08. Sayang kau dimana?

415 49 0
                                    

- ✿ -

[Flashback]

Tidak ada yang mengalah antara anak dan ayah, keduanya sama kerasnya. Sang ayah terus memaksa sang anak dan anaknya selalu menolak apa yang diperintahkan oleh ayahnya.

Belum rampung urusan mereka, sang anak pergi meninggalkan rumah. Pergi menuju tempat yang menurutnya bisa menenangkan pikiran. Tempat dimana dia dan kekasihnya sering menghabiskan waktu.

Sebuah danau yang asri serta pepohonan yang rimbun. Mungkin, mampu membuat peningnya hilang sementara.

Untuk saat ini, bukan waktu yang tepat untuk menemui Ren. Ia takut, bilamana emosinya tidak terkendali dan menyakiti kekasihnya.

Entah sudah berapa kerikil yang terlempar ke arah danau. Pikirannya bercabang, seperti akar pohon beringin yang menjadi peneduh bangku yang dia duduki.

Banyak hal yang harus di putuskan, sekarang juga.

Seminggu, waktu yang dihabiskan untuk kabur. Dia tidak memberikan kabar sedikit pun, baik kepada orang rumah ataupun kekasihnya.

Seminggu itu, dia menginap di kos-kosan milik temannya. Kakaknya tidak bisa diajak mencari solusi, karena sudah memiliki urusannya sendiri. Adiknya pun juga, dia sedang menempuh pendidikan diluar negeri.

Benar-benar sendirian.

Hari ini, dia memutuskan untuk menemui kekasihnya. Dirinya akan memberitahu sebuah keputusan yang besar. Keputusan yang menyangkut dirinya dan sang kekasih.

Ia berdebat kembali.

Bukan dengan Ayahnya, melainkan dengan kekasihnya. Ren bersimpuh di depannya, meminta dirinya untuk segera pergi dari rumah itu.

Bak disambar petir siang bolong, Ren memutuskan hubungannya. Hatinya sakit dan terluka. Terkejut dan kehabisan kata-kata.

Pintunya, dia tutup. Meninggalkan tangisan yang masih terdengar. Jelas, seperti ditahan.

Kemelut, semuanya runyam.

Ayah semakin mendorongnya untuk mengambil keputusan. Dia tidak diam, mengajukan beberapa opsi pun dilakukan. Namun, sia-sia. Pria dewasa itu kekeh, terhadap semua keputusannya. Menjadikan sang anak tengah sebagai menantu kolega pentingnya. Entah masuk dalam hitungan balas budi atau penguatan hubungan, dia ingin anaknya mengambil kesempatan itu.

Bunda tidak bisa membelanya, semua konkret ada pada Ayahnya.

Ancaman ia dapatkan, dengan nama sang kekasih yang ikut terbawa. Aneh, tidak mengetahui apapun, tapi masuk ke dalam masalah yang sangat rumit. Sejengkal pun, tidak ada hubungan dengannya.

Untuk yang terakhir kalinya, dia akan menemui sang kekasih. Berharap pertemuan yang lalu, merupakan ketidak benaran.

Dia masuk ke dalam rumah kecil itu, begitu banyak kejadian yang terjadi disini. Saling berbagi dan melepas rindu, bercerita dan meledek, saling kejar dan berlari-lari pun pernah mereka lakukan.

Tidak menemukan.

Semua sisi bangunan sudah ditelusuri. Kiriman pesan sejak seminggu lalu pun, tak ada yang di balas. Panggilan yang baru dilakukan, juga sama halnya.

Tidak ada respon.

Ia berlalu, menuju salah satu kerabat yang dimiliki kekasihnya.

"Terimalah, titipan dari Ren," ucap bibi dari kekasihnya. Memberikan sebuah kotak yang tidak besar.

Ia menerimanya, sebuah surat- ada di dalamnya.

Aku ingin kita saling melupakan. Aku kita menjalani hidup masing-masing. Masih banyak cita-cita yang harus kita capai. Aku tidak mau kita saling menghalangi. Terimakasih sudah mau menemaniku. Seringlah makan makanan hangat dan tidurlah sesukamu. Aku harap kau senang, tidak ada yang melarang mu, ini dan itu. Rindukan saja, jangan paksakan saling memiliki kembali.

Renai.

- ✿ -

Denting ✓ Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang