Seperti, semesta akan menyatukan mereka kembali meski tidak dalam waktu yang cepat. Atau memang seharusnya secepat yang ia minta saja? Tapi apakah itu akan terjadi ketika semua catatan hidupnya sudah mutlak tertulis?
Sekarang ini Lalice hanya bisa berharap dan menunggu kapan ingatan Jungkook kembali, agar laki-laki itu bisa menyayangi kedua anaknya. Menyuapi mereka pada waktunya makan, bermain, mengurusi kemauan mereka, entah itu hanya sekadar jalan-jalan di sekitaran rumah, atau ikut memandikan mereka bersamanya.
Semuanya begitu sangat menyenangkan jika dibayangkan, karena yang selama ini Lalice inginkan dari Jungkook selalu dikerjakan Namjoon. Bahkan Lalice tidak tahu lagi sebutan apa yang pantas untuk Namjoon dapatkan. Dia bukan lagi seperti asisten pribadi Jungkook, namun lebih seperti pengasuh Hyujin dan Ryujin sebagai pengganti Gouri.
"Ku kira kau bakalan menolak untuk aku ajak ke taman ini."
Kepala Lalice menoleh cepat ketika suara keras Jungkook membuyarkan lamunannya. Laki-laki itu sedang berlari-lari kecil menghindari serangan Ryujin dan Hyujin yang ingin bermain. Mereka begitu terlihat senang dengan tertawa lepas.
"Jika aku terus menolakmu, sepertinya ingatanmu tentang aku akan semakin sulit untuk kembali," jawabnya sembari mendudukkan diri di kursi taman.
Entah kenapa, malam ini terasa lebih lambat. Baru jam sembilan malam, dan mereka sudah berlarian di taman sekitar satu jam yang lalu.
Lalice menatap kedua anaknya yang sekarang telah berhasil menangkap Jungkook. Hyujin memukul-mukul perut Jungkook terus-terusan, sedangkan Ryujin memeluk leher Jungkook begitu kuat. Saking kuatnya Jungkook sampai terbatuk-batuk dengan bibir tersenyum lebar.
Mungkin itu yang akan terjadi nanti setelah keadaan kembali berdamai. Semesta yang akan berbelas kasih membuat keajaiban; Jungkook mengingat semua, dan hidup bahagia sebagai keluarga utuh! Atau bahkan melebihi yang sekarang?
Yang jelas, Lalice mengamini hal tersebut berkali-kali hingga tak lagi bisa dihitung.
"Begini, Lalice. Mungkin kita memang sudah menikah, dan mereka anakku. Tapi sekarang keadaannya aku belum bisa mengingat semuanya. Bagaimana jika kalian tinggal bersamaku? Siapa tahu perlahan ingatanku kembali dengan hadirnya kalian?"
Tinggal bersama adalah kerinduannya. Hal-hal yang beberapa tahun terakhir tidak Lalice lakukan, kembali akan ia kerjakan. Terlebih kedua anaknya akan semakin dekat, dan lebih mengenal sosok ayahnya. Bukankah itu ajakan yang begitu menggiurkan?
"Aku akan minta Namjoon untuk membawakan barang-barangmu malam ini juga."
Tapi tentang kesan pertemuannya bersama Jennie terus saja mengganggu pikirannya. Riwayat Jungkook soal wanita cukup membuatnya takut, apalagi laki-laki itu sedang hilang ingatan. Tahu-tahu menggunakan kebebasan dan kekayaannya untuk mencari wanita, gelar brengsek di masa lalu mungkin saja akan kembali terangkat. Dan bagaimana jika wanita itu Jennie?
"Soal Jennie, apa kau tertarik dengannya?"
Lalice cukup peka terhadap reaksi Jungkook ketika dengan spontan ia menanyakan perasaannya. Bukankah wajar jika ia menanyakan hal tersebut? Beberapa jam yang lalu, gelagat Jungkook terhadap Jennie sungguh mengganggunya.
"Tidak. Tidak. Kau tidak perlu menjawabnya karena aku sudah tahu."
Jungkook menyuruh kedua anaknya untuk menyingkir sebentar dengan lembut, kemudian mendekati Lalice yang bersedekap menatap dirinya.
"Kau mungkin takut aku akan mengkhianatimu. Tapi aku tidak akan menggunakan amnesiaku hanya untuk rasa tertarikku padanya. Aku tidak akan berbuat gila, karena aku tahu kau menganggapku suamimu."
KAMU SEDANG MEMBACA
CANDU
Romance"Buaya jantan saja kalau pasangannya mati lebih memilih sendiri sampai akhir. Kalau begitu kau termasuk dalam spesies yang mana? Kata pria yang melekat dalam dirimu itu patut untuk dipertanyakan." Apyeon [ CANDU ] 2
