Chapter 12 - Terlanjur Basah

2.3K 243 25
                                        

●●

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

●●

Judulnya emang rada ga nyambung sih, tapi ...

●●

Sangat menyedihkan rasanya ketika Lalice harus berhadapan dengan wajah tampan Mingyu yang menegang. Lalice tidak mengerti lagi dengan dirinya sendiri, kenapa ia harus sepeduli itu dengan Mingyu? Padahal selama ini Lalice hanya menggunakan nama Mingyu sebagai alibi untuk ia dapat mengetahui bagaimana reaksi Jungkook. Namun sepertinya semua itu harus berakhir dengan cepat. Lalice tidak mau memberikan harapan yang begitu besar terhadap Mingyu. Karena bagaimana pun juga, Lalice tidak mungkin berpisah dengan Jungkook.

"Jadi sejak kapan kau kembali ke rumahnya?"

Lalice menyeruput coklat panasnya tanpa mengangkat wajah meski ia tahu Mingyu sedang menatapnya.

"Semalam," jawabnya begitu singkat.

Terdengar dengusan tawa lirih, dan Lalice pada akhirnya menatap Mingyu yang tengah melepaskan kaca mata yang bertengger di hidungnya.

"Pada intinya kau ke sini menemuiku untuk menyudahi rencanamu, sekalian menyuruhku untuk berhenti mengharapkan dirimu. I see," katanya kembali menatap Lalice.

Wajah Lalice berganti cemas. Takut kalau-kalau Mingyu akan marah besar dengan mengatainya bodoh. Namun Lalice tidak mengerti bahwa sedari awal Mingyu telah menyimpan banyak catatan risiko dari tindakannya. Mingyu sadar betul jika mengharapkan Lalice merupakan hal terkonyol yang dia lakukan. Jadi sebelum mereka ada di titik ini, Mingyu tidak pernah melupakan risiko-risiko tersebut.

"Tidak apa-apa. Aku mendukung apa pun keputusanmu. Semoga kau bisa segera menemukan kebahagiaanmu lagi."

Lalice menatap Mingyu dengan gamang. Sebenarnya bukan perkara bahagia atau tidak bahagia. Lalice hanya perlu menegaskan; jika dengan bersama atau tidaknya ia dan Jungkook, ia masih merasa lengkap sebab ikatan pernikahan tetap ada. Walau sempat ia bermasalah dengan kata cerai, keyakinan bahwa Jungkook memang diciptakan untuknya begitu kuat.

Akan tetapi ia langsung meragu ketika ia keluar dan melihat Jungkook bersama Jennie di depan restoran lain. Entah ada urusan apa kali ini, yang jelas Lalice tidak ingin menemukan kebohongan dari Jungkook.

Maka sepulangnya Jungkook beberapa jam kemudian, Lalice langsung menyambutnya dengan menuangkan minuman dingin. Menyuruhnya duduk dan menyiapkan makanan. Lalice masih menahan emosinya karena semua yang ia lihat tadi juga belum tentu benar. Dan setelah Jungkook selesai makan, Lalice menatapnya.

"Apa kau tidak ingin menceritakan sesuatu padaku?"

Sembari mengambil minuman, Jungkook menatap Lalice. Mengangkat kedua alisnya namun dengan wajah sumringah.

"Tadi aku bertemu Jennie. Kami mengobrol sebentar dan dia menceritakan tentang kita."

Lalice mengernyit. "Kita?"

CANDUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang