03. Tak kurasa

728 76 2
                                        

- ✿ -

[3 tahun kemudian]

"Yah, aku mau jadi polisi!" Ucap bocah itu dengan lancar dan antusias. Juno, itu namanya. Dia pintar diusianya yang menginjak 3 tahun. Sudah lancar bicara dan melakukan hal-hal yang masih susah dilakukan anak sepantarannya.

"Kenapa jadi polisi?"

"Aku tidak suka jalan macet, klaksonnya bikin pusing! Berisik!" Gerutunya dengan muka sebal yang tentunya nampak menggemaskan bagi lelaki didepannya.

"Hey, kerjanya polisi tidak cuma mengurusi soal macet loh," perkataan ayahnya membuat Juno berpikir, dengan jari kanannya yang menempel di pelipis.

"Ya sudah, Juno jadi dokter saja!"

"Kok berubah? Tadi mau jadi polisi, kok sekarang jadi dokter? Kenapa, hm?" Alis Jeno naik bersamaan, sedikit heran dengan keinginan anaknya.

"Juno kan pintar, yah..." Sang ayah hanya bisa menggelengkan kepala. Selain cerdas, ternyata anaknya juga sangat percaya diri.

Sudah terhitung tiga tahun, dia mengurus sang putra sendirian. Awalnya memang berat, apalagi Bundanya hanya membantu ketika Juno masih bayi dan seterusnya dia melakukannya sendiri. Alasan bundanya, dia harus sering mengurus Juno agar anak itu mengenal Jeno sebagai sosok ayahnya.

Lelaki itu menjadikan Juno sebagai hadiah dan peninggalan yang tertinggal dari Anna. Juno, nama itu yang tertulis pada kertas di dalam tabung milik bayi kecilnya.

Dahulu.

Bunda dan keluarga dari Anna sudah pasti kaget dengannya yang memberi kabar tentang meninggalnya perempuan itu. Tetapi, mereka masih bisa sedikit lega, ada Juno yang terselamatkan dari kesedihan tersebut.

Masih teringat dengan apik, satu bayi kecil di dalam ruangan khusus yang tertidur nyenyak. Pada saat itu, dia hanya bisa melihat dari balik dinding kaca pembatas dan menangis bingung dalam kesedihan dan bahagia.

"Oma, Om sama Tante kapan datang?" tanya Juno dalam pangkuan neneknya.

"Sebentar lagi ya, mereka pasti datang, kau merindukan Om dan Tante mu?" Wanita itu penasaran, kenapa cucunya begitu kekeh menanyakan keberadaan anak sulung dan kekasih dari anak bungsunya.

"Juno tidak rindu, cuma mau hadiah dari Om dan Tante. Om bilang, mau belikan iPad untuk Juno dan Tante mau bawa coklat yang banyak sekali," jelas anak itu dengan enteng dan raut yang senang.

"Ehh, untuk apa? Kamu sudah bisa main gadget? Terus coklat banyak-banyak buat Juno semuanya? Nanti sakit gigi loh, mau?" Nenek satu ini bingung, kenapa paman dan calon bibi dari cucunya ingin memberikan sesuatu yang tidak berguna seperti itu.

"Yang penting jangan bilang Ayah, soalnya Ayah cerewet..." Bisik Juno kepada sang nenek.

Hari ini, hari ulang tahun Juno. Semua keluarga inti datang ke rumah ayah tunggal itu. Jeno dan Juno hanya tinggal berdua, terpisah dengan orang tua dan sudah tidak berhubungan dengan keluarga Anna. Yang hadir ada Bunda, keluarga kakaknya dan adik bungsunya bersama kekasihnya. Ayahnya sudah berpulang ketika umur Juno menginjak satu tahun karena sakit.

"Om Mark!" Teriak Juno begitu melihat pamannya datang bersama istrinya.

"Hey boy, sudah lama menunggu?" Paman anak kecil itu merentangkan tangan dan memeluk balik Juno yang berlari kearahnya.

"Mana?" Masih dalam pelukan Mark, anak itu langsung meminta hadiah yang dijanjikan.

"Astaga, keponakan siapa ini? Hanya menunggu hadiahnya saja, paman tidak dianggap ya? Aduh sedihnya..." Ucapnya mendramatisir, sambil membawa Juno di dalam gendongannya dan mendekat kepada sang ibu yang dirindukan.

"Ini dia," perempuan disebelah Mark menunjukan sebuah kontak yang dibungkus dengan kertas bergambar dan beberapa hiasan. Perempuan itu adalah istri Mark.

"Terimakasih Tante Can," bocah kecil itu langsung memeluk apa yang istri Mark berikan.

"Sama-sama sayang," Karena gemas, Chandra memainkan pipi gembul milik Juno yang duduk dipangkuan Mark.

Mereka semua berkumpul di atas karpet berbulu yang berada diruang keluarga. Ada Mark, Chandra, Bunda dan Juno.

"Seringlah datang mengunjungi Bunda, jangan lupa kalo ibu mu ini masih hidup..." Sindiran yang tertuju kepada anak sulungnya.

"Iya Bunda, aku juga tidak pernah melupakan Bunda. Bunda paham kan, aku harus mengurus perusahaan di luar negeri dan sekarang juga sedang menyambut kehadiran Mark Junior,"

Ucapan Mark membuat istrinya malu, ia belum memberitahu perihal kehamilan dari istrinya yang menginjak usia 3 bulan. Kehadiran janin itu sudah dinantikan selama 5 tahun oleh pasangan bahagia itu.

"Benarkah?"

"Iya Bun, sudah 3 bulan," ucap Haechan malu-malu kepada mertuanya. Wanita itu kaget sekaligus senang, namun berbeda dengan Juno yang merasa bingung

"Mark Junior, apa itu Om?" Dengan polosnya Juno bertanya karena penasaran.

"Bentar lagi, Juno akan punya adik..." Jawab calon si calon ayah.

"Adik, darimana?" Si kecil menjadi tambah penasaran.

"Dari sini," Mark menunjuk perut istrinya. Bocah itu mengerutkan keningnya.

"Dari perut? Seperti pup?" Pertanyaan itu membuat para orang dewasa tertawa, apalagi Mark yang memiliki humor yang terlalu rendah.

"Bukan seperti itu Juno, adik bayi bertumbuh di dalam perut ibunya, seperti Tante Can. Setelah itu, harus menunggu sembilan bulan, sekarang sudah 3 bulan. Masih kurang 6 bulan lagi. Jika sudah 9 bulan, adik bayi akan bertemu kakak Juno dan menyapa, halo kak Juno. Seperti itu..." Jelas nenek itu pada cucunya.

"Juno juga dari perut?" Tanya anak itu kembali.

"Ya, Juno juga dari perut," Jawab neneknya.

"Perut Ayah?" 

Boom!

Suara party popper terdengar menginterupsi, tiga orang masuk ke dalam ruangan dan menghampiri mereka.

"Ayah berisik!" Sambutan yang bagus dari Juno untuk ayahnya. Dia datang bersama dengan dua orang lainnya. Ada Andy dan kekasihnya, Chelin.

Mereka bertiga menghampiri Juno dan yang lainnya. Belum mereka duduk, Juno mengoceh lagi, "Tante Chelin, hari ini cantik! Bawa coklatnya tidak?" Kerlingan mata mengiringinya.

"Hey bocah kecil! Genit juga kau! Ini kekasihku." Andy mendengus sebal dengan tingkah keponakannya.

"Aduh, anak kecilnya tambah satu..." Seru Bunda menanggapi perkataan Andy, anak bungsunya.

Semua tertawa mendengar hal itu.

- ✿ -

Denting ✓ Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang