28. Perasaan

80 24 15
                                        

AUTHOR POV

Terlihat Kiara sedang menyuapi Moza. "Lusa kata dokter buka jahitan." Ucap Kiara.

Kringg

Kringg

"Tunggu bentar ya." Kiara sedikit menjauh dari meja makan.

"Halo?"

"......."

"Benarkah? Siapa?"

"......."

"Terus orangnya sekarang dimana?"

"......"

Moza memanggil Kiara, namun wanita itu menyuruhnya untuk menunggu. Merasa jengah ia menyendok menggunakan tangan kiri.

Bukannya makan dengan tenang, sendok yang ia pegang beberapa kali jatuh. Hal itu membuatnya kesal.

Braakk!

Suara gebrakan meja itu membuat Kiara menoleh. "Kenapa?"

"Bisakah kau berhenti dengan urusan teleponmu itu?!" Tanya Moza dengan nada tinggi.

Kiara sontak terdiam. Moza mengambil piring makannya lalu membantingnya. "Aku nggak laper!" Ia berjalan meninggalkan wanita itu.

Kiara menghela nafas, air matanya menetes. "Nyonya?"

Pak Budi tiba-tiba datang. "Saya dengar keributan tadi, apa ada yang perlu saya bantu?"

"Tidak ada Pak, sebelumnya terima kasih." Balas Kiara sembari mengmbil pecahan-pecahan beling.

"Nyonya yakin? Kalau perlu sesuatu panggil saya saja ya nya," kata Pak Budi.

Kiara mengangguk. "Iya Pak."

"Araahgg!!" Di dalam kamarnya, Moza nampak frustrasi.

Sebelum benar-benar meninggalkan Kiara tadi ia sempat melirik wanita itu sedang menyeka air mata.

Ada rasa menyesal dalam dirinya karena terlalu kasar pada Kiara. Saat Moza berbalik, Kiara sudah ada dihadapannya sembari memasang senyuman manis. "Ini di minum dulu." Ucapnya. Tak ada raut kesedihan di wajahnya yang membuat Moza semakin menyesal.

"Za?" Kiara kaku seketika saat Moza memeluk erat tubuhnya.

"Maafin aku ya, aku udah kasar sama kamu." Moza menenggelamkan wajahnya di pundak Kiara.

Kiara melepas pelukannya. Ia tersenyum menatap lelaki yang menangis dihadapannya ini. "Kamu kenapa nangis? Kamu gak salah kok." Kiara mengusap bulir air mata yang menetes di pipi Moza.

Moza menarik tangan mungil itu dan menciumnya. "Aku bingung harus bilang apa, pokoknya makasi banyak. Kamu udah sabar banget ngadepin sikap aku, tetep setia sama aku meskipun dalam keadaan gini. I Love You."

Cup!

Moza mengecup lembut kening Kiara, wanita itu tersenyum senang. "Too..." Lirihnya.

Mendengar ucapan Kiara, Moza sontak terdiam. "Kamu bilang apa?" Tanyanya antusias.

"Aku? Gak ngomong apa kok." Balas Kiara.

"Yakin? Tadi aku denger kamu ngomong deh," Kiara mengangguk menyakinkan.

"Aku gak ngomong apa-apa, Za." Moza tampak mendengus.

"Ayo minum obatnya dulu." Kiara mengambil segelas air dan beberapa butir obat.

*****

MOZA POV

Kiara terlihat sangat antusias mendengar penjelasan dari Dokter yang sedang menangani ku. Ia terlihat menggemaskan saat sedang fokus.

PUKIS MOZARELLA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang