14. Kekasih di malam ini

382 56 8
                                        

- ✿ -

Cobalah membuka jendela, fajar belum menyapa cahaya dan embun belum tuntas menguap kantuknya. Mata Juno masih lengket, belum ingin membuka kelopaknya. Namun, sang ayah nampak begitu semangat.

"Juno, ayo bangun!"

Tidak ada sahutan, hanya geraman kecil dan gerakan asal dari tubuh mungil Juno.

Jeno menyibak selimut anaknya.

Masih meringkuk, posisinya melengkung dengan boneka lucu dalam pelukannya. Mirip dengan seseorang, yang enggan tidur tanpa memeluk atau merasakan kehadiran benda putih itu.

Tangan Jen merapikan rambut Juno yang berantakan, turun kebawah mengusap pipi gembulnya. Ternyata, Juno selucu itu.

Anaknya menggemaskan.

Dengan pikiran jahilnya, Jeno mengerakkan jari menggelitik perut Juno. Menerima rangsangan dari ayahnya, Juno merasakan geli dan tertawa lemah. Jujur saja, bocah itu masih ngantuk dan lemas.

"Yang ngga mau bangun— Ayah tinggal!" Jeno menghentikan aksinya, begitupun tak membuat Juno bereaksi lebih dari sebelumnya. Bocah itu masih kekeh dengan mata yang tertutup.

"Ya udah deh, Ayah pergi sendiri nih..." Guncangan antara kunci mobil dengan gantungannya membuat bocah itu membuka mata, merespon.

"Ikut!"

"Mandi dulu!"

"Gendong!" Juno mengangkat tangan, meminta ayahnya untuk menggendongnya.

Membersihkan diri sudah selesai. Jeno dengan telaten memakaikan baju untuk anaknya, tentu yang senada dengannya juga. Diam-diam, Jeno senang mengoleksi baju yang serasi bahkan satu paket dengan anaknya.

"Ayah mau susu," Juno mengulurkan tangan kepada ayahnya, meminta minuman kotak yang sempat mereka beli.

"Nanti ya... minumnya di tempat Tante Ren. Belanjaannya di belakang, susah buat ngambil," mereka sedang menunggu lampu merah, mungkin karena lapar Juno meminta.

"Lapar ayah!" Saking antusias, Jeno melupakan sarapan. Baby Tummy milk Juno, tidak bisa menahannya. Kalau Jeno, mungkin bisa.

Setelah menggelar kain sebagai alas, Ren memangku Juno yang masih berdiri menunggunya. Jeno sedang mengambil beberapa barang yang ada di dalam mobil.

Jangan berharap lebih, mereka hanya melakukan piknik kecil-kecilan yang sederhana di area danau.

"Bunda..." panggil bocah itu.

"Ya? Ada yang Juno butuhkan?" Ren mengalihkan perhatiannya. Bocah itu melengos, menunjuk ke arah perutnya.

"Lapar..." wanita itu terkekeh.

"Kamu belum sarapan?" Ikut mengelus perut mungil yang duduk di pangkuannya.

Bocah itu mengangguk.

"Ayah cuma kasih susu, tidak kenyang..." Terlihat sedih, merubah bentuk bibirnya menjadi kerucut.

"Ada apa ini?" Tanya Jeno, selesai membawa barang-barang dari mobil. Dia ikut bergabung bersama Ren dan Juno.

"Juno lapar, ayah!"

"Aish, anak ini," mencubit sisi kanan pipi anaknya.

"Jen, tolong kemarikan keranjang itu," ucap Ren menunjuk keranjang bawaannya.

Jeno mengambil keranjang yang Ren maksudkan, mengarahkan keranjang itu di tengah-tengah mereka. Membiarkan pemiliknya membuka dan memperlihatkan isinya.

"Nah, Juno mau yang mana? Bunda bawa banyak loh..." Keranjangnya terbuka, menunjukkan apa saja isinya. Ternyata banyak makanan di dalamnya.

"Bunda yang masak, spesial untuk Juno..." Bocah itu bergerak mengambil makanan yang menarik perhatiannya. Sedangkan ayahnya diam entah kenapa.

"Jen, belum sarapan kan? Tidak usah sungkan, makanlah..."

Ren mengulurkan sandwich buatannya. Dia hanya membawa potongan buah, sandwich dan bekal makan siang. Ya begitulah, mereka menghabiskan waktunya sampai siang.

"Terimakasih,"

- ✿ -

Denting ✓ Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang