1. WAJAH YANG SEBENARNYA

94 5 16
                                        

"Oi Gin,"

Gina yang sedang berjalan menuju kelasnya menoleh ke belakang. Terlihat Nataya teman kelas yang merangkap menjadi sahabatnya sejak 4 tahun lalu sedang berlari ke arahnya. "Aish! Lo di panggilin dari tadi kenapa ga nengok nengok sih!"

Dengan santainya Gina melepaskan earphone dari telinga sebelah kiri, hal itu pun tidak luput dari pandangan Nataya. "Udah gila lo Gin! Pantes di panggil ga nengok."

"Kenapa sih lo! Masih pagi udah misuh misuh!" Jengah Gina.

Nataya menarik lengan Gina, "Yuk sambil ke kelas. Gue sebenernya lagi eneg banget sama kelakuan Mia pagi pagi. Lo tau gak? Dia tiba tiba bilang di grup kalau dia maunya sekelompok sama Gama! Ini semua gara gara Pak Eros. Kenapa sih kelas kita harus di gabung sama kelas sebelah!"

Gina cukup terkejut mendengar penuturan Nataya, memang sedari semalam ia tidak membuka aplikasi chating. Namun mendengar nama pelaku perbuatan, membuat Gina malas menanggapi. Jelas saja, Mia sudah terbiasa dengan hal itu, bersikap otoriter dan semena mena terhadap siapa saja. "Yaudah lah kaya gatau Mia aja,"

Nataya menegakkan tubuhnya, "Sembarangan lo! Lo emang mau kalau Gama di tempelin mulu sama itu mak lampir!" Sungut Nataya.

Gina memutarkan bola matanya malas, "Kaya Gama mau aja ditempelin sama dia."

Nataya terkekeh, memang benar. Se centil centilnya Mia, Gama sama sekali tidak meresponnya. Bahkan terbilang tidak perduli, namun entah mengapa ia cukup kesal dengan sikap semena mena cabai kampus itu.

****

Gina pun duduk di kursi yang biasa ia tempati, ia pun kembali memasang earphone dan kembali mendengarkan lagu. Kemudian ia memejamkan matanya, meresapi setiap lirik yang terdengar.

Tiba tiba ia di kejutkan dengan tepukan pada bahunya, kembali ia membuka mata dan manatap kesal pada sang pelaku. Namun justru bukannya merasa bersalah pelaku itu justru tersenyum manis tak berdosa, padahal ia baru saja sudah mengganggu ketenangannya.

"Lo kenapa ga bales chat gue?"

Gina memilih untuk tidak menjawab, ia kembali memejamkan matanya.

"Ginaaa......" Ucap seseorang itu kembali menganggu Gina.

"Diem Gam."

"Kenapa ga bales chat gue?" Gama berkali kali mencolek lengan Gina dengan jahil. "Ginaa.."

"Agianna Adine Raazeta."

Gina menoleh ketika mendengar Gama menyebutkan nama panjangnya. Ia sangat tidak suka ketika seseorang menyebutkan nama panjangnya. Bagi setiap orang yang mendengarnya pasti akan mengucapkan bahwa nama Gina adalah nama yang bagus dan unik. Namun tidak baginya, menurut Gina itu bukanlah suatu kebanggaan namun sebuah bencana. Dalam hidupnya hal yang paling ia benci adalah namanya sendiri.

"Grhh! Don't call me like that!"

Menyadari jika Gina mulai marah, Gama mendekatkan tubuhnya pada Gina. "Maaf ya... Ga akan lagi."

Gina hanya mengangguk tipis kemudian duduk dengan posisi yang benar. "Gue lagi pusing banget sama tugas Gam. Jadi gue ga sempet cek hp."

Gama menganggukkan kepalanya. "Oke gapapa. Gue cuma khawatir aja."

"Oh iya, katanya Tania lo kemarin ke mall ya? Dia liat lo soalnya tapi sama cewek."

Gina sempat memicingkan matanya ketika melihat tubuh Gama yang membeku. Terlihat seperti tidak menyangka akan mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Gina. "Oh.. itu.. engga.. gue kan kemarin bilang sama lo kalau gue ga kuliah, jadi gue dirumah aja karena lagi ga enak badan. Masa sih Gin gue bohongin lo."

TERIKATTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang