalu kuimpikan sebelum kedua orang tuaku meninggal dunia. Kenangan masa lalu yang mendadak berputar membuat pertahananku runtuh, dan setitik air mata menetes membasahi pipiku.

Melihat air mata itu, Yoongi panik dan langsung melepaskan genggamannya. "Kenapa menangis? Apakah aku menggenggam tanganmu terlalu kuat? Maaf, aku tidak bermaksud menyakitimu."

"Tidak, Oppa... Mey hanya tiba-tiba teringat dengan Mama dan Ayah," ucapku lirih.

Sebelum aku sempat menenangkan diri, tubuhku tiba-tiba ditarik dan diangkat ke dalam gendongan ala koala oleh Yoongi. "Gwenchana, Mey. Menangis saja, tidak perlu ditahan," bisiknya lembut sambil mengelus rambutku. Tangisku pun pecah di dadanya, meluapkan seluruh sesak yang kupendam selama tiga tahun terakhir.

Setelah tangisanku mereda, Yoongi membawaku duduk di tepi ranjang dan mulai mengambil kotak P3K yang dibawa oleh Paman Rico sebelumnya. Dengan sangat hati-hati, ia mengoleskan cairan antiseptik pada lebam di pergelangan tanganku serta luka cambukan baru di punggungku akibat siksaan bibi pagi tadi.

Tidak lama kemudian, pintu kamar terbuka lebar dan muncullah Jimin, Taehyung, dan Jungkook—disusul Jin, Hoseok, dan Namjoon yang membawa nampan berisi makanan hangat serta segelas susu. Ketiga pria yang tadinya merajuk langsung merangsek maju dan memelukku secara bersamaan dengan erat namun tetap hati-hati.

"Kenapa tubuhmu bisa sangat kurus begini, Mey? Apakah kamu tidak diberi makan oleh keluarga sialan itu?" tanya Jungkook dengan kilatan amarah di matanya.

"Hey, jaga ucapanmu di depan tuan putriku, Kuki!" tegur Hobi sambil memukul bahu Jungkook.

"Aduh, sakit, Hyung! Mey, lihat... Hobi Hyung memukulku keras sekali," adu Jungkook dengan ekspresi imut bak bayi kelinci, membuatku merespons dengan gugup, "I-iya, Oppa..."

Respon polosku membuat mereka tertawa lepas, mencairkan suasana kamar yang tadinya tegang. Setelah perdebatan kecil sengit antara Suga (Yoongi) dan yang lainnya soal siapa yang berhak mendekatiku, Suga kembali melanjutkan tugasnya mengobati lukaku sampai tuntas.

Malam itu, sebelum aku beranjak tidur dengan setelan baju tidur nyaman yang disiapkan Jin, ketujuh pria itu tetap menemaniku. Kami menghabiskan waktu bersama untuk bertukar cerita hingga kelopak mataku terasa sangat berat.

"Tidurlah... Kami akan tetap di sini menemanimu sampai kamu terlelap," ucap Namjoon menenangkan sambil menarik selimut tebal hingga sebatas dadaku. Di bawah penjagaan hangat ketujuh pelindung baruku, aku akhirnya bisa tertidur lelap tanpa perlu mengkhawatirkan hari esok.

---

Matahari sudah meninggi, memancarkan cahaya hangat yang perlahan merayap masuk ke dalam kamar luas bernuansa putih dan merah itu. Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, aku merasakan tidur yang begitu lelap tanpa gangguan mimpi buruk. Mataku mengerjap pelan, menyesuaikan diri dengan terangnya ruangan, lalu menyusuri setiap sudut kamar dengan perasaan bingung yang masih tersisa.

Seketika, pandanganku terhenti pada jam dinding antik yang menunjukkan pukul 08.00 pagi. Jantungku langsung mencelos, berdegup kencang ketakutan.

"Astaga, aku kesiangan! Aku pasti akan dimarahi oleh bibi!" teriakku panik di dalam hati.

Tanpa berpikir panjang, aku langsung melompat dari ranjang, buru-buru mencuci muka, dan berlari keluar kamar menuju dapur. Otakku bekerja secara refleks, melupakan kenyataan bahwa tempat ini bukanlah rumah neraka yang selama ini mengurungku.

My husband  Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang