16. Sepi ku rasa hatiku

396 53 4
                                        

- ✿ -

Semingguan ini, Juno dititipkan pada neneknya. Lagi-lagi, Jeno harus berurusan dengan pekerjaannya di luar kota. Sore ini pun, pekerjaan memang sudah selesai tetapi belum tentu hari ini juga dia kembali. Selalu ada saja yang mendadak dan tiba-tiba.

Dia tidak muda seperti dulu, lebih mudah lelah dan cepat kehilangan tenaga. Di atas ranjang hotel tempatnya menginap menjadi segelintir penghilang keluh. Memang, mau dengan siapa? Dia sendirian.

Sendiri, menghabiskan malam-malam tanpa teman. Walaupun hanya untuk sekedar berbagi cerita dan saling menguatkan.

Mungkin, jika saja keluarganya utuh. Mereka sedang merangkai indahnya hidup atas tumbuhnya Juno, ikut tertawaan atas senangnya, mengobati atas jatuhnya serta menghapus air mata atas sedihnya. Berkhayal yang dia bisa, sabar dan sadar dengan realitas yang ada.

Hari ini, Jeno belum juga menelpon anaknya. Bahkan sekedar mengirim pesan atas kabarnya pun belum. Dua hari lalu, Juno tidak mau berbicara dengannya. Bukan karena merajuk atas kerinduan kepada ayahnya yang belum juga pulang, melainkan karena Ren yang memutuskan untuk pindah ke luar negeri.

Kemarin, Juno merengek dan bilang pada ayahnya untuk menyusul wanita itu. Apa dia punya hak? Tidak ada, kalaupun ada, atas apa? Yang tersisa hanya masa lalu.

Menatapnya jauh, terasa menyesakan. Hanya mampu bersyukur atas kemurahan takdir yang mendekatkannya. Namun, ada keputusan yang mengorbankan banyak hal.

Seperti, mendapat dan melepaskan.

Ren awalnya mantap dengan keputusannya untuk ikut Leo yang pindah sekaligus melanjutkan studinya diluar negeri, namun ikut meninggalkan sesuatu yang semakin dekat dengannya. Dari yang diam mengawasi, mendekat karena kesempatan dan menjauh karena pikiran. Yap, semua atas keputusannya bukan orang lain. 

"Ingin kembali?" Tawarnya kepada sang istri, yang pastinya dijawab tidak. Dia memeluk suaminya, menggeleng ribut di dalam pelukannya. Dari hati mungilnya, mungkin menjawab kembali.

Tentu, untuk pangeran kecilnya.

"Coba pelan-pelan, oke?" Ucap Leo memberi pengertian. Dia tidak pernah memaksa, semua adalah keputusan istrinya. Piyamanya basah, bahkan Ren memulai suara tangisan. Begitu kuat kah ikatan batin? Dia belum merasakannya.

Semoga saja, segera.

- ✿ -

Judulnya sepi ku rasa hatiku, kaya hati yang ngetik (⁠╥⁠﹏⁠╥⁠).


author left the chat.

Denting ✓ Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang