Yin menarik dan membawa War ke dalam kamar, setelahnya ia melepaskan cengkramannya pada tangan War.
War menatap Yin sebal, "Kalau kau menyuruhku kembali ke kamar kan bisa dengan cara baik-baik, bukan seperti ini, menyeretku dengan kasar" ucap War dengan nada kesal, ia merasa malu pada Prom saat Yin menyeretnya seperti tadi, harga dirinya turun, bagaimana bisa seorang pria sepertinya diseret seperti tahanan oleh Yin, sungguh memalukan bagi War.
"Memangnya kenapa huh?" ucap Yin dengan nada galaknya.
"Aku bukan tahanan Yin, kau tak bisa memperlakukan aku seperti ini, kau pikir aku tidak bisa menghajar atau memukulmu, selama ini aku menahan diriku agar tak menghajarmu, aku bahkan selalu menuruti perintah ayahmu dan juga kau, andai saja aku tak datang ke rumah ini, maka sudah ku pastikan aku akan kabur jauh bersama kedua orang tuaku dan tak akan pernah berurursan dengan orang-orang seperti kalian, aku sudah muak" jelas War mengeluarkan semua isi hati yang selama ini ia pendam, harga dirinya sudah direndahkan selama tinggal disini, hidupnya diatur dan dikurung, bahkan kedua orang tuanya pun kena imbasnya. War jatuh terduduk, ia menjadi rapuh saat bersama Yin dan keluarga Wong, selama ini War adalah laki-laki yang kuat, selama ayahnya mengalami kebangkrutan, War tetap semangat menuntut ilmu sambil bekerja, ia bahkan menghajar setiap orang yang mencela atau menghina keluarganya, tapi keluarga Wong memperlakukan ia dan keluarganya seperti budak, tahanan dan diremehkan, ingin rasanya War melawan tapi apa daya uang yang berbicara.
Tubuh War bergetar, kemudian ia berjongkok wajahnya ia benamkan pada lutut, ia menangis dengan sangat rapuh, War benar-benar tak bisa menahannya.
Yin yang melihatnya merasa bersalah dan entah kenapa merasa sesak pada dadanya saat mendengar isak tangis dari War.
Yin pun berjongkok disamping War, "Maafkan aku War, maafkan keegoisanku, aku berjanji akan segera mebebaskanmu saat ada waktu yang tepat, ku mohon jangan menangis, bukankah besok aku sudah berjanji akan mengantarmu mengunjungi kedua orang tuamu, maka hapuslah tangisanmu, besok akan aku antarkan kau bertemu kedua orang tuamu" jelas Yin berusaha menenangkan War, ia mengelus lembut punggung War.
Mendengar kedua orang tuanya disebut, War mendongkakan wajahnya menatap Yin, "Benarkah hiks tolong antarkan aku kepada kedua orang tuaku" ucap War sesengukan, wajahnya kini pucat, mata sembab bahkan hidung meler.
Yin tersenyum lembut dan mengangguk lalu menghapus air mata diwajah War, "Ayo sekarang tidur, ini sudah larut malam" pinta Yin, kemudian membantu War berdiri dan mengantarnya ke atas ranjang, War pun berbaring.
Yin memberikan War sekotak tisu, "Pakai ini hapus air mata dan ingus jelekmu itu"
War tak peduli dengan cibiran Yin, ia segera menghapus air mata serta ingusnya, "Jam berapa aku bisa bertemu kedua orang tuaku?" tanya War dengan suara serak namun raut wajah War terlihat cerah saat mendengar akan segera bertemu kedua orang tuanya.
"Besok aku akan pulang lebih awal, tunggu aku dirumah, aku akan mengantarmu" jelas Yin, kemudian berbaring disebelah War.
"Jangan pulang terlalu malam, aku ingin lebih lama bersama kedua orang tuaku" pinta War memelas.
"Baik, tenang saja aku akan pulang sore, jadi tidurlah sekarang, kau tak mau bukan kedua orang tuamu cemas saat wajahmu terlihat sembab" tutur Yin, membuat War mengangguk paham, ia pun segera berbaring dan tidur menanti hari esok yang tak sabar ia nantikan.
.
.
.
Keesokan harinya.
Jam menunjukan pukul 10 pagi, War baru bangun, ia tak mendapati Yin disampingnya, itu tandanya Yin sudah berangkat kerja. Ia pun segera mandi dan ingin segera sarapan, perutnya sudah lapar.
KAMU SEDANG MEMBACA
YinWar Soporific (END)
Historia CortaAkibat War yang menjebak Yin dengan obat tidur, keduanya pun terlibat skandal yang mengharuskan mereka melakukan pertunangan palsu. Akankah benih-benih cinta tumbuh diantara keduanya? Ataukah War mampu terlepas dari ikatan pertunangan palsu ini? #Y...
